Jangan lupa vote, comment ya 🥰
Ara menatap dirinya dipantulan cermin kamarnya. Gaun selutut berwarna merah muda dengan sepasang flat shoes berwarna senada memberikan kesan manis pada diri Ara.
Ditambah lagi dengan make up tipis dan rambut panjangnya yang terurai. Sepertinya ia sudah mirip dengan putri kerajaan.
Hari ini, tepat 3 bulan Ara menyandang status sebagai kekasih Jay. Selama itu juga ia jarang melihat Hwa Min di sekolah. Jay benar-benar menghempaskan segala ketakutan Ara. Entah apa yang sudah Jay lakukan pada Hwa Min.
Terkadang Ara melihat Hwa Min berbincang dengan Sunghoon. Mereka terlihat sangat Akrab. Ara tidak tahu apa hubungan mereka sebenarnya. Tetapi mereka terlihat seperti... Teman lama?
Entahlah. Baik Jay maupun Sunghoon, sangat sulit untuk terbuka. Seakan Ara adalah seseorang yang memiliki makna tersendiri bagi mereka.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Ara. Ara segera mengambil sling bag nya dan pergi menemui sang pengemudi.
"Hai."
Sapa Ara setelah memasuki mobil. Sang pengemudi tersenyum menatap gadis di hadapannya.
"Cantik. Masih sama seperti dulu."
Gumam pengemudi itu yang tak gagal ditangkap oleh telinga Ara. Ara sempat mengernyit dan merasa bingung. Sama seperti dulu? Teka-teki apa lagi ini?
Sudah cukup Ara yang selalu mendengar gumaman aneh dari Jay yang kenyataannya selalu bertolak belakang dengannya. Setelah karyawisata pun Ara mati-matian menutup pikiran negatifnya tentang Jay.
Tapi sekarang, ia kembali mendengar hal seperti itu. Ada apa sebenarnya dengan masa lalu? Apa hubungan Ar-
Ah, sudahlah. Ara tidak ingin terlalu memikirkan masalah tidak penting di hari spesialnya dengan Jay. Ia tersenyum dan berusaha menetralkan ekspresinya.
"Jay? Kita gak jadi dinner di rumah kamu?"
Ara melambaikan tangannya di hadapan Jay yang terlihat melamun. Jay langsung mengerjap.
"E-eh? I-iya jadi kok. Kita berangkat sekarang ya."
Jay pun mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Ara.
🌠🌠🌠
Ara terkagum saat memasuki rumah Jay untuk pertama kalinya. Rumahnya begitu megah dengan tampilan vintage.
"Yuk ke meja makan."
Jay menggandeng tangan Ara dan membawanya menuju ruang makan.
"Orang tua kamu ke mana?"
Ara bertanya setelah tersadar betapa sepinya rumah megah itu.
"Kerja. Biasanya sampe malem. Bahkan kadang gak pulang."
Jay menarik kursi supaya Ara bisa duduk dengan lebih mudah. Lalu ia beranjak duduk tepat di hadapan Ara. Kini, mereka hanya di batasi oleh meja makan.
"Jadi kamu selalu sendirian?"
Tanya Ara dengan nada sedikit iba.
"Enggak. Aku sama pembantu."
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar sambil membawa kereta makanan yang penuh. Wanita itu sempat sedikit terkejut saat melihat Ara membuat Ara sedikit kebingungan. Bahkan Ara lihat, wanita paruh baya itu sedikit gemetar.
Jay tersenyum dan bangkit dari duduknya. Ia menyuruh pembantunya pergi dan meletakkan makanan yang pembantunya bawa menggunakan kereta. Laki-laki itu menata semua makanan dengan rapi di atas meja makan.
Ara dan Jay pun memulai makan malam mereka. Makan malam untuk merayakan 3 bulan kebersamaan mereka. Hening tapi tidak canggung. Suasana itu yang Ara dan Jay rasakan. Tidak canggung karena setidaknya masih ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Sesekali Ara mencuri pandang dengan menatap Jay dengan lekat. Lelaki itu tampak tampan dengan kemeja putih dan kacamatanya.
"Ngeliatnya biasa aja kalik. Aku tau aku ganteng."
Ara sedikit terperanjat saat Jay sadar kalau dirinya sedang mencuri pandang.
"Nonton film, yuk."
Jay langsung bangkit dari duduknya setelah Ara mengangguk. Ara berjalan tepat di belakang Jay. Mereka berjalan menuju kamar Jay. Sesampainya di kamar Jay, Ara sedikit terpana dengan keadaan kamar Jay.
Rapi, bersih, dan harum. Tiga kata yang bisa menggambarkan keadaan kamar Jay. Ara duduk di atas tempat tidur Jay selagi Jay mempersiapkan pemutar film. Mata Ara menatap lekat sebuah pigura kecil yang ada di sebuah nakas di samping tempat tidur yang terletak di kamar Jay.
Foto 4 orang anak kecil yang sedang asyik bermain di pantai.
"Ini siapa Jay?"
Tanya Ara sambil menatap lekat pigura kecil yang sekarang ada di tangannya. Jay menoleh.
"Itu aku sama temen-temenku."
"Yang 2 cewek?"
"I-iya."
"Siapa aja nama mereka bertiga?"
"Yang cowok Sunghoon."
"Sunghoon? Lucu banget, ya."
"Lucuan aku kalik."
"Iyain. Yang cewek?"
Jay terdiam. Ia tak menjawab.
"Yang cewek siapa, Jay?"
Tanya Ara lagi. Jay beralih dari posisinya. Ia membuka laci dan mengambil sebuah kotak kecil dari sana. Jay berjalan mendekat dan mengambil pigura yang ada di tangan Ara. Ia membuangnya asal.
Untung saja lantai kamar Jay dilapisi karpet. Kalau tidak, mungkin sekarang pecahan kaca sudah berserakan. Jay mengeluarkan isi kotak itu dan memakaikan isinya pada Ara.
"Ini apa Jay?"
"Kalung. Itu buat kamu."
"Buat aku?"
"Iya. Warna biru kan kesukaan kamu."
Biru? Bahkan dengan melihat pakaian Ara saja seharusnya Jay tau bahwa merah muda adalah kesukaan Ara.
"Kamu suka?"
Tanya Jay. Ara hanya terdiam sambil memperhatikan liontin kalung yang sudah bertengger manis di lehernya. Sebenarnya ia bertanya-tanya. Kenapa bisa Jay berpikiran bahwa warna biru adalah warna kesukaannya?
"Iya, aku suka."
Jawab Ara beberapa detik setelahnya. Ara harus mengesampingkan semua masalah yang ada di pikirannya sekarang. Ini adalah hari yang membahagiakan baginya dan juga Jay. Ara harus bisa menahannya. Ia tidak ingin hari bahagianya dan Jay berantakan begitu saja hanya karena pikiran negatif tidak jelas milik Ara.
Jay tersenyum dan memeluk Ara. Begitu erat bahkan sampai Ara merasa sedikit sesak. Ara juga bisa merasakan usapan hangat yang Jay berikan. Ara sendiri juga memeluk Jay dengan eratnya. menikmati aroma tubuh laki-laki itu yang entah sejak kapan menjadi candu.
"Tetep sama aku, ya. Jangan tinggalin aku lagi."
Lirih Jay. Pelukan Ara seketika langsung melonggar. Lagi? Bahkan setelah menerima Jay, tak pernah sedikit pun Ara meninggalkan Jay. Tak sengaja, tatapan Ara terarah pada pigura yang berisi foto Jay, Sunghoon, dan dua perempuan saat usia mereka masih kecil.
Seorang anak perempuan di foto itu berhasil menarik perhatian Ara. Ia terlihat familiar, terlebih ia duduk di sebelah Jay dengan rangkulan tangan laki-laki itu. Terlihat aneh dan mencurigakan. Mata Ara membulat saat melihat kalung biru di leher gadis kecil yang sedang Jay rangkul.
Mirip sekali dengan kalung yang Ara pakai sekarang. Ara memejamkan matanya. Tidak. Ia harus bisa berpikiran positif. Mungkin hanya kebetulan mereka memakai kalung yang sama. Benar, kan? Ara tidak harus berpikiran yang tidak-tidak tentang Jay, gadis itu, kalung biru, dan semua keanehan Jay yang lainnya bukan?
🌠🌠🌠
Hope you like it guys 💙🥺🦅
KAMU SEDANG MEMBACA
Before The Happy Ending || Jay Enhypen
Fanfiction[Sudah Revisi] [Completed] Kisahnya sempat terhenti karena separuh jiwanya hilang. Namun sekarang, kisah cinta itu kembali berjalan seperti semula. Menuntut sebuah akhir atas kisah cinta yang terlalu klise bagi sebagian orang. ••• Kang Ara yang akra...
