12

378 57 0
                                        

Jangan lupa vote, comment ya 🥰

Sunghoon memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Jay. Sejak awal berangkat dari rumah Sunghoon, Ara hanya terdiam. Ia memilih bungkam. Dan sejak saat itu pula, mobil Sunghoon hanya penuh dengan isakan dari Ara.

"Ra? Lo gak mau turun? Kita udah 10 menit diem di sini."

Ara masih diam. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia sendiri masih ragu dengan Jay. Haruskah ia bertemu dengan Jay?

Ah, padahal baru beberapa saat lalu ia menyesali kejadian yang menimpa Jay. Kenapa sekarang ia malah ragu begini? Kenapa ia jadi plin-plan? Kenapa-

Segala pertanyaan yang muncul dibenak Ara berhenti begitu saja. Karena beberapa saat kemudian, Ara dan Sunghoon sama-sama melihat siluet seorang gadis keluar dari rumah Jay sambil terisak.

Sunghoon yang tampak panik dan khawatir langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri gadis itu. Laki-laki tampan itu mendekap tubuh gadis yang tampak semakin sesenggukan di depan rumah Jay.

"Hwa Min?"

Lirih Ara. Kenapa Hwa Min ada di rumah Jay? Apa yang ia lakukan? Lagi pula kenapa Sunghoon memeluknya seolah Hwa Min adalah orang yang penting baginya? Ara yang penasaran langsung turun dari mobil Sunghoon dan mendekat ke arah dua orang itu.

"Ra, lo masuk duluan aja. Lo tau kan kamar Jay yang mana? Gue pergi dulu. Nanti gue balik lagi."

Sunghoon langsung membawa Hwa Min menuju mobilnya. Gerak-geriknya seakan ia menutupi identitas Hwa Min padahal Ara sudah tau bahwa orang itu adalah Hwa Min.

"Elo kenapa bisa ada di sini?"

Tanya Sunghoon pada Hwa Min begitu keduanya sudah memasuki mobil Sunghoon. Hwa Min yang tampak masih sesenggukan menatap Sunghoon.

"Tadi gue ketemu Jay di jalan. Dia lagi berantem sama salah satu pengendara mobil di pinggir jalan. Gue samperin dan ternyata dia agak mabuk. Gue bantu dia selesai in masalah sama pemilik mobil karena ternyata Jay nyerempet mobil itu pake motornya. Karena gue khawatir, gue ikutin Jay sampe rumahnya."

Sunghoon menatap Hwa Min dengan seksama. Gadis itu bicara dengan suara yang terdengar sejelas mungkin meski masih terdapat isakan. Kemudian, ia melanjutkan kalimatnya.

"Habis itu, Jay marah sama gue. Di-dia masih sebenci itu sama gue ternyata. Jadi gue telpon lo biar lo bisa rawat Jay. Gue gak nyangka di-dia masih salahin gue at-"

Sunghoon langsung menarik Hwa Min ke dalam pelukannya. Ia tidak ingin Hwa Min melanjutkan kalimatnya karena ia tahu apa lanjutan dari kalimat yang membuat gadis itu semakin terisak. Jay masih menyalahkan Hwa Min atas kematian 'dia'.

Sementara itu, Ara masih sibuk dengan pikirannya di depan pintu rumah megah Jay. Sebenarnya siapa Hwa Min? Kenapa Sunghoon sangat melindungi gadis yang seakan rapuh itu? Padahal waktu itu Hwa Min bilang pada Ara untuk menjauhi Jay dengan sangat ketus.

Suara petir yang cukup keras langsung menyadarkan Ara dari segala pikirannya. Ara menggeleng cepat dan menatap pintu besar di hadapannya. Apa ia harus masuk ke dalam sana dan mengecek keadaan kekasihnya?

Atau sebenarnya mereka bukan kekasih lagi? Lagi-lagi Ara menggeleng dengan cepat. Seper sekian detik kemudian, hujan deras turun. Ara yang hanya memakai dress tipis yang awalnya untuk pergi bersama Sunghoon langsung merasa kedinginan.

Ia menggosokkan kedua telapak tangannya. Tiba-tiba seseorang menariknya ke dalam rumah. Ara yang kaget langsung saja merespon dengan mengikuti tarikan itu. Tepat saat di dalam rumah Jay, posisinya terkunci. Ia bersandar di pintu utama rumah Jay, di bawah kungkungan Jay.

"Di luar dingin. Kenapa gak masuk aja? Nanti kamu sakit, hm?"

Ara menelan ludahnya. Jay berbicara tepat di telinga Ara. Bahkan sekarang Ara bisa merasakan nafas hangat Jay yang menerpa leher jenjangnya. Hidungnya juga bisa mencium aroma alkohol.

"Ja-Jay, bisa mundur gak?"

Jay menjauhkan wajahnya dari telinga Ara.

Mata Ara langsung melihat luka kecil di pipi Jay. Luka goresan yang bahkan masih mengeluarkan darah.

"Kenapa? Khawatir ya sama aku? Mangkanya kamu kesini?"

Jay beralih dan duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Ara memutar bola matanya malas. Tak bisa ia pungkiri ia khawatir dengan keadaan Jay. Ara mengikuti Jay dan duduk di samping Jay. Ia menatap Jay.

"Apa?"

Tanya Jay dengan penasaran. Ara membuang wajahnya. Bahkan di saat terluka pun Jay masih terlihat tampan.

"Sunghoon yang mau kesini."

"Tapi kamu juga khawatir kan sama aku? Itu mata kamu sembab."

"Apa sih. Gak usah sok tau deh."

Jay mengacak pelan puncak kepala Ara.

"Kok kamu bisa sama Sunghoon?"

Tanya Jay lagi. Kini ia menatap Ara dengan tatapan menyelidik. Ara yang hanya menatap kosong ke depan tidak sadar dengan tatapan menyelidik Jay.

"Tadi aku diajak Sunghoon ke rumahnya. Mau-"

"Dinner?"

Ara langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jay.

"Jadi bener? Kamu sama Sunghoon mau dinner?"

"Kok kamu tau?"

Jay memajukan dagunya ke arah tubuh Ara.

"Baju kamu udah nunjukin kalik, Ra. Lagian kalo kamu keluar di jam-jam segini, terus ke rumah Sunghoon, ngapain lagi kalo bukan mau dinner? Kerja PR? Gak mungkin. Kamu itu gak bodoh, begitu pun Sunghoon. Main kartu? Ya kalik."

"Ini gak kayak yang kamu pikirin. Ak-"

Jay tersenyum. Ia mengecup singkat bibir mungil Ara.

"Iya aku percaya kok sama kamu."

Diam-diam Ara merasa lega mendengar penuturan Jay. Sebenarnya apa sih yang Ara inginkan sekarang ini? Padahal ia sendiri yang meminta untuk break, tapi ia sendiri juga yang takut Jay berpikiran yang tidak-tidak.

"Ra."

"Hm?"

"Bisa kasih aku kesempatan kedua?"

"Maksud kamu?"

Ara merutuki dirinya sendiri kali ini. Untuk apa ia bertanya hal yang sudah ia tahu jawabannya?

"Aku tau kemaren aku salah. Aku minta maaf. Aku mohon, kasih aku kesempatan kedua."

"Kesempatan kedua buat bukti in kalo dihati kamu emang adanya cewek lain dan bukannya aku?"

Jay menghela nafasnya kasar. Ia langsung mengerang dan mengacak rambutnya frustasi.

"Gak gitu, Ra. Aku gak bisa. Aku gak bisa tanpa kamu. Kamu liat sendiri sekarang aku sehancur apa."

Ara hanya diam. Ia bingung harus bilang apa. Tapi Ara pun tahu bahwa Jay sehancur itu. Langkah apa yang sekarang harus ia ambil?

"Ra, jangan diem aja dong. Kasih aku jawaban."

Sunyi. Ara masih nyaman dengan diam nya. Mungkin bagi Jay, diam nya Ara berarti ia akan menolak permintaan Jay. Tapi Jay salah besar jika memiliki pikiran seperti itu.

Untuk sekarang, diam nya Ara bermakna gadis itu sedang menimbang langkah apa yang harus ia ambil. Menyerahkan lagi hatinya yang sudah terluka dan terlampau kecewa atau bahkan mengakhiri semuanya di sini.

🌠🌠🌠

Hope you like it guys 💙🥺🦅

Before The Happy Ending || Jay EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang