22

380 48 0
                                        

Jangan lupa vote, comment ya 🥰

Ara menatap kosong langit-langit kamarnya. Tak terasa sebentar lagi sekolah akan kembali masuk dan ia akan segera bertemu dengan teman-temannya lagi. Tatapan Ara beralih pada pigura kecil yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya.

Pigura itu berisi fotonya dan Jay di taman bermain saat merayakan akhir tahun beberapa bulan lalu. Ara terlihat sangat bahagia saat itu. Perasaan yang ia rasakan saat itu dan sekarang benar-benar berbeda. Berbeda 180 derajat.

"Kamu akan melepaskan rasa sakit dan beban berat hanya dengan ikhlas."

Ara membaca tulisan kertas ramalan fortune cookies nya yang ia simpan di pigura yang sama. Ramalan fortune cookies itu benar. Awalnya Ara mengira yang dimaksud ikhlas adalah ia ikhlas untuk bersama Jay. Jadi semua beban dan rasa sakit yang ia miliki karena bersama Jay juga akan lepas begitu saja.

Ternyata ia salah. Sepertinya Ara yang terlalu berharap. Berharap bahwa kisah cintanya akan berakhir seindah dongeng. Nyatanya, kisah cintanya bahkan terasa lebih tragis di bandingkan kenyataan di balik dongeng-dongeng itu. Hatinya hanya dipermain kan.

Lagi-lagi cairan bening meleleh di pipi Ara. Gadis itu menghapus kasar air matanya. Tak lama, terdengar suara ketukan pintu tanda ada yang sedang bertamu. Sebelum membukakan pintu, Ara mengintip melalui jendela kamarnya yang ada di lantai dua.

Takut-takut Jay yang datang. Sebab, sejak mengakhiri hubungannya dengan Jay, Ara selalu mendapat 'teror' dari Jay. Di mulai dari pesan, telepon, bahkan Jay sering sekali ke rumah Ara. Baru beberapa hari belakangan Jay menghentikan itu semua.

Ara kecewa sebenarnya. Ia merasa Jay tidak memperjuangkannya. Tapi persetan dengan perjuangan. Ara sendiri sedang berada di posisi yang bahkan tidak ingin dan tidak peduli Jay memperjuangkannya atau tidak.

"Eomma? Appa?"

Ara langsung keluar dari kamarnya dan membukakan pintu untuk orang tuanya setelah membersihkan air mata yang membanjiri wajahnya.

"Ara! Eomma kangen banget sama kamu!"

Eomma Ara langsung memeluk tubuh Ara. Begitu Ara membukakan pintu. Ara tersenyum lebar dan membalas pelukan sang eomma.

"Eomma sama appa kenapa kesini?"

Tanya Ara setelah mempersilahkan orang tuanya masuk dan menutup pintu rumahnya.

"Memangnya sebagai orang tua kita gak boleh berkunjung ke rumah anaknya?"

Tanya Appa Ara yang langsung mendapat kekehan kecil dari Ara.

"Ya udah, appa sama eomma istirahat dulu ya. Kita capek banget."

Ara langsung mengangguki perkataan laki-laki paruh baya itu.

🌠🌠🌠

Hari ini adalah hari sabtu. Sabtu terakhir dalam libur kenaikan kelas. Ara sendiri sudah siap dengan kemeja merah mudanya yang ia padukan dengan celana jeans.

"Kamu mau kemana?"

Tanya Eomma Ara sesampainya Ara di meja makan. Appa Ara juga mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca ke arah anaknya.

"Mau ke sekolah."

"Loh? Ngapain? Kan masih libur?"

Kini giliran Appa Ara yang bertanya.

"Ada pertemuan OSIS."

Ara menggigit roti dengan selai cokelat yang barus saja eomma nya oleskan. Roti itu terasa hambar tepat setalah Ara mengingat bahwa ia akan bertemu dengan Jay.

"Ara berangkat dulu, ya."

Kedua orang tua Ara langsung mengangguki izin putrinya. Ara berangkat setelah mencium tangan kedua orang tuanya.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Ara memarik nafasnya dan memejamkan mata. Setelahnya ia buang nafasnya secara perlahan.

Secara bersamaan, Ara merasakan seseorang memegang pundaknya dengan lembut. Ara membuka matanya dan menatap orang di hadapannya dengan tatapan datar.

