Jungwoo - 2.0

155 28 10
                                    

Matahari sudah terbenam dan waktu sudah lama berlalu sejak Jungwoo meningalkan mereka. Tapi baik Jungwoon maupun Sehun masih sama-sama enggan meninggalkan tempat mereka duduk sebelumnya. Kalau dalam keadaan normal, mungkin mereka sudah diminta untuk pergi meninggalkan kafe karena sudah terlalu lama berada disana, tapi karena tempat keduanya duduk saat ini sedang sepi, para staff membiarkan mereka begitu saja. Toh setidaknya setiap satu setengah jam sekali mereka akan memesan dua cangkir kopi baru untuk menggantikan kopi mereka yang mendingin karena diabaikan.

"Anak itu... Dia aneh." Sehun mengulum bibirnya lalu menatap kearah sang teman dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Aku nyari tau tentang dia tanpa alasan khusus, tapi yang aku temuin dari datanya sama sekali ga terduga, Jungwoon. Aku gatau apa yang salah dari dia tapi gaakan ada akhir yang baik kalau terus ada di dekat dia."

"Kenapa?"

Sehun itu tidak bodoh dan Jungwoon itu juga tidak lemah. Jadi kalau dia sampai memberi peringatan seperti ini, anak bernama Qian Kun itu mungkin memang benar-benar berbahaya. Tapi Jungwoon tidak mau hanya diberi peringatan tanpa tahu orang seperti apa yang sedang dia hadapi. Terutama karena orang itu berada di sekitar sang adik.

Jungwoo boleh membencinya setengah mati, tapi Jungwoon tidak akan membiarkan kemalangan menghampiri kehidupan sang adik. Tidak setelah dia akhirnya mengetahui kalau sang adik masih hidup di dunia ini.

Kesalahannya di masa lalu tidak akan bisa

Fuck. Sekarang masalahnya bagaimana cara mengatakannya pada Jungwoo?


•••


Seseorang membuka pintu setelah mendengar raungan dari sebuah ponsel pintar yang terletak terabaikan di salah satu nakas. Sang pemilik mengangkat perangkat elektronik miliknya, matanya bergerak untuk mencerna deretan huruf yang berderet dengan rapi memenuhi layar sebagai penujuk sosok yang memberikan panggilan.

Tapi alih-alih bergerak untuk menggeser layar dan menerima panggilan, sosok bertubuh tinggi itu hanya menatap kearah layar ponselnya tanpa ekspresi sampai layar ponselnya akhirnya mati sendiri setelah sistem mendaftarkan panggilan barusan sebagai panggilan tak terjawab.

Tidak butuh waktu lama untuk ponselnya kembali hidup dan berdering dengan keras. Tapi walaupun begitu, dia tetap berpegang teguh dengan keputusannya dengan tidak melakukan apapun. Ponselnya terus hidup-berdering-mati-kembali hidup-kembali berdering-lalu kembali mati sampai beberapa kali. Baru pada panggilan ke sepuluh, dia mau menerimanya. Sepertinya dia puas karena sudah menyiksa sosok yang berada di balik sambungan telefon dengan cara mengabaikannya.

"Kenapa?" Tidak butuh menjadi seseorang yang peka untuk menyadari keengganan yang terdengar dengan jelas dari suaranya, tapi hal itu tidak semata-mata membuat sang lawan bicara menyerah.

Ayolah, bahkan diabaikan panggilan sampai sepuluh kali saja dia bisa, jadi tentu saja mendengar suara sinisnya bukanlah apa-apa!

"Kamu... Lagi sibuk?"

Terdengar suara helaan nafas dan sang penelfon bisa membayangkan kalau sang lawan bicara pasti sedang memutar bola matanya saat ini. Oke, Jungwoon akui kalau pernyataannya memang terlalu basa-basi dan klise, tapi tidak bisakah adiknya menghargai usahanya?

"Aku tutup." Putus Jungwoo sepihak yang langsung disela dengan protes dari yang lebih tua.

"Jungwoo, tunggu!" Teriaknya tanpa sadar. "Ini bener-bener penting! Kamu harus denger apa yang bakal aku omongin ke kamu!"

Hening selama beberapa saat. Jungwoon baru saja mau kembali mencoba membujuk sang adik saat yang lebih muda sudah lebih dulu menyela.

"Lima menit." Putusnya kemudian. "Aku kasih waktu lima menit buat kamu untuk ngomong, dan kalau ternyata apa yang kamu bilang ga penting, aku bakal pastiin kamu gaakan pernah bisa ngehubungin nomer ini dikedepannya lagi."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 24, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

[2] ChoixTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang