Perjalanan Singkat

7.3K 606 73
                                        

Vely tidak pernah membayangkan akan memiliki pengalaman merasakan sensasi naik BMW Touring yang dapat mengeluarkan kekuatan sampai 160 horsepower. Baru mendengar deruman mesinnya saja sudah bisa membuat jantung berdetak kencang dan kulit merinding, apalagi menaikinya.

Sekelas Vely berkeliling kampung dengan dibonceng motor Satria milik Bayu saja sudah cukup, apalagi saat ini membayangkan material mesinnya saja sudah membuat ngeri ditambah jika menelisik harganya, Vely bisa jalan sambil kayang.

Vely masih tidak percaya bos tampan yang memaksa menjadi pacar ini ternyata memiliki kegemaran mengendarai moge. Vely berpikir bagaimana jika ia digeber naik moge setiap hari bisa-bisa kerokan tiap malam nanti.

Adjie mengajak Vely mengitari jalanan Jakarta untuk menikmati sore hari. Mereka berhenti di taman kota berjalan sebentar untuk melepas penat pikiran masing-masing. Keduanya tak banyak bicara hanya memandang interaksi pengunjung lain, mereka berdua ikut tertawa saat melihat kelucuan balita-balita bermain.

Mendekati azan Maghrib dan ketika salawat tahrim dikumandangkan Adjie mengajak Vely menuju masjid agung. Saat melewati pedagang kaki lima di depan masjid Adjie sempat membelikan Vely minuman di kedai kopi. Diluar dugaan ternyata Adjie juga dikenal beberapa penjual makanan disana.

🌆

Usai sholat Maghrib berjamaah ternyata Adjie sudah menunggu Vely di tempat terakhir melepas sepatu, Adjie tidak malu melakukan itu meski jamaah perempuan banyak yang hilir mudik disana. Adjie memaklumi Vely yang sedikit lebih lama, kebiasaan wanita selalu memperbaiki letak hijabnya adalah suatu hal yang wajar. Membayangkan kelak saat sudah sah Adjie yang akan memakaikan hijab untuk Vely membuat Adjie mengulum senyum sendiri. Senangnya setelah sekian lama hatinya yang hampa telah terisi oleh seorang Vely.

"Bapak menunggu lama?"

"Enggak," Adjie menyembunyikan senyumnya padahal melihat Vely melongo didepannya kini sebenarnya ia tak kuasa menahan rasa gemas, ingin sekali memeluk atau sekedar mengusili sekretaris yang sudah naik jabatan menjadi pacar.

"Bapak kenapa? Kok wajahnya aneh? Lapar ya?"

"Enggak..." Jawab Adjie gugup ternyata menyimpan senyum dihadapan orang yang dicintai itu susah, niat menjaga image buyar.

"Pak... Kita pulang sekarang?"

"Emm... Kita makan dulu ya," ajakan Adjie dibalas anggukan dan senyum lebar. Nah kan pacarnya suka makan apalagi kalau gratisan, Adjie sangguplah apa sih yang 'nggak' untuk Vely. Lagi Adjie tersenyum sendiri.

Selanjutnya Adjie membawa Vely ke Sate Khas yang menyajikan berbagai macam masakan nusantara terutama hidangan sate. Sepertinya mulai sekarang Adjie akan menghindari restoran seafood jika akan makan bersama Vely.

Adjie memilih duduk di pojok ruang yang bisa memberikan privasi untuk mereka dan semakin lama makanan dihidangkan tentu tidak masalah bagi Adjie karena ia akan memiliki waktu lebih lama bersama Vely. Kali ini Adjie tersenyum bahagia didalam hati.

"Gimana rasanya naik moge?" Tanya Adjie.

"Ngeri pak saya deg-degan terus," jawab Vely jujur.

"Kok deg-degan? Kamu harus membiasakan diri dong jalan sama saya."

"Motornya yang bikin jantung saya salto pak. Kalo sama pak Adjie kan udah biasa ketemu tiap hari."

Adjie sedikit kecewa ia pikir Vely grogi jalan bareng dia, tapi memang salahnya sendiri bukankah tadi ia yang bertanya soal moge?

"Tapi... Kalo liat senyum pak Adjie bikin saya sesek sih pak. Kayak di masjid tadi," ucap Vely diikuti kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri.

Adjie tertawa kecil, gemas melihat kelucuan Vely yang malu memuji dirinya. "Heh! Kenapa menutupi wajah kamu?" Adjie melepaskan pergelangan tangan Vely, tak disangka keduanya sama-sama malu-malu sendiri. Kecanggungan sementara yang hakiki.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 05, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pak Adjie TampanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang