Apakah tawaran Pak Farid sangat menguntungkan atau justru gila? Lima siswa mengabaikan hal itu dan menerimanya, merawat seorang bayi agar Excellent batal dibubarkan.
Excellent merupakan program favorit sekolah berisi lima siswa berprestasi unggulan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Yaya!" Atra menyeru sesaat setelah memasuki Apartemen Excellent. Kebetulan seseorang yang dimaksud dan tiga rekan lainnya—masih dengan seragam sekolah—berkumpul di ruang tengah. "Besok lu sekolah aja, Debay biar ditangani yang lain bergantian!"
"Lu baru ngomong gitu sekarang?" Yaya mengerut alis kuat-kuat, raut berbalut amarah terlukis jelas. Melangkah cepat, mendekati sang pimpinan. "Gue rasa lu udah yang paling bijaksana di antara kita, tapi ternyata gue salah."
Atra mengangkat tangan setinggi dada, seolah mendorong pelan Yaya tanpa menyentuh. Namun, nihil. "Iya, gue minta maaf. Gue baru sadar—"
"Guru BK emang gak mempermasalahkan absensi, tapi ayah gue telepon!" Yaya meninggikan suara. "Lagi-lagi gue diatur, disuruh mengutamakan OSN dibanding urusan lain! Gue yang kena jadinya!"
Atra berkali-kali meminta Yaya tenang. Terlebih, si bayi yang berada di gendongannya mulai merengek—kemungkinan karena ketakutan. Namun, dia tak mendengar apa pun dan terus melampiaskan amarah dengan ucapan, juga wajahnya yang terlihat mengerikan dan memerah.
"Bawa bocah ini!" Yaya meletakkan bayi di dada Atra, lalu melepasnya tanpa menunggu rekannya sempat merespons.
Tanggap, Atra memegang bayi agar tak terjatuh. Lantas memandang Yaya yang pergi ke sisi lebih dalam apartemen begitu saja. "Gimana sih lu?" Nada bicaranya tak kalah melengking.
Tak heran Atra geram. Tadi pagi, Yaya dengan senang hati menawarkan diri untuk menjaga bayi selama seharian. Sekarang malah tiba-tiba melempar tanggung jawab kepada orang lain.
Atra menghela napas panjang. Berusaha menstabilkan emosi, bersabar. Dipikir dengan beranjaknya Yaya dapat mendinginkan situasi. Ternyata, justru kian memanas karena Raven menyahut, "Gue gak merasa tawaran Pak Farid yang kita terima itu hal baik."
"Rav ...," Atra memandang sinis, tak ingin perdebatan berlangsung lebih lama. Perubahan cara panggilan pemuda itu juga menjadi pertanda buruk tersendiri.
Raven mendecak. "Lu harusnya tahu dong, anak SMA bukanlah pengasuh bayi." Dia memang tak memekik seperti Yaya. Namun, kesan dingin dan ketus tak kalah menyebalkan.
Atra mendengus. Belum sempat berkata, Sadi mendahului, "Keputusan lu emang sangat buruk. Gue dari awal udah gak terlalu setuju, tapi kalian nerima-nerima aja. Bodo amat kalo gitu, ogah ya kalo persiapan exchange sampai terganggu."
"Gue gak mau berantem." Atra memberi sorot kian mematikan. Memberi peringatan pada dua orang di hadapannya untuk berhenti. Sesungguhnya ada Den juga, tetapi dia hanya diam sejak tadi.
"Atra, pikir dua kali." Sadi menatapnya lekat. "Bagi gue, ngerawat bayi cuma buang-buang waktu."
Atra semakin muak akan celotehan mereka. "Gue gak pake kalimat tanya, melainkan perintah. Berkaca sana! Ngerawat bayi adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan, atau Pak Farid bakal membubarkan Excellent."