Apakah tawaran Pak Farid sangat menguntungkan atau justru gila? Lima siswa mengabaikan hal itu dan menerimanya, merawat seorang bayi agar Excellent batal dibubarkan.
Excellent merupakan program favorit sekolah berisi lima siswa berprestasi unggulan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Siswa kelas bimbingan OSN Fisika diberi kebebasan untuk hadir atau mengikuti rangkaian acara Dies Natalis SMA Jagadhita. Namun, itu tak berlaku untuk Yaya, dia diminta mengambil pilihan pertama tanpa boleh menolak.
Yaya mengembalikan buku yang hari lalu sempat dipinjam—sebagai alasan—seraya diam-diam menyembunyikan tas perpustakaan. Dia berjalan menuju ruang kelas bimbingan, kemudian berhenti tepat di sebelah jendela paling belakang.
Samar-samar terdengar beberapa orang. Pak Haris, yang sedang mengajar, dan tiga siswa. Salah satunya, Ranya. Yaya tak pernah mengiyakan—saat ayahnya meminta dia harus datang. Itulah mengapa, memasuki kelas tak akan dilakukan hari ini.
"Drop the beat!" Lagu yang dibawakan salah satu band SMA Jagadhita menggema seisi lapangan depan sekolah. Gerombolan siswa membuat Yaya mudah menyelinap tanpa ketahuan guru lain—dan membuatnya ketahuan bahwa membolos kelas bimbingan.
Deretan stan di pinggir panggung mana mungkin luput. Yaya telah membeli banyak kupon dari jauh-jauh hari. Secepat kilat dia menukar beberapa dengan camilan, minuman, dan beberapa stiker—salah satunya berbentuk kartun lucu satu sentimeter ditempel di pipi.
Tak lupa satu dari dua kupon Moonbucks Coffee ditukarkan. Bukan layaknya gadis yang rela repot, dia asal memotret cup minuman di tangan. Lantas diunggah di media sosial.
Mencuri-curi pandang dari samping Studio Musik Satu usai merambat sepanjang gerbang sekolah dari dekat panggung kemari. Yaya mendapati Pak Kresna baru saja meninggalkan ruang setelah terdengar samar, "Tetap latihan, Legra."
Memastikan sang guru seni budaya telah melangkah cukup jauh, Yaya bergegas menuju pintu ruangan. "Mau sampai kapan di sini?"
"Bang Yaya!" Spontan Den menoleh ke belakang. Jemarinya berhenti menari di atas piano. Dia cepat-cepat menutup fallboard, merapikan kursi, kemudian berlari ke ambang pintu.
Yaya tertawa. Mereka telah merencanakan ini saat perjalanan ke sekolah dari Apartemen Excellent tadi pagi. Den mungkin sedikit kesulitan meninggalkan studio musik, itulah mengapa Yaya menjemputnya. "Mau lihat Dies Natalis?"
"Ayo!"
Yaya membiarkan Den menggunakan beberapa kupon miliknya. Lagipula, dia juga kesulitan bila harus menghabiskan semua sendiri. Den mengincar berbagai makanan manis, seperti sekotak kukis, gulali lucu, dan tak lupa Better Sweet by Nana, serta K.Do Donuts.
Keduanya menjelajah acara di tengah kerumunan siswa dan lagu dari salah satu band sekolah menggema kencang. Perlahan-lahan, tumpukan camilan yang ditukar Den menggunakan kupon Yaya habis juga.
Tak sengaja melirik lorong, keduanya mendapati Raven berdiri satu meter di depan pintu salah kelas. Kemeja yang keluar dari celana sungguh tak mencerminkan aturan SMA Jagadhita. Kancing dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaos tim basket sekolah.
Beberapa siswa bermain basket—dengan kaos sama seperti yang dikenakan Raven—di lapangan belakang sekolah, searah lorong sehingga terlihat oleh ketiganya.