Apakah tawaran Pak Farid sangat menguntungkan atau justru gila? Lima siswa mengabaikan hal itu dan menerimanya, merawat seorang bayi agar Excellent batal dibubarkan.
Excellent merupakan program favorit sekolah berisi lima siswa berprestasi unggulan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Entah berapa lama Pak Farid—memikirkan bagaimana mereka memberi nama pada si bayi dan apa yang akan terjadi setelah ini—menatap nanar. Menyadari siswanya tampak bertanya-tanya, segera ekspresi diganti. "Raven, Yaya, bisa bantuin bawa stroller dan kotak besar ke mobil saya." Lalu beralih ke bayi. "Sebelum pergi, bye bye dulu sama Kakak."
Raven memandang datar—meski tak bisa dipungkiri terdapat gemercik dalam dada—Baby Ece yang tiba-tiba merengek. Saat tatapan keduanya bertemu, si kecil itu mendadak tenang.
Hal itu membuat mata sipit Raven terbuka sedikit lebih lebar. Di dalam dirinya tak hanya gemercik lagi, melainkan gejolak yang perlahan membesar.
Di sisi lain, Yaya yang sejak tadi membuang muka, kini mencari-cari Baby Ece karena penasaran. Dia terkejut menyadari si bayi telah beralih padanya—entah mulai kapan—lalu seketika tersenyum lebar.
Perasaan serupa tak bisa merambat kepada Yaya. Justru sesuatu yang menimbulkan sensasi bak tercekik, menguasai raga. Bayi itu tak mengetahui apa-apa bahwa mereka akan berpisah, mungkin selamanya.
Gelak tawa terdengar kian kencang ketika bola mata bulat Baby Ece tertuju pada Den. Pemuda itu terkejut, membuka mulut tak percaya, merasa miris. Sedetik kemudian, dia jelas tampak kesal dan tiba-tiba lari ke sisi apartemen lebih dalam.
Den melewati ruang tengah yang pernah penuh oleh keperluan Baby Ece, tetapi sekarang hanya menyisakan barang-barang terkait persiapan prestasi masing-masing. Terlihat sama seperti tahun pertama mereka tinggal di sini.
Den tergesa-gesa menaiki tangga menuju lantai dua. Didominasi oleh ruang luas berupa studio musik pribadi miliknya. Duduk di kursi piano. "Aku gak suka Baby Ece! Aku gak suka Baby Ece karena ngerebut semuanya dan ...."
Atra menatap ujung ruang tamu, tempat terakhir kali Den terlihat. Dia menghela napas, kemudian beralih ke tiga rekan sisanya. Sorot mata Yaya dan Raven tak jauh berbeda. Sementara Sadi, meski tetap ketus, dia pasti tahu mana pilihan terbaik sesuai keadaan.
Segala hal tentang mereka terselip seketika dalam benak. Atra sesungguhnya paham apa yang masing-masing dari anggotanya inginkan, maupun bagaimana cara memperbaiki perasaan atas titik temu penuh paksaan ini.
Atra bangkit. "Pak Farid, kami belum memutuskan...."
Lantai dua mendapati Den seorang. "Aku gak suka Baby Ece karena ngerebut semua dan masih ketawa, meski denger sendiri kalo aku membencinya!" Napas terasa sulit, nyeri di leher mendorong air mata jatuh.
Keputusan telah diambil. Bila memang Den tak menginginkannya, seharusnya dia bukan diam, melainkan berbicara sejak awal. Namun, sekarang terlambat. Sampai tengah malam menangis pun, tak bisa mengembalikan waktu dan kesempatan kedua.
Den sesungguhnya tak ingin melepas Baby Ece. Dia menyayangi si bayi menggemaskan. Walau merepotkan, tetaplah lucu. Namun, iri dan emosi membuatnya menutup mata hingga asal mengikuti keputusan orang lain.