Terlihat seorang gadis yang kini sedang mengagumi diri sendiri, melalui cermin yang dapat memperlihatkan tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Penampilan yang sangat bertolak belakang dengan kesehariannya membuatnya terpesona pada wajah cantiknya sendiri.
Yaampun gue cantik banget, dalam hati Nara memuji diri sendiri.
Ternyata ucapan Irene tak main main. Dirinya membawa MUA untuk mendandani Nara hingga menjadi seperti ini.
Gadis itu memakai dress berwarna maroon. Terkesan elegan yang menambah kecantikannya. Sepertinya berniat sekali sampai sampai pakaian Nara pun dipersiapkan olehnya.
Pintu kamar Nara terbuka, terlihat Irene yang berjalan menghampiri gadis itu. Irene duduk dikasur dengan tubuh yang dihadapkan pada Nara. Dimana gadis itu sedang berdiri didepan cermin yang ada dibalik pintu lemarinya.
Mau tak mau Nara menghampiri sang ibu. Duduk disebelahnya dengan memberi sedikit jarak saja. Nara tahu pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Mama nya. Cukup lama keduanya terdiam, akhirnya Irene membuka suara lebih dulu.
"Siapapun orang yang akan dijodohkan sama kamu, saya harap kamu tidak menolaknya. Jangan membuat malu saya. Dan saya tidak menerima bantahan apapun!" ucap Irene dengan tegas.
"Tapi-" belum sempat Nara menyampaikan protesannya, Irene sudah menyelanya lebih dulu.
"Gak ada tapi tapian, kamu tidak berada dipihak yang bisa memilih. Dan saya sudah bilang sejak awal, saya tidak menerima penolakan apapun dari kamu. Ngerti Kamu?!" ucap Irene dengan tatapan tajam.
"Tapi Nara udah punya pacar Ma" dengan memberitahu hal ini, Nara berharap Mama nya masih mempunyai hati untuk membatalkan perjodohan tersebut.
"Siapa? Gabriel?"
Gadis itu hanya mengangguk saja dengan harapannya yang masih penuh.
"Putusin. Dia tidak pantas dengan kamu"
"Tapi Ma.." kini mata Nara sudah berkaca kaca. Siap tumpah jika saja gadis itu tidak menahannya.
"Dimana dia saat Papamu meninggal? Apa dia datang menemui kamu, hah?!" Irene sepertinya mulai terpancing emosi jika mengingat mendiang Ardi, sang suami.
"Tapi dia punya alasan Ma. Dia terpaksa ikut Papa nya pergi keluar negeri, dia-" belum selesai dirinya menjelaskan yang sebenarnya, Mama nya sudah menyelanya lagi. Untuk kesekian kalinya.
"Saya tidak peduli alasan apapun itu. Dia telah menghancurkan kepercayaan yang saya punya untuknya. Jadi kamu harus terima siapapun yang akan saya jodohkan nanti jika kamu masih menganggap saya orangtua kamu" ucap Irene tak terbantahkan. Setelahnya ia pergi dari kamar sang anak.
Sakit, itulah yang Nara rasakan saat ini. Hatinya terasa ditertusuk duri tajam yang tak kasat mata. Sakit tapi tak berdarah. Mungkin pepatah itu sangat menggambarkan keadaannya saat ini. Rasa sayang yang ia miliki untuk pujaan hati begitu besar. Sampai ia tidak rela jika harus berpisah kembali dengan sang kekasih hati.
Baru saja Nara merasakan cahayanya kembali dalam hidupnya. Cahaya yang selalu mampu menerangi kekelaman hidupnya. Baginya, Gabriel adalah cahaya hidupnya. Jika ia kehilangan cahayanya, hidupnya akan kembali gelap tanpa cahaya yang menemani.
Setelah sekian lama mereka berpisah dan tuhan mempertemukan kembali mereka dengan rasa yang masih sama. Tapi tak ada artinya pertemuan mereka jika pada akhirnya mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. Sepertinya semesta tidak merestui keduanya.
*****
Saat ini Nara tengah berada di depan sebuah restoran bintang lima, tempat pertemuan dirinya dengan lelaki yang akan dijodohkan dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAREGA
Teen FictionGabriello Aldevaro Narega Seorang lelaki yang selalu mampu memikat semua gadis yang melihatnya. Siapa yang tidak akan tertarik dengan lelaki tampan yang memiliki hidung mancung, mata hitam pekat yang mampu memikat para gadis yang menatapnya, juga bi...
