6. Pria Ber-hodie Hitam

1.6K 194 4
                                        

Pria Ber-hoodie Hitam dan Sisi lain terungkap

***

Arta duduk dengan tenang di bangku dekat kedai es krim. Baru saja ia ditraktir oleh pemuda asing yang tak sengaja bertemu. Dari kecil dia selalu menyukai manisan, akan tetapi hanya bisa dipandang dari jarak jauh dan sekarang bisa menikmatinya dengan santai.

"Enak amat yang lagi makan, gak bagi-bagi lagi. Gue berasa butiran debu," ujarnya dengan wajah masam.

Arta mendongak, menatapnya sebentar habis itu mengulurkan tangannya. Pemuda itu antusias mendekatkan wajahnya. Arta menyendok es krim tersebut membawanya ke dalam mulut.

Pemuda itu menerimanya dengan senang hati. Dia menelan habis es krim yang diberikan. Arta pun tak masalah karena punya banyak.

Dia mencubit pipinya. "Jangan dimakan semua ntar lo sakit."

Arta menatap cup es krim dengan berbinar, tetapi perkataannya benar. Arta membungkus cup es krim itu untuk dimakan lain kali. Pemuda itu menarik tangannya berjalan kaki menuju motor di parkiran.

Arta menarik lengan bajunya. "Lo 'kan belum makan apa-apa sedari tadi. Makan bentar habis itu pulang ya," bujuknya dengan suara lembut. Arta mengangguk.

Pemuda itu menaiki motor, Arta duduk di kursi belakang. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, sekalian mencari camilan untuk dimakan.

Di sepanjang jalan tak menemukan orang jualan. Pemuda itu menoleh ke spion mendapati kepala Arta bersender di punggungnya. Dia tak ingin Arta terjatuh dengan perhatian Pemuda itu menarik tangan Arta melingkari pinggangnya. Arta pun tak menolak. Di jalan sepi, pemuda itu menancap gas.

***

Calvin menggigit jarinya. Mondar-mandir seperti setrika rusak. Dia menelepon Arta tapi itu orang tak mengangkatnya. Di sekolah dia mendapat kabar bahwa saudaranya tidak masuk. Calvin dibuat panik, kakinya hampir tersandung batu jika tak ada yang memberitahunya.

"Jalannya yang bener!" tegur seseorang dari arah depan.

Calvin mendongak, menepi ke pinggir memberi mereka jalan. Sekumpulan pemuda melewatinya, salah satu dari mereka berkedip ke arahnya.

"Dasar genit," decak Calvin kesal.

***

Arta terbangun dari tidurnya. Dia celingukan dan mengeryit. Ini di mana? tanyanya dalam hati. Ia seorang diri ditinggalkan di tepi jalan. Arta mencari keberadaannya. Namun, sosoknya tak diketahui.

Arta turun dari motor dengan lesu. Dia seperti anak hilang yang ditinggalkan induknya. Sekarang Arta hanya bisa diam di samping motor. Gerombolan preman mendekat ke arahnya.

"Kiw, sendirian aja. Mau abang temenin," goda salah satu dari mereka. Arta menatapnya tajam.

"Tatapannya gak nahan bro. Bikin cenat-cenut," kekeh pria bersurai pirang. Preman itu menyentuh tangan Arta dengan cepat Arta menepisnya.

"Pergi!"

Mereka tertawa terbahak-bahak. "Kucing kecil ketakutan bos. Jangan digodain lagi mending ...."

Arta bergerak mundur ke belakang karena di depan berbahaya. Alarm berbunyi di kepalanya siap meledak.

Arta siap melarikan diri. Bos mereka maju, menyeringai dengan tatapan lapar. Arta menendang perutnya membuat orang yang dipanggil 'bos' itu tersungkur.

Anak buahnya tak terima dan langsung menangkap pergelangan tangannya. Arta menginjak kakinya, memutar tubuhnya langsung menyikut dagunya membuat lawannya meringis. Meskipun Arta jarang sekali berkelahi, dia mampu mengalahkan mereka.

Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau kecil. Arta tersentak kaget melihat benda tajam itu hampir mengenainya. Sebuah tendangan maut menghantam pinggangnya serta kaki panjang yang menendang wajahnya. Dia tersungkur, pisau kecil terlepas dari telapak tangannya.

Arta berdecak kagum akan aksinya barusan meski hanya tendangan biasa, tetapi layak diberi tepuk tangan. Pemuda itu datang bagaikan kilat yang menyambar, dia mendekat ke arah Arta dan langsung memeluknya. "Lo gak apa?"

Arta menggelengkan kepalanya. Pemuda itu bernapas lega. Dia melonggarkan pelukannya. Arta duduk di atas motor dengan lahap menyantap bubur kacang hijau. Tak menyadari sepasang mata menatapnya serius. Sudut bibirnya terangkat.

"Pelan-pelan makannya."

Pemuda itu merogoh ponselnya melihat layar sudah pukul dua siang. Waktu kebersamaan mereka terbilang singkat. Perutnya sudah tak bisa menerima asupan lagi dia menyodorkan mangkuk berisikan bubur tersebut kepadanya.

"Kok gak dihabisin?"

"Kenyang," balasnya cepat.

Pemuda itu menyipitkan matanya. "Lo cuman makan es krim tadi, gimana bisa kenyang? Makan lagi."

Arta mengerucutkan bibirnya. Ia memandangnya lagi akan tetapi, sudah diberi tatapan tajam olehnya. Mau tidak mau Arta mengambil sendok itu ke dalam mulutnya. Pemuda itu melirik lalu mengambil suapan terakhir langsung masuk ke dalam mulutnya. Arta membeku di tempat.

Pemuda itu mengusap sisa bubur di sudut bibirnya. Arta mengerjapkan matanya. Baru kali ini Arta tak alergi disentuh olehnya malahan membuatnya hatinya hangat. Pemuda itu mengembalikan mangkuk tersebut ke tukang bubur. Arta meneguk air mineral yang diberikan.

Arta seperti kucing kecil yang penurut. Pemuda tanpa nama itu kembali membawanya berjalan-jalan menikmati angin sore. Dia menoleh ke belakang, menyisir rambut Arta dengan lembut dan bertanya, "Mau pulang?"

Arta mengusap dagunya, merendahkan tatapan matanya. Dia bergerak gelisah. Pemuda di depannya menautkan alisnya. Dia menyentil dahinya, Arta mendongak. "Liat gue! Yang bener jawabnya. Mau pulang atau gimana?" Dengan ragu Arta menunjuk ke arahnya.

Pemuda itu berpikir lama terus bertanya, "Pulang ke rumah gue?" Arta mengangguk.

Pemuda itu mencondongkan tubuhnya. Arta terdiam. "Lo yakin? Nggak takut gue culik hem," bisiknya rendah. Alarm di kepala Arta mendadak mati.

Telinganya memerah. Arta memalingkan wajahnya. Pemuda di depannya tertawa kecil. "Boleh aja sih tapi kabarin dulu orang rumah biar mereka gak khawatir anak kesayangannya ilang."

Arta merogoh saku celananya dan terdiam beberapa saat. Alisnya tertekuk kemudian, menatapnya. "Ponselku gak ada."

"Kok bisa? Apa dicopet sama preman tadi?" tanyanya panik. Arta mengangkat bahu cuek.

Pemuda itu mengembuskan napasnya tak diambil pusing lantas memberikan ponsel kepadanya. "Pake ponsel ini dan telepon orang rumah."

Arta mengambilnya dengan pelan mengetik nomor dan menyambungkan. Pemuda itu mencubit pipi Arta gemas.

Telepon tersambung. Ingin bersuara dengan cepat disambut omelan pedas oleh Calvin. Raut wajah Arta berubah menjadi gelap. Dia berucap satu kata dan langsung mematikannya sepihak. Pemuda di depannya terkejut mendengar umpatannya. Arta menyerahkan ponsel padanya.

"Ayo pulang!"

Hanya dua kata terlontar dari mulutnya berarti Arta diperbolehkan untuk menginap. Pemuda di depannya mengangguk. Dia menyalakan mesin motor.

"Pegangan biar gak jatoh."

Arta melingkarkan kedua tangannya di sekitar pinggang. Pemuda itu berbisik lagi, membuat Arta maju ke depan. Embusan napas terdengar lembut, Arta menaruh dagunya di bahu pemuda di depannya. Ia sempat mengacak rambutnya. Terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

......

TBC

Artamevia [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang