"Ya Allah Vely takut sendirian."
Gumam Vely yang masih duduk dibawah pohon yang tadi sore sempat Vely dan Rama duduki saat menunggu Adjie datang.
"Ya Allah Bu, Vely kelaparan."
Vely menundukkan kepala sambil memegangi perutnya yang semakin melilit menimbulkan buliran keringat dingin dikeningnya.
Jam tangan Vely menunjuk pukul sembilan lebih, baterai handphone-nya sudah mati dari Maghrib tadi setelah ia mengirimkan report kepada bosnya.
Sebenarnya Vely sudah ditawari pulang bareng pak Agung dan kepala penyimpanan, tapi karena arah yang berlawanan maka dengan halus Vely menolaknya.
Pabrik yang berada di kawasan industri memang menjadi sangat sepi ketika malam hari. Tidak ada taxi atau ojek yang lewat, tidak ada warung yang masih buka di depan pabrik.
Vely berinisiatif mendatangi pos security yang ternyata kosong tidak ada orang, mungkin petugas jaga sedang melakukan pengamanan dengan berkeliling pabrik.
Akhirnya Vely kembali duduk dibawah pohon untuk mengusir bosan. Beberapa kali ia mengucapkan doa jangan sampai ada jeng Kunti yang menjenguknya.
Lagi Vely mengedarkan pandangan ke sekeliling pabrik dan pos security tapi masih sama saja tetap sepi.
Ingatan Vely kembali pada sosok Nadine, perempuan cantik nan elegan, penampilannya semahal tutur katanya. Tegas dan cerdas.
"Beruntungnya mbak Nadine itu." Batin Vely dalam hati. Sesuatu mencubit-cubit hatinya. Menurut Vely Nadine perempuan istimewa yang pastinya banyak pria menyukainya. Terlihat tadi dari bagaimana pak Adjie menatap Nadine, dan mas Rama yang memperlakukan Nadine sangat lembut.
Penampilannya sudah menggambarkan dari kalangan seperti apa dia dibesarkan, apalagi jika sudah tau bahwa Nadine adalah adik dari owner international hospital yang sebentar lagi akan membuka anak cabang, yaitu RS. Mitra Medica.
Vely cukup tau diri, siapalah dia jika dibandingkan dengan seorang Nadine. Seorang Vely yang harus bekerja banting tulang dan mengambil side job agar dirinya bisa sekedar makan dan membiayai keluarganya dirumah. Seorang anak janda yang harus merantau dan mengadu nasib di ibukota.
Hati Vely teriris dan lukanya ditaburi garam, perih sungguh perih ketika dia teringat ibu dan adiknya dirumah. Air mata Vely menetes. Ini saat terlemahnya, tepat dihari ulang tahunnya. Vely sendiri.
🐸
"Ram lo lagi sama Vely?" Tian melakukan panggilan telepon dengan Rama.
"Nggak gue dirumah."
"Tadi gue lihat Vely naik mobil lo, tapi sampai sekarang belum balik. Kita udah janjian ngadain surprise buat ulang taun Vely, tapi ini udah hampir setengah sepuluh dia belum keliatan."
"Astaghfirullah.. tuh anak kemana. Tadi gue dapat tugas nganter tamu, yang terakhir sama Vely itu bos Adjie. Ya udah gue telpon bos dulu deh."
"Oke thank you bro, gue nunggu kabar lo. HP Vely mati kita semua kuatir."
"Oke Ian.. gue telpon bos Adjie dulu."
Rama mematikan panggilan lalu mulai menghubungi Adjie. Butuh empat kali nada berdering.
"Ya Ram."
"Djie.. Vely ada sama lo?"
Dari seberang sambungan otak Adjie mendapat hantaman tentang sekretaris absurdnya.
"Tadi gue tinggal di pabrik, gue makan sama Mr. Harada. Sekarang gue nggak tau dia dimana."
"Gila lo, mpe sekarang Vely belum balik, hapenya mati. Temen-temennya nungguin karena hari ini ada surprise party buat Vely. Lo tau ini hari ulang taun Vely bro dan lo ninggalin dia gitu aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Adjie Tampan
Ficción GeneralAdjie Tama Panduwinata (31 tahun) Mereka memanggilku Adjie Tampan kependekan dari Tama Panduwinata, selain itu memang wajahku diatas rerata. Otak jangan ditanya memiliki IQ 125 pasti kalian tau bagaimana menghadapi orang cerdas sepertiku. Tapi saat...
