7. Mencoba Hal Baru

1.5K 178 4
                                        

Sesampainya di gang kecil yang bisa dilewati beberapa motor. Pemuda itu mengendarai motornya melewati rumah yang berjejer rapi bentuknya seperti kontrakan ada juga rumah susun. Arta melihat-lihat bangunan kecil di depannya dengan penasaran.

Motor hitam berhenti di sebuah rumah tingkat. Dia turun dari motor, pemuda di depannya berjalan santai sembari menggenggam tangan Arta lembut.

Terdengar kicauan dari orang sebelah. "Wedeh udah dapat cemewew (gebetan) aja," seru pria dengan tindik di telinga.

Pemuda itu meliriknya sekilas.

"Syirik ajah lo kadal."

"Kadal? What the f*ck. Gue ini pria lemah lembut tauk," protesnya tak terima.

"Banci kaleng mending diam."

Pria bertindik mencebikkan bibirnya. Arta tertawa kecil. Mendengar tawa renyahnya membuat pria itu tertarik.

"Uwow ada si tampan. Siapa namanya?" tanya pria kadal dengan tatapan minat. Pemuda itu memblokir pandangan.

"Dilarang sentuh!"

"Duh, pawangnya marah."

Pria bertindik berlari kecil ke dalam rumah. Arta menggelengkan kepalanya. Dia menatap punggung di depannya. Pemuda itu menoleh dengan tatapan mengintimidasi.

"Nggak usah genit."

"...." Arta menundukkan kepalanya. Tak tahu harus membalas apa.

Siapa yang genit coba?

Usai berkutat dengan kunci tua akhirnya pintu terbuka. Baru saja menginjak lantai, terdengar suara menggelegar dari arah belakang. Pemuda itu menoleh, mendadak raut wajahnya berubah pucat dengan cepat membawa Arta masuk ke dalam, membanting pintu serta mengunci pintu rapat.

"Playboy bangsat!"

Arta dibuat melongo akan tindakannya barusan. Pintu digedor berulang-ulang serta suara nyaringnya yang terdengar jelas. Arta menatapnya bingung lalu bertanya, "Dia siapa?"

Pemuda itu menoleh dan menggeleng cepat. Dia kembali mengintip di balik gorden sang dedemit sudah pergi membuatnya bernapas lega. Dia menatap Arta, mengurungnya dalam dekapan. Arta mengerjapkan matanya.

"Dengerin gue! Pokoknya lo jangan sampai ketemu apalagi berbicara sama itu dedemit. Harus menghindar atau telepon gue secepatnya. Setelah itu bakal gue basmi itu human," katanya dengan serius. Arta yang tak tahu apa pun hanya bisa mengangguk.

Pemuda itu melepas jaketnya, membuangnya asal. Arta menggelengkan kepalanya dengan baik hati Arta memungut kembali jaket tersebut. Pemuda itu memerhatikan semua yang dilakukan lalu mendekat.

"Lo ngapain?" tanyanya.

"Bersih-bersih," jawabnya ringan sembari memungut yang berserakan.

"Kebetulan baju gue banyak yang kotor tuh ada di keranjang. Cuciin gih biar bersih," suruhnya dengan seenak jidat. Dengan kesal Arta melempar jaket tersebut ke wajahnya dan mendarat dengan sukses.

"Cuci sendiri!"

Pemuda itu meringis. Dia berjalan masuk ke dalam kemungkinan ke arah dapur. Arta mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Rumah ini hanya sepetak. Arta kembali memungut sampah.

Katanya cogans tapi kok rumahnya berantakan. Hilih.

Pemuda itu membersihkan tubuhnya dari bau tak sedap. Saat keluar dari kamar mandi dia merasa terlahir kembali. Lebih fresh dan wangi. Kaki basahnya menginjak lantai. Dia mengenakan handuk yang dililitkan di pinggiran pinggang.

Arta membeku saat melihat punggungnya yang lebar. Pemuda itu menoleh kemudian, menyeringai. Dia sengaja menggodanya dengan perlahan melepas handuk yang dikenakan.

Mendadak sapu terbang melintas ke atas kepalanya. "Cepet pakai bajunya!"

Arta menatapnya datar. Pemuda itu sempat meringis, tangannya mengambil satu set pakaian biasa dan memakaikan ke tubuhnya satu per satu. Sekarang semuanya lengkap.

Dia berjalan mendekat ke arah Arta dengan wajah lesu. "Jahat bener. Masa cogans dilempar pake sapu sih. Sakit nih."

"Ya lagian malah tebar pesona. Rasain!" Arta berbalik badan dan bersikap acuh tak acuh.

Pemuda itu memeluknya dari belakang menempelkan wajahnya. Arta bisa merasakan napasnya di telinga. Dia menjadi geli sendiri. "Lepasin."

"Nggak mau!" tolaknya keras kepala. Pelukan semakin erat. Arta mencubit pinggangnya dengan cepat dia menghindar.

"Kepalaku cenat-cenut nih bikin pusing," rengeknya dengan wajah sedih.

Arta menghela napas. Tangannya mengusap kepala yang terkena sapu tadi dengan lembut. Sudut bibirnya terangkat dengan cepat mengambil kesempatan; mencium pipinya.

Arta menoleh dan sepasang mata hitam menatapnya intens. Dia merangkul pinggang Arta, mendekatkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang. Perlahan mengikuti arus. Arta menutup matanya.

Pemuda itu menatapnya dalam tak melakukan apa pun. Hanya memandanginya lama, ribuan kupu-kupu berkeliaran di atas kepalanya.

Arta memalingkan wajahnya, pipinya memerah seperti kepiting rebus. Pemuda itu meraih dagunya, mata mereka bertemu. Semua detik terlewati.

Dia berkata, "Gue sayang sama lo, Ar. Gak tau kenapa, padahal kita baru pertama kali kenal. Seakan sang takdir sengaja mempertemukan kita dalam keadaan yang sulit diartikan. Tapi satu hal yang harus lo tahu gue akan selalu ada buat lo dan bikin lo tersenyum dan bahagia setiap hari." Pemuda itu mengecup wajah Arta lembut.

Arta pun tak mengerti kenapa jadi seperti ini? Padahal dia membenci sentuhan orang lain apalagi ia juga laki-laki. Arta merasa sudah lama mengenalnya tapi di mana dan kapan? Semua perhatian yang ditunjukkan membuatnya nyaman.

Apakah dia sudah gila karena sudah terjerat akan pesonanya?

Arta merasakan aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia bergetar bentar habis itu menjadi santai. Pemuda itu menjaga jarak. Matanya beralih ke bibir merah delima.

Tak ada gerakan lagi, Arta membuka matanya perlahan. "Kenapa berhenti?" tanyanya dengan lirih. Pemuda itu terbatuk pelan.

"Gue takut hilang kendali."

Arta membalikkan badannya kini mereka berhadapan saling memandang satu sama lain. Tanpa ragu menggenggam tangannya, menaruhnya di sekitar pinggang, tubuh mereka menempel. Pemuda itu memerhatikannya dalam diam.

Mata Arta terlihat jernih, pipinya merona. Terpancar kilauan cahaya menyapu lembut. Pemuda itu berdecak kesal. "Jangan salahin gue kalau besok lo gak bisa jalan."

Ditatapnya lama pemuda polos di depannya. Pemuda itu menyentuhnya dengan ragu, tetapi matanya menyorot tajam ingin mencapai sesuatu. Dia menelan ludah. Arta terlihat pasrah dan tak menolak. Perlahan mendorongnya ke dalam kamar.

Refleks Arta mengalungkan tangannya ke leher. Masih dengan mata terpejam sentuhan kecil itu hinggap di kulitnya yang putih. Lembut dan hangat secara bersamaan. Arta mengeluarkan suara kecil, membuatnya terbakar.

.....

TBC

Artamevia [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang