19: Baby Ece Not Alone

61 29 0
                                        

"Saya gak perlu banyak-banyak, karena yang kalian butuhkan cuma satu: semangat!" Atra seketika disambut teriakan antusias

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Saya gak perlu banyak-banyak, karena yang kalian butuhkan cuma satu: semangat!" Atra seketika disambut teriakan antusias. "Berikan semua yang terbaik, siapa tahu tiba-tiba dapat bonus surat undangan masuk Excellent buat semester depan!"

Gelora berkobar bukan main. Mustahil ada peserta acara berbagai lomba di Dies Natalis SMA Jagadhita tak tergiur oleh iming-iming program unggulan sekolah tersebut. Buktinya, siapa yang tak mengenal lima personel Excellent periode ini?

"Terima kasih!" Atra menunduk kecil dan tersenyum lebar sampai pembawa acara mengizinkannya meninggalkan panggung. Tepukan pundak mantap diterima Atra sesaat setelahnya.

"Bagus banget, kawan!" Tak heran pengurus OSIS sangat senang, antusiasme siswa-siswa peserta lomba masih terus menggema.

Atra berniat segera kembali ke Apartemen Excellent, tetapi mengurungkan niat akibat kehadiran kepala tiba-tiba. "Sedang mengawasi jalannya acara, Pak Irawan?" Tak lupa dia memasang wajah ramah.

"Gak banyak yang saya khawatirkan, OSIS sudah sangat bekerja keras." Pak Irawan, kepala sekolah, mengangguk-angguk. "Oh ya, Nak. Saya lihat rekap kehadiran di BK, kenapa anggota Excellent beberapa kali izin?"

Atra sebisa mungkin menyembunyikan reaksi tertegun. "Soal itu—"

"Terutama kamu." Mendadak permukaan bumi seolah merenggang, menciptakan pembatas antara ricuhnya orang-orang di luar sana dengan lingkaran kecil yang berisi sepasang ayah dan sang putra.

Menggenggam erat jari-jari hingga muncul sensasi perih menjalar, Atra berhasil mengembalikan kesadaran diri. "Selain persiapan prestasi, kami sudah waktunya ngurus beberapa hal lain."

"Emang karena sibuk ngurus rencana setelah lulus SMA, ya?"

Atra terdiam sesaat. Selama ini dia terus membual seperti itu—tiap kali pertanyaan serupa dilontarkan—dengan percaya diri. Anehnya, sekarang tiba-tiba keraguan menggelayuti. "I ... iya." Sesungguhnya, dia tak tahu bagaimana Pak Farid mengatur absensi mereka.

Pak Irawan lagi-lagi mengangguk, kemudian memberi nasihat singkat kepala Atra sebelum pemuda itu izin beranjak pergi.

Atra berlari menuju Apartemen Excellent. "Baby Ece!" Teriakan tak tertahan. Gadis itu tak hanya berpindah dari posisi semula, melainkan menghilang. Tanpa jejak sedikit pun.

Bergegas kembali ke halaman depan, Atra tak menemukan apa-apa. Mengitari samping apartemen, tetap nihil. Pergi ke sisi belakang, tiada tanda-tanda.

"Sial!" Keringat dingin membasahi pelipis dalam waktu singkat. Atra tahu meninggalkan Baby Ece sendirian bagai menabur garam di atas mendung ketika berharap tak hujan.

Kecelakaan mungkin banget terjadi!

Kalimat Pak Farid berputar tanpa henti di dalam kepala Atra. Bagaimana jika Baby Ece merangkak ke celah kecil perabotan atau keluar apartemen, bahkan ketahuan oleh guru lain dan dibawa ke kantor?

ExcellentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang