Satu Malam Bersama Gabriel

196 7 0
                                        

Mobil mewah berwarna hitam telah pergi, meninggalkan seorang gadis yang kini masih berdiri di depan gerbang rumahnya. Tujuan gadis itu saat ini bukanlah rumahnya. Tetapi rumah kekasihnya, sang pelipur lara, tempat kembali untuknya.

Nara berjalan menuju rumah sebelah, tepatnya rumah seorang Gabriel. Waktu kini telah menunjukan pukul 09.15 dan gadis itu yakin sekali cowoknya itu belum tidur. Nara saat ini berdiri tepat di depan rumah berarsitektur modern. Gadis itu mengotak-atik ponsel di genggamannya, kemudian menempelkannya pada telinga. Nampak sedang menghubungi seseorang.

*****

Seorang lelaki yang saat ini terlihat gelisah.   Lelaki itu sedari tadi tidak henti-hentinya mengecek layar ponselnya.

Entah firasat Gabriel menjadi tidak enak. Seperti ada sesuatu hal yang mengganjal dihatinya. Gadisnya tidak dapat dihubungi semenjak pesan terakhir yang dikirimkan oleh gadis itu. Pesan yang dapat membuat hatinya menghangat, tetapi juga dapat membuatnya gelisah. Karena hal yang langka kekasihnya mengungkapkan rasa sayang lebih dulu tanpa harus ia pancing.

Gabriel mengamati pesan yang ia kirim satu jam yang lalu pada Nara. Matanya membulat kala melihat pesan itu telah dibaca oleh sang empu. Dan tak lama ponselnya berdering. Nara lah yang saat ini menghubungi dirinya. Tanpa menunggu lama dirinya langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Halo sayang, kamu-" belum sempat dirinya Gabriel menyelesaikan kata-katanya, gadis itu sudah lebih dulu memotong ucapannya.

"Keluar"

"Hah! Keluar gimana maksudnya?" tanya Gabriel seperti orang linglung.

"Aku ada di depan rumah kamu" balas gadis itu.

"Seriusan nih?" nampaknya Gabriel masih tidak percaya dengan perkataan Nara.

"Cepetan Regaa, dingin nih. 20 detik kamu gak muncul, aku pulang" ancam gadis itu.

Gabriel melempar ponselnya ke kasur, dan berlari keluar kamar. Menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Untung saja kedua orangtuanya tidak ada dirumah. Kalau tidak, bisa malu dirinya, lari-larian seperti orang kesetanan.

Pintu utama telah terbuka. Menampilkan seorang gadis yang sedang tersenyum menawan. Ditambah penampilan gadis itu yang mampu membuat seorang Gabriel terpesona dibuatnya. Bagi Gabriel, Nara adalah wanita tercantik kedua di dunia setelah Mama nya.

"Kamu--" Nara sudah lebih dulu memeluk tubuhnya sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Pelukan gadis itu terasa sangat erat. Gabriel mengusap rambut Nara dengan sayang.

Gabriel merasakan tubuh yang kini direngkuhnya bergetar. Walau tanpa isakan tangis, Gabriel tahu gadisnya saat ini sedang menangis. Entah hal apa yang terjadi pada kekasihnya ini.

"Ada apa hmm?" tanya Gabriel dengan suara lembutnya. Terselip kekhawatiran di dalamnya.

Nara hanya menggeleng saja. Sepertinya Gabriel harus memberikan waktu agar Nara mau berterus terang padanya.

"Yaudah sekarang kita masuk. Di luar dingin" baru saja Gabriel akan melerai pelukan mereka, Nara malah memeluknya lebih erat lagi. Membuat cowok itu terkekeh, gemas dengan tingkah gadisnya ini.

"Nanti kamu kedinginan. Baju kamu juga kurang bahan gini" ucap Gabriel mencoba membujuk.

"Maluuuu" cicit Nara

"Malu kenapa sih hmm?"

"Pasti make up aku luntur deh. Jelek muka aku nyaa" ucap Nara sedikit merajuk.

Gabriel malah menertawakan ucapan Nara. Lucu saja, mana pernah gadisnya ini terlihat jelek di matanya.

"Dimataku, kamu selalu cantik. Dalam keadaan apapun. Coba aku pengen liat wajah cantik pacarku ini" ucap Gabriel mencoba menggoda Nara. Gadis itu hanya menggeleng saja.

NAREGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang