Jangan lupa vote, comment ya 🥰
Ara tertawa renyah mendengar lawakan Sunghoon yang duduk di hadapannya. Bahkan beberapa orang yang sedang di kantin menatap sinis meja yang ditempati dua sejoli itu.
Park Sunghoon alias Sunghoon dikenal sebagai pangeran es di Eggies High School. Bukan karena ia tinggal di tempat yang memiliki banyak es. Tapi karena sikap dinginnya.
Tidak banyak perempuan yang bisa dekat dengannya. Tentu saja mereka yang melihat Ara bersama Sunghoon akan merasa iri. Terlebih, Sunghoon masuk ke dalam jajaran the most wanted di Eggies High School.
"Ara! Gue cari in ada disini lo ternyata."
Eun Jung langsung duduk di sebelah Ara. Gadis itu sedikit terlonjak melihat laki-laki yang duduk di hadapannya. Laki-laki tampan yang murah senyum. Tidak seperti Jay, yang meski masuk ke jajaran the most wanted, auranya selalu saja menyeramkan. Mungkin dengan gantung diri saja tidak cukup untuk bisa melihat senyum laki-laki itu.
"Sunghoon ya?"
Eun Jung berusaha menebak dan langsung mendapat anggukan serta senyuman manis dari Sunghoon. Ara paham, Eun Jung melakukan itu hanya untuk sekedar mencari perhatian Sunghoon. Secara, siapa siswi di Eggies High School yang tidak kenal dengan Park Sunghoon? The most wanted yang ramah tapi juga dingin.
Sunghoon bangkit dari duduknya dan mengangkat tangannya. Laki-laki itu terlihat sedang memanggil seseorang. Hubungannya dengan orang itu sangat cepat membaik. Secepat itu pula mereka bisa berseteru tentang suatu hal.
Eun Jung dan Ara sama-sama menoleh untuk melihat siapa orang yang dipanggil oleh Sunghoon. Terlihat banyak gerombolan anak laki-laki menggunakan pakaian olahraga memasuki kantin.
"Lama banget lo."
"Sorry, lagi jam olahraga. Jadinya telat ke sini."
"Lagi jam basket?"
"Iya."
Ara menatap orang di depannya dengan tatapan kosong. Laki-laki bermarga Park blasteran Amerika itu langsung duduk di tempat yang ditinggalkan Sunghoon.
"Eun Jung pergi sama gue dulu, yuk."
Eun Jung mengerjap tak percaya dan bangkit mengejar Sunghoon ketika melihat punggung Sunghoon bergerak menjauh meninggalkan kantin.
Atmosfer canggung menemani Ara dan laki-laki itu di kantin yang cukup ramai. Ara hanya mengaduk minuman yang ada di hadapannya dan menyeruputnya meskipun sudah tidak terlihat menarik lagi.
"Hai, kamu apa kabar?"
Ara langsung tersedak oleh minumannya sendiri. Kamu? Sejak kapan orang di hadapannya bisa begitu lembut?
Bahkan di pertemuan pertama dan terakhir mereka dua bulan lalu laki-laki di depannya terlihat membenci Ara dan sempat menepis kasar tangan Ara.
"Eh? Pelan-pelan dong kalo minum."
Laki-laki itu mengambil tisu dan membersihkan sisa minuman di sudut bibir Ara. Terlihat sedikit raut khawatir di wajah tampannya.
Tunggu. Apa Ara sudah gila dengan berpikir bahwa laki-laki di hadapannya itu tampan? Tidak, pasti Ara sudah gila sekarang.
Orang-orang di kantin yang melihat kejadian itu langsung berkasak-kusuk ria. Ara memundurkan wajahnya setelah tersadar bahwa laki-laki itu sedang membersihkan sudut bibirnya dan mendengar beberapa bisikan di sekitarnya. Bahkan mereka sempat bertatapan beberapa saat.
"Jay? Kamu baik-baik aja?"
"Hm? Iya aku baik. Kenapa emang?"
"Kayaknya dua bulan lalu waktu di depan ruang kep-"
"Aku minta maaf buat itu."
Jay menundukkan kepalanya. Ara melihat siratan penyesalan di wajah Jay. Tak lama, senyum terukir di wajah manis Ara.
"Gak apa-apa kok."
Apalagi yang bisa dilakukan gadis polos seperti Ara selain menerima permintaan maaf Jay? Jay mengangkat kepalanya mendengar ucapan Ara yang menerima permintaan maafnya. Untuk beberapa saat, Jay merasa waktu terhenti.
Netranya menangkap senyum lebar dari gadis manis di hadapannya. Ia terpaku beberapa saat dengan senyum itu. Jantungnya mulai berpacu melebihi batas normal.
Tanpa sadar, nafas Jay tercekat. Senyum itu. Senyum yang hilang. Apa kini senyum itu kembali dan bisa Jay miliki? Perasaan menyesal bercampur sedih kembali mengambang di pikiran Jay. Air matanya pun mulai menggenang.
"Jay?"
Ara melambaikan tangannya di hadapan Jay. Laki-laki itu mengerjapkan matanya kemudian setelah ia sadar. Dengan segera ia menyeka pelupuk matanya.
"Eh? Iya?"
"Kamu nangis?"
"Enggak kok."
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu, sih? Kamu lagi ada masalah? Kamu tadi juga melamun."
Jay terkekeh menatap Ara dengan wajah penasarannya yang sangat lucu di mata Jay.
"Oh iya, nanti pulang sekolah kamu ada acara gak?"
Ara tampak berpikir dan menggeleng setelahnya.
"Enggak sih. Kenapa emang?"
"Jangan langsung pulang, ya."
"Kenapa?"
"Udah liat aja nanti."
Ara berpikir sejenak. Apa yang akan Jay lakukan?
"Ya udah. Balik ke kelas, yuk. Aku anter."
Jay menarik tangan Ara dengan lembut. Genggaman tangannya begitu hangat. Sekarang jantung Ara yang berdegup dengan kencang. Ara berharap Jay tak mendengar debaran jantungnya. Tapi, di sisi lain Ara juga mendengar debaran jantung yang tak kalah cepat. Apa itu milik Jay? Apa sekarang ia dan Jay sama-sama memiliki penyakit jantung? Wajahnya juga terasa begitu panas.
Tapi tidak, Ara tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mana mungkin Jay berdebar hanya dengan menggandeng tangannya? Bahkan di pertemuan pertama mereka Jay terlihat enggan menatapnya. Mana mungkin sekarang Jay malah berdebar?
Tanpa mereka sadari seorang gadis menatap mereka berdua dengan lekat dari kejauhan. Ia terlihat menghela nafasnya.
"Kenapa elo harus hadir di saat Jay udah berhasil ngelewatin masa kelamnya?"
Gadis itu menoleh saat merasakan tepukan di bahunya. Ia menatap laki-laki itu dengan tatapan yang seakan berkata, 'Kenapa?'
"Elo gak usah khawatir. Jay baik-baik aja. Sebelum dia ambil keputusan ini, dia udah ngomongin ini sama gue."
"Tapi-"
"Elo tau sendiri dia kayak gimana, kan? Keras kepala. Mau elo halangin kayak gimana juga, gak bakal bisa. Jadi, jangan gegabah."
"Gue cuman takut. Takut kalo Jay balik ke masa lalunya yang kelam. Dia kesulitan dan selalu sendirian. Gue takut."
"Elo masih ada perasaan sama Jay?"
Laki-laki itu malah bertanya hal yang keluar dari topik. Gadis di hadapannya terlihat gelagapan. Tapi, sebisa mungkin ia mengatur ekspresinya.
"E-enggak."
Laki-laki itu menyunggingkan senyumnya.
"Bahkan meski elo masih ada perasaan, gak bakal ngerubah apa-apa."
"Sunghoon, gue kan udah bilang gu-"
"Hwa Min, buat sekarang, cuman gue yang paling tau tentang lo. Gue tau elo masih secinta itu sama Jay. Tapi mau kayak apapun elo ngehalangin dia atau cinta sama dia, gak bakal ngerubah apa-apa. Perasaan dan pikiran Jay masih tentang 'dia'."
Sunghoon tersenyum dan meraih tangan Hwa Min. Ia mengusap pelan tangan putih itu.
"Lupain Jay. Elo pun harus ngejalanin hidup lo. Jangan terus-terusan berada di bawah perasaan menyesal, bersalah, ataupun rasa cinta lo sama Jay. Gue tau elo bisa. Kejadian 'itu' bukan salah lo. Semua 'itu' terjadi karena takdir dan keputusan 'dia'."
🌠🌠🌠
Hope you like it guys 💙🥺🦅
KAMU SEDANG MEMBACA
Before The Happy Ending || Jay Enhypen
Fanfiction[Sudah Revisi] [Completed] Kisahnya sempat terhenti karena separuh jiwanya hilang. Namun sekarang, kisah cinta itu kembali berjalan seperti semula. Menuntut sebuah akhir atas kisah cinta yang terlalu klise bagi sebagian orang. ••• Kang Ara yang akra...