"Ra."

Ara menepis tangan orang itu, membuat orang itu hanya bisa tersenyum kecut. Sepertinya Ara juga menolak disentuh oleh orang itu.

"Apa? Mau ngaku juga kalo kamu udah bohong kayak Jay? Iya?"

Cecar Ara. Laki-laki itu adalah Sunghoon.

"Ra, gue minta maaf. Bukan maksud gue bohong dengan bilang Hwa Min itu sepupu Jay."

"Kenapa gak sekalian aja kamu bilang kalo aku ini keponakan Jay?"

"Ra!"

Seru Sunghoon dengan tatapan menahan emosinya. Tapi ternyata sedalam itu rasa kecewa Ara.

"Gue ngelakuin itu sengaja. Tapi maksud gue ngelakuin itu biar elo gak nyari informasi tentang masa lalu Jay lewat Hwa Min. Gue cuman mau hubungan lo sama Jay baik-baik aja."

Mata Ara terasa panas. Ia mendongak menahan air matanya untuk jatuh.

"Kenyataannya apa? Hubungan aku sama Jay juga berakhir. Aku gak baik-baik aja! Sakit, Sunghoon. Sakit banget."

Ara memukul-mukul dadanya dan menangis. Sunghoon mengepalkan tangannya. Ia menyesal melakukan hal itu. Ia menyesal telah membuat gadis yang sampai sekarang ia sukai menangis.

Sunghoon langsung memeluk Ara, memberikan kehangatan dan ketanangan pada gadis rapuh itu. Beberapa saat berlalu dan Ara melepaskan pelukannya. Ia hapus sisa air matanya.

"Maaf ya, Ra."

Ara mengangguk. Ia bisa mengerti bahwa Sunghoon melakukan semua kebohongan itu demi dirinya dan Jay. Ia hanya emosi mendengar semua usaha yang Sunghoon lakukan untuk menjaga hubungannya dengan Jay tetaplah sia-sia.

"Aku juga minta maaf udah marah sama kamu."

Sunghoon tersenyum dan memegang salah satu pipi Ara. Laki-laki itu mengusap pelan pipi Ara.

"Wajar lo marah. Cewek mana sih yang gak marah ketemu cowok brengsek sejenis gue?"

Mereka pun berjalan menuju ruang OSIS. Sebisa mungkin Ara mengubur semua rasa kecewanya pada Sunghoon. Ia tahu, Sunghoon melakukan itu demi kebaikan hubungan dirinya dan Jay.

Meski tidak berakhir semulus yang Sunghoon harapkan, setidaknya laki-laki itu masih ingin menyelamatkan hubungan Ara dan Jay meski dengan jalan yang salah. Lantas? Apa bedanya dengan Jay yang juga berusaha menjaga hubungannya dengan Ara?

Bahkan Ara menolak mendengar penjelasan dari Jay. Ia langsung mengambil kesimpulan dan menutup diri dari Jay. Bukankah dirinya terlalu jahat?

Jay dan Sunghoon tidak lah berbeda. Mereka sama-sama menutupi kebenaran dan berbohong demi menjaga hubungan Ara dan Jay. Tapi, dengan sisa kesadaran yang ia miliki, Ara berusaha meyakini diri bahwa keduanya berbeda.

Jay dan Sunghoon orang yang berbeda. Bahkan seperti apapun Sunghoon, sebesar apapun rahasia yang ia sembunyikan, atau sebanyak apapun kebohongan yang ia lakukan pada Ara, hati kecilnya tidak peduli. Ujung-ujungnya ia akan memaafkan laki-laki itu.

Berbeda dengan Jay. Bahkan kesalahan sekecil apapun yang Jay buat, Ara ingat dengan baik. Bukan karena takdir yang menjadikan perempuan sebagai makhluk yang mengingat semua kesalahan kaum adam. Ara memang seperti itu, tapi untuk kasus Jay berbeda.

Ara mengingatnya karena Ara mencintai Jay. Sangat mencintai Jay. Ara ingin Jay bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi melalui semua kesalahan yang Ara ingat. Begitupun dengan Ara. Ia ingin bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi melalui Jay.

🌠🌠🌠

Hope you like it guys 💙🥺🦅

Before The Happy Ending || Jay EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang