19. Mengikuti Arus

552 69 1
                                        

Seminggu berlalu, pria itu kembali ke yayasan dan bertemu dengan seorang wanita bernama Delima. Pria itu menjelaskan tentang kedatangan sembari mengeluarkan sebuah foto anak kecil bersama seorang pria paruh baya. Perempuan itu memakai kacamata 'tuk memperjelas penglihatannya.

"Apakah Anda tahu di mana keberadaan dia saat ini?" tanya pria itu tak sabaran.

Perempuan itu mendongak, menatap pria di depannya dengan teliti. "Sebelumnya Anda bilang kehilangan kerabat dan anak di foto ini adalah adik Anda. Apakah itu benar atau Anda sedang menipu saya?" selidiknya penuh curiga.

"Saya bersumpah bahwa anak kecil di dalam foto ini adalah adik saya. Jika Anda tidak percaya, ini buktinya." Pria itu mengeluarkan sebuah kalung perak dengan nama yang terukir. Kemudian, perempuan itu mengangguk.

"Sudah lama sekali anak ini berada di yayasan kami. Sejak saat itu hujan. Kami menemukannya di jalanan. Ia seperti kehilangan arah dan sempat diculik. Dia ketakutan lalu kami membawanya ke sini," jelas perempuan itu.

"Lalu di mana dia sekarang? Saya mohon beritahu keberadaannya saya sudah mencarinya di mana pun tapi sayang tak ditemukan. Ini satu-satunya bukti yang saya punya. Tolong bantu saya," pinta pria itu dengan mata berkaca-kaca.

Perempuan itu ikut merasakan. Dia mengangguk seraya menyerahkan alamat yang tertera. "Terakhir sepasang suami istri mengadopsinya dan mungkin dia ada di sana. Semoga ini membantu ya. Nak."

"Terima kasih banyak." Pria itu menyatukan kedua tangannya. Perempuan itu memeluknya erat lalu menepuk pundaknya menahan air mata yang keluar tanpa jeda. Dia ikut merasakan.

Pria itu pamit meninggalkan yayasan dan pergi ke alamat yang diberikan. Sebuah rumah mewah berdiri kokoh di atas tanah dengan pekarangan yang luas. Pria itu turun dari mobilnya bergegas mendekat.

Seorang satpam memperhatikan. "Cari siapa?"

"Ekhm. Apa benar ini rumah Pak Haris? Bisa saya bertemu dengannya?"

"Maaf dengan siapa? Apakah Anda sudah membuat janji?"

Pria itu menggelengkan kepalanya. "Izinkan saya masuk pak. Saya mohon ... ada yang ingin saya bicarakan dengannya, ini sangat penting dan mendesak," ungkap pria itu dengan tatapan sayu.

Pak satpam berucap, "Maaf, mas saya tidak bisa mengizinkan masnya masuk karena Anda belum membuat janji. Sebaiknya mas pergi."

"Saya tetap akan di sini menunggunya!" tegas pria itu.

Pak satpam pun membiarkannya. Pria itu melihat ke dalam dari celah gerbang. Rumah mewah itu tampak kosong tidak ada penghuninya. Apa benar adik kecilnya berada di tempat ini?

Pria itu mengalihkan perhatiannya ke pak satpam sembari bertanya, "Siapa yang tinggal di rumah ini selain Pak Haris?" tanya pria itu.

"Rahasia mas. Ini sangat privasi," jawab pak satpam enggan berkomentar.

"Apakah pak Haris memiliki seorang putra?" tanyanya sembari memancing.
.
"Tentu saja, punya," balas pak satpam spontan.

"Lalu, kenapa rumah ini kosong seperti rumah hantu," ujarnya lagi sambil mengorek informasi.

"Sembarangan kalau bicara. Asal mas tahu ya, pak Haris itu baik ke semua orang, tetapi semenjak Nyonya Dian tiada sifatnya berubah-ubah tak jarang kalau tidak memperhatikan anaknya. Saya kasian sekali dengan mas B-" Pak satpam tersadar akan perkataannya barusan.

"Lho kenapa jadi bicara asal? Wah, mas parah nih. Sebaiknya mas pergi dari sini!" usirnya. Pria itu berdecak tinggal satu informasi lagi padahal.

"Ayolah pak jangan pelit. Anaknya pak Haris siapa namanya?" tanya pria itu memaksa.

"Nggak tau," balasnya ketus.

Pria itu berbalik badan. Akan percuma jika terus berada di sini, sedangkan yang dicari tidak kunjung muncul. Ponselnya berdering. Pria itu berjalan ke arah mobil. Tombol hijau digeser lalu di loadspeker terdengar suara merdu di sana.

"Halo halo ...."

Pria itu memasang sabuk pengaman dan bersuara.

"Hy baby, Ciye rindu."

"Lama amat sih ngangkatnya lagi main serong ya."

Pria itu tertawa kecil.

"Tadi main sama kucing tetangga. Kenapa sih? Marah-marah mulu ntar imutnya ilang."

"Ish!"

Tidak ada suara lagi hanya suara jangkrik yang menyapa.

"Ciye yang purik. Makan yuk sekalian jalan. Kebetulan aku lagi di luar nih biar sekalian."

"Yaudah, gak pake lama!"

Pip

"Ya lord gemes banget sih," gumamnya kecil. Ponsel diletakkan di dasboard lalu menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan perumahan. Pikirannya kembali mengingat informasi yang diberikan cukup sederhana.

Di mana pun lo berada, gue pasti bisa nemuin lo dek.

Tring!

From: Little boy
Nggak boleh pergi sama ayah 😭 ih nyebelin ... gimana dong?

To: Little boy
Yaudah gak usah, kamu mau apa? Ntar aku beli sekalian otw kirim ke rumah nih

From: Little boy
Nggak tau.

To: Little boy
Kok gitu, yaudah aku beliin seperti biasa aja ya 😘 dah ah aku lagi nyetir ntar malah nabrak lagi. Staytune ae~

From: Little boy
Hati-hati

.......

Mobil hitam berhenti di samping rumah mewah dan mulai mengetik pesan ke orang di dalam rumah. Setelah pintu gerbang terbuka dengan sosok yang tampan. Dia berjalan dengan hati-hati dan berhasil lewat.

Mereka berpelukan. Pria itu membawanya ke dalam mobil serta bermodus ria. Pemuda itu mendorong wajahnya.

"Geli ih," cetusnya.

"Makan sendiri aja. Cogans gak dikasih nih," keluhnya.

"Ini kan punyaku," terangnya menjelaskan.

Pipinya dicubit karena gemas, wajahnya mendekat dan sapuan singkat menyapa. Pemuda itu mencubit pahanya membuat dia meringis.

"Duh, pedesnya."

"Mampus! Genit sih jadi orang."

"Ya, kan gak apa. Sama pacar sendiri kecuali sama orang la-" Perkataannya terpotong karena telinganya dijewer membuatnya mengaduh sakit.

"Oh gitu, ada niat cari selingan," desisnya tajam. Pria itu cengengesan sembari mengusap lembut tangannya.

"Satu ajah gak abis. Kamu kan kesayangan aku, hehe."

Pemuda itu melanjutkan makan. Usai selesai mereka terdiam di dalam mobil cukup lama. Pemuda itu bersender di bahunya. "Ntar malam ada party tapi aku gak mau ikut."

"Sayang, gak boleh gitu. Ayah dan Bunda kamu lho yang ngajak masa gak ikut. Itu namanya gak sopan. Terima aja ya," bujuknya dengan penuh perhatian.

Pemuda itu berkata dengan serius, "Kamu juga harus ikut!"

"Lah gimana ceritanya. Aku kan gak diajak masa tiba-tiba muncul lagian aku dan Ayah kamu kan lagi gak sinkron," ucapnya dengan lirih.

Pemuda itu menatapnya tajam. "Pokoknya ntar malam kamu ikut ke party. Undang gaknya gak ada urusan! Kalau kamu nolak aku juga gak akan datang. Bodo amat sama yang lain," katanya keras kepala.

Pria itu hanya bisa menghela napas jika kekasihnya sudah kepala batu akan susah menasehatinya. Mau tidak mau dia mengangguk setuju.

Mata mereka saling beradu. Sepanjang jalan selalu merindu. Meski jarang bertemu tak heran jika akan ditemukan oleh sang waktu.

.....

Artamevia [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang