Jangan lupa vote, comment ya 🥰
Tak terasa, hari berganti hari dan minggu berganti minggu. Secepat itu waktu berlalu dan secepat itu pula orang yang pernah mengisi hati memilih untuk pergi.
Ujian sudah berakhir dan sekarang karyawisata yang menjadi hiburan sudah di depan mata. Karyawisata yang selalu dinanti oleh semua penghuni Eggies High School.
Ara, Eun Jung, dan anak-anak kelas XI MIPA 4 sudah berkumpul di lapangan untuk melakukan absensi sebelum keberangkatan mereka menuju pantai, lokasi karyawisata bagi anak kelas XI.
Setelah absensi Ara dan Eun Jung memasuki bus.
Ara duduk di kursi yang dekat dengan jendela dan memasang earphone merah muda kesukaannya setelah itu. Bagi Ara, mendengarkan lagu dari idol kesukaannya ditambah melihat pemandangan sepanjang jalan adalah kesenangan tersendiri.
Sementara Eun Jung, gadis itu sudah nyaman dengan posisi duduknya ditambah lagi dengan bantal leher yang sudah bertengger manis di lehernya. Tak lama, terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya.
Beberapa saat kemudian, bus berjalan meninggalkan pekarangan sekolah Eggies High School menuju pantai tempat karyawisata. Mungkin, orang yang melihat Ara akan berpikir bahwa gadis itu benar-benar menyimak pemandangan selama perjalanan.
Nyatanya, Ara sibuk dengan pikirannya semenjak tadi. Kata-kata yang Jay ucapkan padanya beberapa minggu lalu terus terngiang-ngiang dibenaknya. Bagaimana tidak? Jay meminta Ara untuk menjadi pacarnya, padahal mereka bisa dibilang baru saja dekat. Apa tidak aneh?
Ara tidak munafik. Ia senang bahkan ingin sekali langsung berkata 'Ya!' dengan lantangnya. Tapi entah kenapa otaknya menolak keinginan hatinya untuk segera menerima. Ia merasa ada yang aneh. Terlebih ancaman Hwa Min juga masih begitu terasa.
"Ijinin aku jadi satu-satunya orang dihati kamu."
Lagi-lagi kalimat itu terulang dibenak Ara. Bahkan ia belum memberikan jawaban atas permintaan Jay waktu itu. Setiap bertemu Jay, Ara selalu merasa canggung. Oleh karena itu, ia lebih memilih untuk menghindar.
Tapi memang benar apa yang Jay janjikan waktu itu. Setelah hari di mana Jay menyatakan perasaannya dan meminta Ara untuk menjadi pacarnya, Hwa Min tak pernah mengusiknya sama sekali.
Tapi, Ara terlalu takut. Ara takut tentang apa yang pernah teman-teman Jay katakan tentangnya. Sebenarnya Ara mirip dengan siapa?
Terlalu banyak yang tidak Ara ketahui tentang Jay. Di satu sisi Ara ragu. Apa Ara menyukai Jay?
Jantungnya selalu berdegup dua kali lebih cepat dan bahkan wajahnya memanas saat Jay memperlakukannya dengan manis. Tetapi apa itu rasa suka?
"Hei, gak mau turun?"
Ara spontan menoleh saat merasakan kepalanya diusap dengan lembut.
"J-Jay?"
Wajah Ara dan juga Jay berada di jarak yang sangat dekat. Jantung Ara kembali tidak normal. Bahkan sekarang nafasnya serasa tertahan.
Merasa nafasnya habis dan sudah seratus persen sadar, Ara memundurkan wajahnya dan bangkit dari duduknya.
Melihat Ara ingin pergi, tangan Jay langsung menarik pergelangan tangan Ara membuat langkah gadis itu terhenti.
"Tadi Eun Jung yang nyuruh aku manggil kamu. Dia ke toilet. Katanya kamu ngelamun terus. Di ajak ngomong juga gak jawab. Kenapa? Ada masalah?"
Jay bertanya dengan lembut. Membuat Ara semakin bimbang dengan jawaban apa yang harus diberikan.
"Soal permintaan aku ke kamu beberapa minggu lalu, gak usah kamu pikirin. Jangan jadi canggung juga. Aku gak maksa. Aku bakal nunggu kamu jawab."
Jay menggenggam tangan Ara dengan lembut. Hangat.
Ara menatap raut wajah Jay dan melihat laki-laki itu tersenyum setelahnya.
"Yuk turun. Yang lain udah pada ke hotel. Kamu pasti capek seharian di bus."
🌠🌠🌠
Ara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya di salah satu kamar hotel yang ia tempati untuk bermalam selama karyawisata. Tatapannya mengarah ke langit-langit putih polos kamar itu
"Eun Jung."
Eun Jung yang awalnya sibuk merapikan barangnya terduduk di atas tempat tidurnya dan menatap Ara.
"Jadi gini."
Ara memiringkan tubuhnya dan menatap Eun Jung.
"Beberapa waktu lalu, temenku cerita. Katanya dia suka deg-degan gitu tiap cowok deketin dia. Muka dia juga suka kerasa panas gitu. Menurut kamu itu kenapa?"
Eun Jung menatap Ara dengan wajah datarnya. Seper sekian detik kemudian, gadis manis itu memutar bola matanya malas.
"Maksud lo, elo suka deg-degan sama ngerasa muka lo panas waktu Jay dideket elo? Gitu?"
Ara membulatkan matanya dan bangkit untuk duduk.
"Itu bukan aku kok. It-"
"Ra, gue emang baru jadi temen lo. Tapi gue tau banget elo kayak gimana."
Ara menunduk mendengar penuturan Eun Jung. Ia merasa bersalah tidak jujur tentang apa yang ia alami dan malah mengatakan bahwa temannya yang mengalami itu.
"Tadi waktu gue mau ke toilet, Jay nanyain elo dan gue bilang elo masih di bus. Sejak awal Jay nerima lo jadi sekretaris OSIS sampe dia nyariin lo tadi, gue tau ada sesuatu yang gak beres. Dia jatuh cinta, Ra. Dia jatuh cinta sama lo."
🌠🌠🌠
Jay memegang kedua lututnya di bibir pantai. Nafasnya terengah dan tak henti ia menoleh melihat sekeliling seperti sedang mencari seseorang.
"Hei? Kenapa harus lari, sih?"
Jay memutar tubuhnya dan merasa lega melihat sesosok gadis cantik yang sedang ia cari sedari tadi. Di tambah cahaya senja yang semakin mempercantik sosok di hadapannya. Jay hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan gadis itu.
Gadis itu berjalan mendekat dan menyeka keringat Jay yang ada di pelipisnya. Ia tersenyum setelah itu.
"Ya, aku terima kamu."
Jay mengerutkan keningnya atas perkataan tiba-tiba yang gadis itu ucapkan.
"Maksud kamu, Ra?"
"Aku ijinin kamu buat jadi satu-satunya orang dihati aku."
Ara memperlebar senyumnya. Ia sudah meyakinkan diri dan memantapkan hatinya. Baik Ara maupun Eun Jung yang menjadi teman curhat Ara, sama-sama tidak tahu apakah keputusan yang Ara ambil sudah benar.
Sebenarnya, masih tersirat keraguan dihati Ara. Keraguan yang bahkan tak bisa diatasi oleh Eun Jung ataupun Ara sendiri. Tapi Ara menguatkan hatinya. Ia yakin, keputusannya sudah benar.
Jay sendiri tersenyum tak percaya. Ia menarik Ara ke dalam dekapannya. Ara tenggelam dalam pelukan Jay. Biarlah senja yang menjadi saksi keromantisan mereka.
"Makasih, Ra."
Beberapa detik dipelukan Jay, Ara kembali di hantui dengan keputusan yang sudah dia ambil. Apakah keputusan yang Ara buat sudah benar? Apa tidak akan ada penyesalan nantinya? Apa ia akan bahagia? Apa ia tidak akan terluka nantinya?
Entahlah. Untuk sekarang, Ara ingin menjalaninya dulu. Ia akan berusaha menjauhkan segala pikiran buruknya. Ia hanya perlu berpikiran positif tentang Jay dan juga hubungan mereka. Ara tak boleh berpikiran yang aneh-aneh. Benar, bukan?
🌠🌠🌠
Hope you like it guys 💙🥺🦅
KAMU SEDANG MEMBACA
Before The Happy Ending || Jay Enhypen
Fanfiction[Sudah Revisi] [Completed] Kisahnya sempat terhenti karena separuh jiwanya hilang. Namun sekarang, kisah cinta itu kembali berjalan seperti semula. Menuntut sebuah akhir atas kisah cinta yang terlalu klise bagi sebagian orang. ••• Kang Ara yang akra...
