21 - End

338 30 44
                                        

Sudah terhitung satu tahun lamanya, kehidupan Nella yang hitam putih mulai berwarna. Semua karena kehadiran Edric yang mulai merubah pandangan gadis itu. Membuat omongan Edric kala itu bukan hanya omong kosong belaka. Ucapan yang menyatakan pemuda itu ingin menjadi cahaya di kehidupan seorang Ornella Angeline.

Edric sudah mengetahui Nella yang gagal dalam ujian penerimaan perguruan tinggi. Disamping itu juga, ia mengetahui janji Nella kepada Iris akan berkuliah bagaimana pun juga. Sejak saat itu pula, Edric bertekad untuk membantu Nella menepati janjinya. Dan hari ini adalah pengumuman penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi yang Nella pilih.

Pagi-pagi sekali, Edric sudah berada di rumah Nella. Tentu Ares dan Iris sangat antusias dengan kedatangan pemuda itu. Ditambah dengan Kalvin yang selalu senang saat Edric datang karena tidak adanya saudara laki-laki. Nella bahkan terheran, jika Edric sudah datang ke rumahnya ia seperti tergeser dari posisi anak di keluarganya.

Seperti pagi ini, Iris memaksa Edric untuk ikut sarapan bersama. Kemudian Ares yang sudah mengobrol akrab dengan Edric, sedangkan Kalvin terus merengek untuk bisa pergi keluar bersama. Dan tinggal dirinya yang hanya diam, keberadaannya terasa diacuhkan oleh keluarganya sendiri.

"Ed, menurut lo gue lulus gak?" tanya Nella yang sudah gelisah sejak ada di perjalanan bersama Edric.

"Jangan tanya gue lah Nel, kan lo yang ngerjain." balas Edric spontan yang dihadiahi pukulan dari Nella.

"Suka banget bercanda gak liat sikon." cibir Nella yang mencebikkan bibir dan mengalihkan pandangannya ke arah apapun asal bukan pemuda di sebelahnya.

"Ya gue kan bukan dukun, Nel, yang tau kemampuan orang itu diri mereka masing-masing." jelas Edric yang tidak membuahkan hasil apapun, karena Nella yang masih enggan menatapnya.

"Yaudah gini, kalo lu lolos gue bakal traktir." ucap Edric yang membuat kepala Nella menoleh dengan cepat ke arahnya.

"Serius?" tanya Nella dengan matanya yang sudah berbinar bahagia. Edric menanggapi dengan dehaman pelan. Sedetik kemudian, Nella merubah air wajahnya menjadi sendu.

"Kalau gue gak lolos?" tanyanya lagi, sedangkan Edric balas menghela nafas.

"Lo maunya gimana?" ucap Edric yang malah berbalik tanya.

"Traktir juga lah." balas Nella dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Edric yang melihat itu jadi mencibir pelan.

"Kalo kayak gitu mah, maju mundur kena, Nel." cibir Edric yang ganti mencebikkan bibir.

"Edric Alexander kan sahabat terbaik Ornella yang gak akan biarin sahabatnya kesusahan." ucap Nella yang menaikan intonasi di setiap kata yang diucapkan. Edric yang mendengar itu jadi mendesah pelan dan tanpa Nella sadari memutar bola matanya.

"Sahabat doang ternyata." gumam Edric pelan yang bahkan tidak disadari Nella sedikitpun. Setelah itu, hanya terdengar lagu yang menyelimuti keheningan diantara keduanya.

Sesampainya di tempat tujuan, Nella melangkahkan kakinya dengan penuh bersemangat. Edric bahkan harus mengambil langkah lebar untuk mengimbangi Nella yang terlalu bersemangat. Beberapa langkah dari papan pengumuman, gadis itu malah memelankan langkahnya sambil memainkan kukunya.

Edric yang mengetahui kebiasaan Nella ketika merasa cemas jadi memegang kedua bahu gadis itu.

"Perasaan tadi ada yang semangat banget mau liat pengumuman, pas udah nyampe malah ciut gitu." goda Edric yang membuat Nella menunjukkan wajah malasnya.

"Berisik." sahut Nella singkat yang membuat Edric terkekeh dalam batinnya.

"Gini deh, coba inget lagi lo udah berapa lama persiapin ini?" tanya Edric yang kini merubah posisi gadis itu menjadi berhadapan dengannya.

"Kan lo juga tau proses yang udah gue lewatin, Ed." balas Nella yang menatap Edric lemah.

"Siapa yang ngajarin?" tanya Edric lagi.

"Elo." balas Nella singkat.

"Gue siapa?" ucap Edric yang kini melebarkan senyumannya.

"Edric Alexander, mahasiswa dengan IPK tertinggi satu angkatan." balas Nella yang diakhiri dengan merotasikan bola matanya.

"Pinter." ucap Edric yang terkekeh sembari mengusap kepala Nella.

"Lo ragu sama hasilnya, berarti lo juga ragu sama gue sebagai guru." balas Edric memposisikan tangannya bersidekap dan mengubah air wajahnya menjadi serius.

Nella yang melihat perubahan ekspresi Edric jadi menelan salivanya bulat-bulat. Kemudian dengan langkah yakin, ia melihat papan pengumuman yang hanya berjarak hitungan langkah dari tempatnya.

"Gimana?" tanya Edric yang sedari tadi ikut mengekori Nella.

"Lulus." balas Nella dengan nada lemas dan wajah bersedih. Edric yang mendengarnya jadi ikut bersedih, selang beberapa detik pemuda itu tersadar.

"Lo lulus kenapa sedih?" suara Edric sangat kentara jika ia tengah bingung dengan ekspresi yang ditampilkan Nella.

"Itu berarti gue jadi adek tingkat lo, ogah banget gue." balasan Nella malah membuat Edric geram dan tangannya jadi gatal. Pemuda itu menahan dirinya untuk tidak mengumpati gadis di hadapannya.

"Eh, Cheryl?" suara Nella bukannya bertanya tapi seperti terheran. Edric yang mendengar nama mantan teman sekelasnya disebut jadi ikut melihat ke arah jari Nella menunjuk.

"Bella, Lisa juga ada." Nella kembali mengeluarkan suara dengan jarinya yang menelusuri papan pengumuman.

"Lulus cadangan." ucap Edric yang membaca keterangan tepat di sebelah nama yang disebut Nella.

"Gue kira mereka udah kuliah dari tahun lalu." ucap Nella yang masih heran dengan 3 nama yang ditemukannya.

"Gue denger dari Alvaro mereka kena drop out karena bermasalah sama dosen jadi mereka dapet nilai E, ditambah perguruan vokasi." jelas Edric panjang lebar membuat Nella hanya ber-oh ria.

"Lo masi kontakan sama Alva?" Nella tampak terkejut dengan penuturan Edric barusan.

"Beberapa hari lalu gue ketemu dia di forum." balas Edric yang menjawab keterkejutan Nella.

"By the way, lo mau denger kabar Ica?" ucap Edric dengan alis yang terangkat. Nella yang mendengar nama Ica disebut jadi sedikit penasaran tentang kabar gadis itu.

"Masih sama Leo?" Nella melempar tatapan penuh tanya, Edric menggeleng pelan sebagai jawaban.

"Leo selingkuh." sahut Edric yang membuat Nella terkesiap.

"Gila." umpat Nella singkat.

"Itu belum seberapa, harusnya lo gak kaget di bagian itu." ucap Edric yang semakin memunculkan tanda tanya besar dibenaknya.

"Selingkuhannya cowok." bisik Edric yang langsung membuat gadis itu melongo.

"Ngawur." balas Nella dengan cepat.

"Informan gue terpercaya, udah terakreditasi." ucap Edric yang menyatakan kebenaran dari info yang disebutkannya. Nella yang mendengarnya hanya terkekeh.

"Tepatin janji lo, traktir." Nella mengingatkan Edric dan menarik Edric menjauh dari tempat mereka.

"Kalo gue traktir, lo mau nerima gue jadi pacar gak?" ucapan Edric yang tiba-tiba hampir membuat Nella kehilangan keseimbangan karena terkejut.

"Ngaco, jadi sahabat aja uda ngerepotin apalagi jadi pacar." balas Nella terkekeh dan memukul kepala Edric.

"Kalo lo masih narik gue, berarti kita pacaran" ucap Edric yang sama sekali tidak membuat Nella berhenti menariknya.

Tentu hal itu membuat Edric jadi melebarkan senyumannya. Ia melepaskan pegangan Nella di tangannya. Dengan cepat ia memberi jarak dengan Nella dan memberi bahasa isyarat yang hanya dibalas anggukan oleh gadis itu.

"Aku dan kamu, apa bisa bersama?"

END

Akhirnya cerita ini selesai, terimakasih sudah mengikuti cerita inis sampai akhir. Maaf jika ending kurang memuaskan :).

Kamis, 31 Desember 2020

Cindy & Nisin Manis

30 Days✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang