21. Berakhir Indah

1.7K 113 3
                                        

Reza Artamevia ialah nama pemuda yang selalu diceritakan di awal, tengah serta akhir. Pemuda tanpa nama yang selalu memakai hoodie hitam ke mana pun ia pergi.

Sosoknya baik hati dan suka belok ini awalnya pemuda normal pada umumnya. Namun, sebuah insiden menyebabkan dirinya membenci seorang perempuan. Ibunya seorang kupu-kupu malam yang melahirkan dua anak laki-laki.

Mereka diberi nama Reza-Ezra. Sepasang anak kembar. Setelah itu sang Ibu selalu memukul mereka tanpa alasan yang jelas. Si kembar melarikan diri dan tinggal di jalanan. Untuk makan sehari-hari Reza mengamen, sang adik ikut terbawa olehnya.

Sampai di mana mereka dikejar-kejar penculik dan akhirnya sang adik menghilang. Reza tergeletak di jalanan sehabis makan nasi basi kemudian, dia dilarikan ke rumah sakit. Setelah itu sepasang suami istri mengadopsinya serta merawat Reza dengan baik seperti anak sendiri.

Semua itu tidak bertahan lama. Umur 15 tahun Reza keluar dari rumah dikarenakan tidak ingin merepotkan orang lain. Tekadnya untuk mencari sang adik tetap dipegang teguh. Perempuan yang menemuinya di cafe ialah ibu tiri yang sudah menyukainya sejak dia tumbuh menjadi remaja.

Tentu saja, Reza tidak ingin terikat lebih jauh lagi. Dia memutuskan mengusirnya. Perempuan itu selalu ingin bertemu dengannya, tetapi dia menolak. Reza tinggal di jalanan dan berakhir di rumah rusun yang berisikan banyak lelaki transgender.

Mereka menerima Reza dengan baik, memedulikannya serta merawatnya. Reza menyembunyikan identitasnya agar perempuan itu tidak mengenalinya nyatanya dia mampu menemukannya. Reza sudah tidak punya ikatan lagi tentang keluarga kaya itu.

***

Badai mendengarkan kisahnya yang cukup masuk akal, tetapi dia sungguh tak mengenalnya. Badai memainkan kalung perak yang berinisial ~E.

"Sebelumnya lo pernah kecelakaan gak? Siapa tahu ingatan lo terhapus sebagian."

Badai mengusap dagunya mencoba berpikir lantas menggebrak meja. "Pas nyokap pergi, gue masuk rumah sakit setelah itu sifat bokap (ayah angkat) gue berubah jadi kasar. Itu yang gue tahu ...."

Reza menepuk-nepuk kepalanya sambil berkata, "Berarti semuanya sudah clear kan? Lo adik gue dan gue kakak lo," timpalnya mengakhiri diskusi, sedangkan Arta memainkan ponsel miliknya.

Badai menoleh sambil berucap, "Yuhu~ baby boy, lo gak lupa sama gue kan? Dunia ini begitu sempit. Kita semua dipertemukan secara tak sengaja. Nyatanya lo udah gak jomblo lagi. Sad sampai ke tulang."

Reza menepuk pundaknya. "Jangan jadi pelakor, Dai. Itu masih ada Calvin dan Nesya."

Arta mendongak. "Ngapain dua kampret itu disebut? Ngerusak mood aja!" seru Arta sembari menatap keduanya tak minat.

Reza mendekatinya sambil mengacak rambutnya gemas. "Nggak boleh bicara kasar. Nah, karena sudah beres semuanya. Kita liburan kuy, bosan gue." Mata Badai berbinar.

"Nah cakep, gue juga pengen menghapus sampah tidak berguna di dalam pikiran."

Arta menyenderkan kepalanya di bahu. "Pasti Ayah nggak bakal setuju," keluh Arta.

"Bener juga. Gimana ya? Dai ada ide gak?" tanya Reza pada adiknya. Badai menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

"Hubungan kalian sudah diketahui oleh orang luar kah?" tanya Badai hati-hati.

"Gue udah ngaku ke ayahnya Arta dan ending-nya gue ditolak," balas Reza dengan cepat.

Arta menundukkan kepalanya sembari bergumam, "Maaf."

"Bukan salah kamu kok, aku aja yang kecepatan eh, akhirnya tak sesuai ekspektasi," sahutnya sembari mengecup keningnya. Badai memutar matanya malas.

"Nasib, nasib, udah mah si doi ketikung duluan dan sekarang gue terabaikan," gumamnya kecil. Reza tertawa kecil.

"Woles Dai, gue yakin pasti ada yang lebih baik kok dari Arta," pesannya. Badai mengacungkan jempolnya sepemikiran dengan apa yang dibicarakan.

***

"Kak Badai ganteng banget sih," puji Nesya berbinar.

Badai melebarkan sayapnya. "Woiya dong jelas. Gue kan cogans number one."

"Hilih, ntar juga pudar kesapu angin," sindir Calvin spontan.

"Iri bilang bos," balas Badai sinis.

Calvin mengabaikan bisikan setan. Mereka berempat mengobrol di cafe tempat kerja Reza. Di saat Calvin, Nesya dan Badai berceloteh, sedangkan two couple menepi ke dapur. Arif kebetulan lewat.

"Woy, kalau mau pacaran liat sikon dong. Ini dapur bukan kamar hotel. Makin ke sini makin gak punya akhlak lo Za," decak Arif kesal.

Reza acuh tak acuh. Dia membawa Arta ke sebuah ruangan. Arta meneliti setiap sudut dan bertanya, "Ini ruangan apa?"

Reza mememeluknya dari belakang sembari mengendus aroma alami. "Tempat tidur karyawan gitu. Gak apa kecil yang penting nyaman."

Arta beroh ria. Bukan hanya mencium aroma, Reza menjelajah ke tempat lain. Arta kegelian. "Apa sih geli tauk." Reza menyeringai.

"Main yang lain yuk, udah lama lho kita gak ketemu terus rasanya ada api yang perlu dipadamkan," ucap Reza sembari membuka bajunya. Arta mundur ke belakang. Menatap gelisah, dan menabrak tembok. Arta terkurung di antara tangan serta bahunya yang lebar.

Dagunya diangkat, mata mereka bertemu. "Tahan suara lo dan jangan biarkan orang luar denger hem," bisiknya rendah. Arta mengikuti arus. Reza membawanya terbang menembus cakrawala.

***

"Ke mana perginya itu couple?" tanya Nesya sambil celingukan.

"Kurang tempe," balas Calvin ketus.

"Daritadi lo sewot mulu Vin. Butuh perhatian ya," ledek Nesya sembari mencolek dagunya.

Calvin menatapnya sengit. "Diem lo! Dasar nyamuk!"

"Kak Badai! Masa aku dikatain nyamuk sad sampe ke tulang," adunya sembari memperlihatkan mata sendunya.

"Wah parah lo! Tenang Nes bakal gue jadi abon ini upil onta!" Badai menarik kerah Calvin dan mereka saling baku hantam, sedangkan Nesya menyoraki mereka sambil makan camilan.

Arta duduk dengan linglung. Nesya melirik. "Astaga Arta ini leher lo kenapa merah-merah coba?" tanya Nesya panik setelah melihat cowok di belakangnya, barulah Nesya sadar. "-Ekhm, jangan lupa kasih gue baby yang lucu dan menggemaskan." Nesya mengedipkan matanya membuat Arta menoyor kepalanya.

"Dasar gak jelas! Lo pungut ajah tuh anak ayam," cibir Arta.

Reza ikut duduk di sampingnya dan bertanya, "Rusuh amat di depan, lagi pada main lenong ya?"

"Ha-ha-ha, Kak Reza lucu banget sih jadi pengen ci-" Mulut Nesya terbungkam dengan camilan. Arta melototinya dengan garang.

Reza menggelengkan kepalanya. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan. Arta tersentak, tangannya mengelus kepala Reza. Dia memeluk perutnya dengan possesif. "Kenapa tidur di sini? Ntar badannya pada sakit."

Nesya menepi duduk berseberangan tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka. Reza membuka matanya, mengelus leher Arta, menariknya mendekat dan ....

Nesya menjerit histeris melihat pemandangan luar biasa di depannya. Perkelahian berhenti dikarenakan dua sejoli sedang kasmaran. Calvin dan Badai ikut menyaksikan.

Arif mencibir, "Dasar bucin!"

.......

END!

Artamevia [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang