7

441 69 5
                                        

Jangan lupa vote, comment ya 🥰

Malam hari tiba. Semua siswa berkumpul di pinggir pantai. Mereka langsung dibagi ke dalam beberapa kelompok besar dan duduk mengitari api unggun.

Satu kelompok terdiri dari dua kelas. Dan tak Ara duga jika ia bisa sangat beruntung berada satu kelompok dengan Jay.

Sejoli itu duduk bersebelahan. Sangat berdekatan. Seakan tak ingin jarak memisahkan mereka. Mereka sudah persis dengan amplop dan perangko sekarang ini.

Acara pun dimulai. Ada yang menari, menyanyi, bahkan ada yang hanya memberikan lawakan-lawakan garing.

Tapi itulah masa putih abu-abu, masa yang selalu dirindukan semua orang. Kebanyakan, masa putih abu-abu menjadi tempat cinta pertama bersemi. Menggabungkan dua sejoli yang awalnya tidak saling mengenal, ke dalam suatu ikatan.

Di masa putih abu-abu juga, kebanyakan orang akan lebih banyak melakukan hal gila. Bolos contohnya. Masa putih abu-abu memanglah indah.

Tapi tak selamanya putih abu-abu itu indah. Di masa putih abu-abu kita bisa sangat bahagia menemukan cinta, tetapi bisa juga menjadi sedih kala cinta itu pergi. Tragis memang. Tapi itulah yang namanya hidup. Ada yang datang, maka akan ada pula yang pergi. Karena tidak ada yang abadi di dunia ini.

"Guys, gimana kalo kita main truth or dare?"

Celetuk seorang siswa yang langsung mendapat sorakan setuju dari anak-anak lain. Bukankah saat berkumpul seperti ini paling asyik bermain truth or dare?

Bisa mendengarkan kejujuran orang tentang cintanya, perilaku memalukannya, ataupun kebiasaan buruknya. Kita juga bisa tertawa melihat orang melakukan tantangan ekstrem seperti menyatakan cinta, atau mengatakan hal-hal aneh. Semakin banyak peserta, maka semakin asyik.

Dengan cepat, seorang siswa meletakkan sebuah botol ditengah-tengah lingkaran besar yang mereka buat, sebagai alat penunjuk.

Tak lama, botol itu di putar. Botol itu terus berputar mencari mangsa kejujuran atau tantangan yang pas yang pastinya ingin di dengar atau dilihat orang.

Sementara itu, Ara menggosokkan kedua telapak tangannya. Angin malam terasa begitu dingin menusuk tulang. Jay tersenyum tipis. Ia melepas jaketnya dan memasangkannya ke punggung Ara.

Eun Jung yang duduk di samping Ara hanya menahan gemasnya karena merasa diperlakukan seperti nyamuk.

"Eh? Jay gak usah. Aku udah pake sweater. Kamu pake aja jaketnya."

Jay menggeleng.

"Dingin banget. Nanti kamu malah sakit."

Ara menatap tubuh Jay yang juga terlihat sedikit gemetar menahan rasa dingin. Bagaimana tidak? Jay hanya mengenakan kaos tipis di cuaca dingin seperti saat ini. Bukankah ia seperti orang bodoh? Siapa pun tahu angin malam bukanlah hal yang bagus untuk kesehatan. Tapi laki-laki itu hanya menggunakan kaos tipis. Apa ia ingin pamer?

"Kamu menggigil. Kamu pake aja jaketnya. Aku gak apa-apa."

Ara melepas jaket yang Jay berikan dan mengembalikannya pada Jay. Jay menolak dan memasangkan kembali jaketnya pada Ara.

"Elo berdua ribet banget. Kalo gak mau pake jaketnya, sini kasih ke gue. Gue aja yang pake."

Eun Jung yang gemas sejak tadi akhirnya angkat suara. Jay dan Ara sama-sama menatap Eun Jung dan terkekeh.

Eun Jung mendengus dan merapatkan jaketnya. Sementara itu, Sunghoon yang sejak tadi menjadi pengamat hanya bisa tersenyum kecut. Ia sudah tahu Ara menerima perasaan Jay yang artinya sekarang mereka adalah sepasang kekasih. Bahkan ia melihat sendiri sejoli itu berpelukan di tepi pantai saat sore hari.

Itu berarti, lagi-lagi ia ditolak. 'Sama seperti dulu'. Selalu Jay yang dipilih dan bukan dirinya. Terkadang, ia marah. Kenapa harus Jay? Ralat. Kenapa harus 'selalu' Jay? Entah itu di masa lalu ataupun sekarang. Apa itu berarti sampai kapan pun, Sunghoon tidak akan mendapat kesempatan?

"Pake ya. Nanti hipotermia kamu kambuh."

Ara menatap Jay tidak percaya. Apa yang Jay bilang barusan? Hipotermia?

"Halu ya, lo? Sejak kapan Ara punya Hipotermia?"

Eun Jung menatap Jay dengan tatapan aneh. Ara menoleh ke arah Eun Jung dan kembali menatap Jay setelahnya.

"Aku kan gak punya hipotermia, Jay."

Ara menatap Jay dengan tatapan dinginnya. Sunghoon yang melihat itu menghela nafasnya. Begitu juga Hwa Min yang duduk tak jauh darinya. Ia terlihat menatap Jay dengan lekat.

Sunghoon yakin, ia dan Hwa Min memiliki pikiran yang sama sekarang. Jay masih belum bisa lepas dari masa lalu kelamnya. Masa lalu itu masih membayangi raga Jay.

"Ra, mak-"

Ucapan Jay terhenti begitu anak-anak lain ricuh menyebut nama Ara. Yup, sekarang giliran Ara memilih truth atau dare.

"Ah, aku pilih truth aja."

Tepat setelah Ara memilih, pertanyaan demi pertanyaan langsung datang dari teman-temannya. Tetapi, dari semua pertanyaan yang ia dapat, ada satu pertanyaan yang berhasil membuatnya bungkam.

"Elo punya pacar?"

Ara tak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Ia tampak berpikir dan menimbang apakah ia harus mengaku bahwa Jay adalah pacarnya sekarang?

Tiba-tiba Jay memecah keheningan dan membuat pipi Ara bersemu setelahnya. Anak-anak yang ada disitu juga langsung berteriak dengan riuh menyoraki pasangan baru itu.

"Gue pacar Ara."

Dengan adanya pengakuan itu, segala pikiran miring tentang Jay sirna begitu saja. Tak pernah adanya kaum hawa didekat Jay mengakibatkan banyaknya kabar miring. Di mulai dari Jay yang suka sesama jenis atau bahkan sampai gangguan mental juga seksual.

Tapi sekarang, semua sudah jelas. Jay adalah laki-laki normal dan Ara adalah pacarnya. Setelah pengakuan itu, Ara sama sekali tak mengingat perihal Jay yang bilang bahwa ia mengidap hipotermia.

Tapi semua pikiran buruk kembali menghinggapi Ara kala ia dan Eun Jung sudah kembali ke kamar mereka. Eun Jung masih bertanya-tanya. Sebenarnya siapa yang mengidap hipotermia? Mengapa Jay tiba-tiba mengatakan bahwa Ara mengidap hipotermia?

Ara langsung teringat dengan perkataan teman-teman Jay bahwa Ara mirip dengan seseorang. Apa itu berarti Ara mirip dengan seseorang yang sangat berpengaruh bagi Jay?

Ara menghela nafasnya dan duduk di tepian tempat tidur. Ia menatap pintu kamarnya dan Eun Jung. Pintu yang menjadi tempat Jay dan Ara berpisah beberapa saat lalu. Eun Jung yang ada di toilet, membuat Ara banyak waktu untuk memikirkan semuanya dengan suasana tenang.

Jay pacar Ara dan Ara pacar Jay. Tapi dari itu semua, Ara merasa hanya Jay yang tahu tentang dirinya. Jay tak pernah sekalipun terbuka pada Ara. Ara tidak tahu di mana rumah Jay, keluarga Jay, ataupun kesukaan Jay.

Sepertinya, ada yang mencurigakan dari hubungan Ara dan Jay. Tapi Apa? Lagi-lagi Ara menghela nafas. Bahkan sesulit ini hanya untuk bisa memahami tentang Jay. Ara berharap, semua yang buruk hanya berada di pikirannya dan tak pernah terjadi.

🌠🌠🌠

Hope you like it guys 💙🥺🦅

Before The Happy Ending || Jay EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang