Berkali- kali Masumi melirik gadis disebelahnya yang tengah menyeruput jus jeruk lewat sedotan dan mengunyah sepotong Double Cheese Hamburger. Seolah- olah gadis yang duduk disebelahnya bisa raib kapan saja, meski Masumi tengah menyetir, dengan keahlian mengemudikan sedan mewahnya pria tampan itu masih bisa mengawasi gadis yang tengah mengunyah dengan lahap.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika difikir satu jam sebelumnya gadis disampingnya dia temukan tergolek tidak berdaya di lantai, dengan wajah berlumuran darah, bibir bengkak dan pipi merah. Gadis yang dengan mudah membuat pengendalian dirinya runtuh, satu- satunya gadis yang bisa membuatnya tampak kacau karena mencemaskan kondisinya.
Saat menemukan Maya dalam kondisi tidak berdaya, dia tahu nyawanya bisa terbang kapanpun, dan dia yakin dia akan ikut mati jika saja Maya pergi meninggalkannya. Masumi fikir tadinya Maya harus menjalani perawatan di Rumah Sakit terlebih dahulu, tapi melihat kecepatan tubuh gadis mungil ini menyembuhkan diri, dia sangat terkejut.
Dari caranya mengunyah, tidak kelihatan jika Maya baru saja dihajar oleh wanita penyihir berhati culas. Setidaknya itulah salah satu sebutan diantara sekian makian yang ada didalam hati Masumi, meskipun belum satu patah katapun mereka menyinggung kejadian yang membuat pelipis Maya benjol.
Kelihatannya, obat pereda nyeri yang diberikan oleh Dokter sangat manjur. Maya bisa menghabiskan makan siang yang dibelikan Masumi setelah dari Apotek melalui layanan drive thru.
Saat ini keduanya tengah melaju menuju Studio Kids.
"Jika kamu pusing, kamu akan menelponku." Perintah Masumi.
Maya mengangguk cepat.
"Atau mual."
Maya mengangguk lagi
"Atau merasakan nyeri hebat."
Maya mengangguk lagi
"Atau pandanganmu tiba- tiba kabur."
Maya mengangggukan kepalanya lagi tak ubahnya boneka anjing yang biasa diletakkan di dashboard mobil, angguk- angguk atau geleng- geleng jika melalui jalan yang tidak rata.
Masumi meletakkan tangannya ke atas kepala Maya, membuat Maya mengernyit sedikit, lalu cepat- cepat mengubah ekspresi wajahnya,----- terlambat Masumi melihatnya.
"Kalau sakit kamu harus mengatakannya, tidak boleh disembunyikan."
Maya memberikan cengiran diwajahnya" Sedikit saja, selebihnya baik- baik saja."
Pasti dia kesakitan karena Shiori menjambak dan menarik rambutnya begitu kencang. Shiori sangat Keterlaluan!!
"Maaf, Uhm...kalung dan cincinnya...itu,--- aku tidak bisa meraihnya, Ummm...dia merebutnya begitu saja."
"Tidak apa- apa, sekalipun dia merebut semua yang kuberikan padamu, tapi satu hal kupastikan yang dia tidak bisa rebut darimu."
Maya menoleh dan menatap Masumi,---- "Hatiku. dia tidak bisa merebut hatiku darimu."