"Jangan sampai, hanya karna satu wanita. Nama sekolah kita bejad" ~Radil.
"Oke jam tujuh lupada harus udah ada di markas ya" ucap Gustin pada temen-temennya yang masih ada di dalam kelas, yang sedang mengobrol kan tentang hari besok. Untuk pergi ke Panti Asuhan.
"Tapi gw kek nya, mending separo ada yang di Warkop aja de bang" ucap Dino, dan di setujui oleh Athur, dan yang lain nya.
"Iya tuh bener, sekalian ke masjid dulu kan" ucap Latif, yang sadar bahwa mereka harus pergi kemasjid dulu, untuk memberikan sumbangan pada yang di masjid.
"Oke boleh" ucap Febi cepat.
Dan akhirnya, kelas XII IPA I pun sudah pulang, dan yang Athur tunggu pun akhirnya tiba.
"Gw cabut duluan" ucap Athur, dan di angguki oleh temen-temennya.
"Nunggu lama?" tanya Padilah, saat melihat Athur sudah ada di depan pintu kelasnya Athur.
"Nggk ko" jawab Athur.
"Ini kelas nya udah pulang, dari tadi?" tanya Padilah, dan di angguki oleh Athur.
"Ywdah yu" ajak Athur, yang membuat Padilah mengikuti langkah nya.
Tapi sesampainya di lorong sekolah, terlihat Doni yang sedang menunggu Padilah keluar, dari kelasnya.
"Pad, pulang bareng sama gw yu" ajak Doni sambil menggandeng tangan Padilah.
"Ishh paan sih lu" ucap Padilah, sambil menepis tangan Doni.
"Ayok balik bareng sama gw" ajak Doni sambil, menarik paksa tangan Padilah.
"Heh heh heh, lu tuh ya. Kalau si Pad gamau ya gak usah di paksa lah" ucap Athur, yang sedikit emosi.
"Gw gak ngomong sama lu" ucap Doni, lalu menarik tangan Padilah.
"Ishh, Doni!" teriak Padilah, saat Doni melepaskan tangan nya di tengah-tengah lapangan. "Gw udah bilang, jangan pernah temui gw, dan jangan pernah usik, atau pun ngajak balik bareng sama gw!" lanjutnya yang membuat murid-murid menatap ke arah keributan Padilah, dan Doni.
"Kenapa? Karna sekarang lu udah suka sama Athur iya?!" tanya Doni, dengan suara tinggi.
Athur yang melihat Doni, yang membentak Padilah pun, pergi untuk menyamperi nya.
"Heh, orang kalau udah muak, jangan di paksa untuk tidak muak" ucap Athur.
"Dasar cewek murah lu Pad" ucap Doni, dan langsung meninggalkan Padilah, dan Athur.
Padilah, yang mendengar kata-kata itupun terdiam sejenak, ada rasa sakit yang harus ia tahan dengan senyuman. Ia gak boleh lemah di depan semua orang.
"Dasar brengsekk" ucap Athur, sambil memukul Doni, yang kesakitan.
"Ada apan sih di bawah?" tanya Febi, yang membuat geng Garuda menatap ke arah pintu, dan langsung menggeleng kan kepala.
"Coba gw liat dulu" ucap Ayung, yang sedikit penasaran.
Ayung, yang melihat Athur sedang bertengkar pun langsung membalikan badan dan berteriak dari arah depan pintu kelas Febi.
"Woii, bang Athur berantem" ucap Ayung, yang langsung buru-buru pergi kebawah, untuk menahan emosi Athur.
Dan, geng Garuda. Yang mendengar temen nya berantem pun, langsung pergi kebawah. Begitu juga dengan Erna, Alaika, Biah, Amel, dan Anggi. Yang baru saja akan pergi dari halaman sekolah pun, langsung pergi keluar dari mobil menuju taman sekolah.
"Kenapa lu belain dia hah?!" tanya Doni pada Athur. "Asal lu tau ya, dia itu cewek murah. M U R A H" lanjutnya yang semakin membuat Athur, ingin sekali memukul nya hingga mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R U D A
Roman pour AdolescentsErna Nurdiana, gadis yang memiliki mata coklat, dan di sukai banyak orang karna sifat nya yang rendah hati, baik, jujur, dan ramah. Erna memiliki seorang sahabat yang sangat menyangi nya, bahkan jika mereka bersamaan, selalu coupel dengan baju team...
