Jangan lupa vote, comment ya 🥰
Ara duduk seorang diri di tepi lapangan. Matanya menyipit kala sinar terik matahari sore mengenai matanya secara langsung.
Tiba-tiba sebuah tubuh menghalangi cahaya matahari yang awalnya menerpa mata Ara secara langsung.
"Panas ya?"
Ara spontan mengangguk dan berusaha memfokuskan matanya setelah terpapar cahaya matahari secara langsung untuk melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya.
"Jay?"
Jay terkekeh. Lagi-lagi perlakuan Jay yang bisa terbilang manis itu berhasil membuat jantung Ara berdegup lebih cepat.
Apalagi di saat Jay menarik rambut under cut nya ke belakang dan meminum sebotol minuman isotonik setelahnya.
Ara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Takut jantungnya semakin tidak terkontrol. Karena nyatanya, jantungnya sudah semakin tidak terkontrol. Gadis itu juga takut Jay melihat semburat merah di wajahnya.
"Hei, liat aku aja. Jangan liat yang lainnya."
Jay menarik dagu Ara. Membuat sang empunya dagu dan dan sang empunya tangan saling bertatapan. Headband yang bertengger manis di kepala Jay membuatnya menjadi lebih keren. Ditambah lagi ia tengah menggunakan kacamata.
Kenapa ciptaan Tuhan bisa sebegitu indahnya? Untuk sesaat, Ara berharap bisa memiliki Jay. Perpaduan antara rahangnya yang tegas, tubuhnya yang proporsional, dan senyumnya yang memikat. Ah, nikmat mana lagi yang sedang Ara dustakan sekarang.
"Oi, bucin mulu elah!"
Seru seorang laki-laki. Sontak Jay menoleh ke arah sumber suara dan melihat gerombolan laki-laki yang mendekat untuk menghampirinya dan Ara. Jay sengaja mengundang teman-temannya untuk datang. Padahal hari itu bukanlah jadwal mereka untuk berkumpul. Ia hanya ingin mengenalkan Ara.
"Ra, kenalin ini temen-temen aku."
Ara menoleh ke arah gerombolan laki-laki yang berdiri tepat di belakang Jay.
"Ada Heeseung, Jake, yang kamu kenal Sunghoon, Sunoo, Jungwon, sama Ni-Ki."
Ara mengerjapkan matanya. Visual mereka semua memang tidak main-main. Munafik kalau Ara bilang mereka semua tidak tampan. Tapi setampan apapun mereka, semburat merah dan debaran di Jantung Ara hanya berlaku untuk Jay. Aneh bukan?
"Gaya banget pake aku-kamu segala. Biasa juga gue-elo."
Celetuk Jungwon yang langsung dapat jitakan kecil dari Sunoo di kepalanya.
"Tapi Jay, emang iya dia mirip banget sama si A-"
Bisik Heeseung pada Jay yang masih dapat didengar jelas oleh semua pasang telinga yang ada di sana. Ucapannya yang bernada tanya itu terhenti karena cubitan dari Sunghoon yang berdiri disebelahnya. Jay dan Sunghoon berada di pikiran yang sama sekarang. Pasti Heeseung tau semuanya karena mendengar pertengkaran di ruangan OSIS beberapa hari lalu.
Karena nyatanya, meski mereka semua teman, sulit bagi Jay untuk terbuka tentang dirinya yang dulu. Sunghoon sendiri bisa tahu karena memang terlibat sejak dulu. Tapi sebagai sahabat, ia juga sadar diri kalau ia tidak memiliki hak untuk menceritakan tentang masalah pribadi Jay.
Ara juga sedang berperang dengan pikirannya sekarang. Heeseung bilang Ara mirip dengan A. Mirip? Ara? Mirip dengan siapa? A?
"Kamu tunggu sini sebentar, ya. Aku mau ganti baju dulu. Habis ini kita mau latihan basket. Oke?"
Ara mengangguk dan tepat setelahnya, Jay pergi meninggalkannya seorang diri. Jay langsung diledek habis-habisan oleh gerombolannya.
"Aku kamu segala."
"Jadian aja dah langsung."
"Gak sekalian panggil papi mami."
Sementara Jay dan gerombolannya pergi untuk mengganti pakaian, Ara sibuk dengan pikirannya sendiri.
Jadi Jay menyuruhnya untuk menunggu hanya karena ingin mengenalkan Ara kepada teman-temannya? Memangnya dia siapa sampai harus dikenalkan? Apakah ia penting?
Ara menggeleng cepat begitu merasa sudah berpikir sesuatu tentang Jay terlalu jauh sampai-sampai pipinya memerah dan jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Mungkin Jay memang suka bersikap seperti itu. Selalu maunya sendiri.
"Kang Ara?"
Ara menoleh ke arah asal suara. Seorang perempuan menghampirinya.
"Hwang Hwa Min."
Perempuan itu mengulurkan tangannya yang langsung di balas oleh Ara.
"Ada apa ya?"
Hwa Min berdecih.
"Jauhin Jay."
"Tapi aku gak ngerasa deketin Jay."
"Gue bilang jauhin, ya jauhin! Ngerti gak-"
"Hwa Min!"
Seru jay dari jauh. Hwa Min dan Ara sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Hwa Min menatap Jay. Di belakang Jay sudah ada gerombolannya.
"Mau apa lo?"
Ketus Jay yang langsung mendapat decihan dari Hwa Min. Jay langsung menari Ara untuk berdiri di balik tubuh tingginya.
"Yang lo lakuin ini salah! Sadar, Jay!"
"Lo kalo gak tau apa-apa mending diem!"
Rahang Hwa Min mengeras. Ia pergi meninggalkan Jay dan Ara begitu saja.
"Ra? Kamu gak apa-apa?"
Ara masih menunduk dan tak menjawab. Seper sekian detik kemudian, Jay melihat punggung Ara mulai bergetar. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.
Jay tidak ingin 'lagi-lagi' menjadi penyebab gadis 'itu' menangis. Jay langsung merengkuh tubuh mungil Ara ke dalam pelukannya.
"Maaf, selalu menjadi alasan tangis itu hadir."
Lirih Jay yang tak didengar oleh Ara. Jay mengecup singkat puncak kepala Ara dengan sayang.
'Sejak dulu pun dia selalu milih elo', batin Sunghoon yang melihat hal itu dari kejauhan. Laki-laki itu menyayangkan tindakan gegabah Hwa Min. Gadis itu menolak mendengar ucapannya rupanya.
Sunghoon pun memilih berjalan ke arah Hwa Min saat melihat Hwa Min lewat tak jauh dari hadapannya. Ia meraih tangan Hwa Min dan memegang erat kedua lengan Hwa Min hingga mereka saling menatap.
"Apa yang barusan elo lakuin?"
Tanya Sunghoon selembut mungkin. Ia tidak mungkin memarahi Hwa Min saat itu juga. Gadis itu sedang menangis. Akan terlalu kasar jika Sunghoon langsung memarahinya atau membentaknya.
"Kenapa elo gak dengerin gue buat gak gegabah dan biarin Jay sama pilihannya? Dengan lo kayak gini, Jay malah semakin benci lo."
"Gue gak peduli! Gue cuman gak tahan ngeliat Ara ada di deket Jay. Yang seharusnya ada di deket Jay itu-"
"Cukup!"
Seru Sunghoon. Bukannya berhenti, tangis Hwa Min malah semakin menjadi.
"Cukup Jay aja yang terjebak sama masa kelamnya. Elo jangan."
Sunghoon menarik Hwa Min ke dalam pelukannya. Ia menepuk pelan punggung gadis itu. Gadis yang sebenarnya rapuh.
Sunghoon tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Sebenarnya ia juga tidak rela Ara menempati posisi di samping Jay.
Tapi Sunghoon sendiri tidak bisa apa-apa. Cara ampuh menghadapi orang yang keras kepala adalah dengan tetap mengalah.
Oleh karena itu, sebisa mungkin Sunghoon menahan semua rasa emosinya di depan Jay. Meski beberapa kali Sunghoon meledak, tapi ia dan Jay akan segera berbaikan.
Sunghoon melepas pelukannya saat merasa Hwa Min sudah cukup tenang.
"Sekarang, lo dengerin gue. Sama kayak yang lo lakuin setelah kejadian 'itu', jaga jarak dulu sama Jay. Kita gak bakal pernah tau apa yang bakal Jay lakuin ke elo. Gue cuman takut dia berusaha ngelakuin sesuatu yang enggak-enggak ke elo."
🌠🌠🌠
Hope you like it guys 💙🥺🦅
KAMU SEDANG MEMBACA
Before The Happy Ending || Jay Enhypen
Fanfiction[Sudah Revisi] [Completed] Kisahnya sempat terhenti karena separuh jiwanya hilang. Namun sekarang, kisah cinta itu kembali berjalan seperti semula. Menuntut sebuah akhir atas kisah cinta yang terlalu klise bagi sebagian orang. ••• Kang Ara yang akra...
