Apakah tawaran Pak Farid sangat menguntungkan atau justru gila? Lima siswa mengabaikan hal itu dan menerimanya, merawat seorang bayi agar Excellent batal dibubarkan.
Excellent merupakan program favorit sekolah berisi lima siswa berprestasi unggulan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Saya tahu kalian sudah berjuang selama tiga semester, tapi gak bisa bertahan lebih lama lagi." Pak Farid baru saja mengumpulkan lima siswa di ruangannya, belum-belum mereka dibuat terkejut. "Excellent akan saya bubarkan."
"Pak Farid, kami punya alasan buat tetap berada di Excellent." Opini Atra cukup mewakili. "Tanyalah," dia sedikit menyerongkan tubuh ke samping, bermaksud menunjuk teman-temannya, "prestasi yang terkumpul belum seberapa."
"Semua bakal percuma kalo Excellent tiba-tiba bubar, Pak Farid," Sadi, satu-satunya gadis di sana, menambahi. "Anda tahu sendiri, pertukaran pelajar akan dilaksanakan dalam waktu dekat."
Alasan kelimanya tentu berbeda, tetapi kurang lebih sama. Perjuangan memperoleh prestasi belum usai. Sementara Excellent dengan pelayanan istimewa bagi anggotanya, menjadi tempat idaman mereka.
Berbeda dengan murid reguler, anggota Excellent diberi akses lebih mudah untuk berbagai ajang prestasi. Termasuk bimbingan, transportasi, dampingan, dan lainnya. Hal itu merupakan keuntungan yang tak ingin dilewatkan lima orang siswa di sana, atau target prestasi akan sulit terpenuhi.
"Kalo kalian bersikeras ... saya ada tawaran." Pak Farid langsung disambut antusias. "Atau lebih tepatnya tantangan." Beliau menyipit, seolah sengaja memasang wajah menyebalkan agar siswanya emosi. "Merawat seorang bayi."
"Apa?" Raven kelepasan menggunakan nada ketus. Alis berkerut, melukis kental ekspresi tak suka.
"Bayi?" Den, rekan termuda, tersenyum lebar penuh semangat.
"Kayaknya gak buruk." Yaya—dia lelaki, jangan salah paham karena nama panggilannya—mendukung Den.
"Serius, hei." Sadi melepas tatapan sinis pada dua lelaki itu.
Pak Farid tersenyum masam seraya membuang muka. "Kalo kalian gak mau, ya Excellent tetap bubar."
"Gak ada tawaran lain, Pak?" ujar Atra cepat. Sekian detik memandang sang guru muda—yang hanya membalas tatapan dengan lirikan—tak ada respons, dia melanjutkan pasrah, "Baiklah, kami terima."
Sorot menusuk Sadi beralih pada Atra. Tak mau kalah, dia membalas tatapan tak kalah tajam. Dibalut aura penuh keyakinan yang memancar, Atra berhasil unggul. Membuat gadis itu melengos dan mendengus.
Pak Farid yang mengetahuinya, tertawa kecil. Sedikit gemas akan tingkah para siswa. "Kalian gak perlu khawatir, saya bakal urus absensi seumpama terpaksa meninggalkan kelas karena harus jagain bayi."
Pak Farid senang melihat reaksi Yaya. Kemudian teringat. "Syarat terakhir, gak ada seorang pun selain kita—yang ada di ruangan ini—tahu tentang keberadaan bayi di tengah kehidupan kalian."
Sekian detik Pak Farid memberi jeda. Seolah membiarkan Atra memastikan kembali apakah keputusan menerima tawaran yang dikatakan sebelumnya, tak berubah.