13

376 52 2
                                        

Jangan lupa vote, comment ya 🥰

Ara terdiam menatap lurus ke depan. Ia belum memberi jawaban pasti kepada Jay tentang pertanyaannya.

"Bisa kasih aku kesempatan kedua?"

Ara menghela nafas. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di sofa rumah Jay. Sunghoon sendiri belum menjemputnya sampi sekarang. Sebenarnya ke mana laki-laki itu? Apa yang ia lakukan bersama Hwa Min?

"Makanan siap."

Jay berjalan ke arah Ara sambil membawa dua buah mangkuk berisi sup dengan kepulan asap yang tampak menipis. Laki-laki itu. Kenapa masih sempat-sempatnya memasak makanan di saat tubuhnya sedang sakit karena kecelakaan itu?

"Makan, Ra."

Jay duduk tepat di sebelah Ara dan mulai memakan supnya. Ara sendiri hanya memandangi supnya tanpa selera. Laki-laki di sebelah nya ini memang menyebalkan. Ia pamit ke toilet, tapi malah membuatkan makan malam untuk Ara.

Laki-laki itu malah membuat Ara yang sehat, terlihat seperti orang yang tidak berguna. Menyebalkan sekali.

"Kenapa? Gak suka ya?"

Tanya Jay sambil menatap Ara. Ia letakkan mangkuknya yang sudah kosong ke atas meja.

"Gak gitu, Jay. Aku cuman gak selera aj-"

"Gak usah kamu pikir in pertanyaan aku tadi."

Jay memotong ucapan Ara seakan ia tahu apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan. Ara tersenyum kecil. Ia tahu bahwa sebenarnya Jay meresa kecewa karena ia hanya diam saat Jay bertanya demikian.

Tapi apa boleh buat? Ara masih ragu. Ia takut akan disakiti lagi oleh Jay lagi. Pikirannya masih terus bertengkar di dalam otaknya. Sampai-sampai sebuah kata pun tak mampu keluar dari mulutnya.

Ara menatap supnya lagi. Ia tersenyum dan mulai menyendok sup itu.

'Enak.'

Batin Ara. Jay memang bisa memasak. Mungkin sebagian orang mengira dengan tampang seperti itu, yang bisa Jay lakukan hanyalah memerintah.

Nyatanya Jay adalah anak mandiri ditambah lagi dengan keadaan orang tuanya yang sibuk yang menuntut Jay untuk bisa melakukan semuanya sendiri meski ada pembantu sekalipun.

"Makannya pelan-pelan dong."

Jay membersihkan sudut bibir Ara dengan ibu jarinya. Ara menatap Jay dengan lekat. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menatap Jay dengan lekat?

Jay menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Ara sekarang. Tangannya mengambil mangkuk Ara yang masih berisi sup dan meletakkannya di meja.

Ibu jarinya mengusap pipi Ara dengan lembut.

"Ra"

"Hm?"

"Boleh, kan?"

Ara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jay yang tersadar bahwa yang ia lakukan salah, langsung menarik tubuhnya menjauh dari Ara. Ia tersenyum kikuk.

"Sorry, Ra. Tadi ak-"

Ara langsung memukul pelan lengan Jay, membuat laki-laki itu sedikit meringis dan menghentikan ucapannya.

"Kenapa sih, Ra? Kok tiba-tiba mukul aku?"

"Ya habisnya kamu! Biasanya juga langsung nyosor. Sekarang malah nanya dulu. Kan aku jadi malu!"

Jay tertegun. Ara protes? Apa artinya Ara mau? Tunggu sebentar.

"Ra."

Ara tak menoleh.

Before The Happy Ending || Jay EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang