Apakah tawaran Pak Farid sangat menguntungkan atau justru gila? Lima siswa mengabaikan hal itu dan menerimanya, merawat seorang bayi agar Excellent batal dibubarkan.
Excellent merupakan program favorit sekolah berisi lima siswa berprestasi unggulan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Biar gue yang jagain Baby Ece, Cem." Atra melangkah melalui pemuda yang tergeletak tanpa daya di karpet ruang tengah bersama bayi cantik. Sedikit terasa berkesan, Raven memandikan Baby Ece meski dia bisa meminta Atra melakukannya sepulang sekolah—saat ini.
Raven bergumam lirih, mengiyakan. Kemudian bangkit dengan siswa tenaga. "Gue mau mandi dulu, kalo gitu."
Di dapur, Yaya melahap cookies sebelum menutup kembali toplesnya. Dia menyadari sang pimpinan di sana mengambil sebuah buku di dekat meja kecil. "Biar gue aja, At. Ada yang perlu lu kerjain, 'kan?" Dia mengangkat dagu, menunjukkan benda tersebut,
"Gimana persiapan prestasi lu?" Atra ingin memastikan.
"Seenggaknya gak lebih banyak kurangnya dibanding kerjaan lu yang belum selesai." Senyum miring Yaya mengembang. Dia melangkah menghampiri. Menempuk pundak Atra.
"Aku capek, habis latihan lama." Den berlari dari kamarnya, menggunakan baju tidur warna-warni bernias tokoh kartun berbentuk mobil. Langsung mencubit pipi Baby Ece sesaat setelah sampai di sebelahnya
Yaya tertawa melihat wajah bulat Baby Ece kian menggemaskan akibat ulah rekannya. "Lihat, gue sama Den bisa jagain Baby Ece."
Atra mengangguk. Memang ada benarnya dia mencari waktu luang sekarang. Sebagai pimpinan, Atra perlu membuat laporan perkembangan Excellent beserta kegiatan-kegiatan kepada petinggi sekolah—para ayah dari anggota Excellent, kecuali Sadi.
Selain itu, Atra kerap dipanggil untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait keadaan Excellent. Tak lupa, dia juga rutin meminta saran atau konsultasi terkait apa yang perlu dilakukan atas Excellent.
"Gue tinggal bentar, ya?" Atra membawa buku dan beberapa lembar kertas dari meja ruang tengah, menuju kamarnya.
Selama ini dia telah membual kepada Petinggi Sekolah bahwa waktu mereka sedikit tersedot karena membahas rencana setelah lulus SMA. Padahal, mereka kerap absen dari kelas karena sebenarnya harus mengurus Baby Ece.
Apa yang ditulis di laporan, apa yang dikatakan tiap kali pertemuan bersama petinggi sekolah, Atra harus terus membuat skenario palsu agar akal-akalannya tak ketahuan.
Di sisi lain, Den melonjak-lonjak tanpa henti. "Bang! Bang! Tadi Baby Ece ngadep ke aku, sekarang udah ngadep ke Bang Yaya! Kok bisa?"
"Kalo Baby Ece muter dalam kecepatan tinggi, bisa terbang kayak baling-baling kali, ya?" Yaya tertawa.
Baby Ece mengoceh terus-menerus, tatapannya tak berpindah dari satu titik. Seperti ingin menggapai sesuatu. Yaya mengikuti arah pandang, lantas menyadari apa yang dimaksud bocah itu.
Kotak organizer peralatan sekolah milik Sadi—dia punya dua, yang lebih lengkap ada di ruangannya—di bagian bawah rak meja belajar ruang tengah.
"Gak boleh ...." Den memelas. Kemudian melirihkan suara, "Itu punya Kak Sadi. Kalo sampai berantakan sedikit aja, bahaya ...!"
Seakan-akan mengerti ucapan Den, Baby Ece mengoceh semakin kencang. Alisnya juga berkerut, selayaknya orang kesal. Dia tak mau berhenti. Tengkurap, menyangga tubuh menggunakan siku, masih sempatnya mengangkat satu tangan.