Motor hitam melesat dengan cepat meninggalkan area sekolah. Angin sepoi-sepoi membelah wajah mereka. Di perempatan jalan mereka berhenti, untuk makan sejenak menikmati bakso pinggir jalan. Arta sampai bosan, dia mengerucutkan bibirnya.
Banyak kaum hawa yang melirik ke arah mereka lebih tepatnya ke pemuda di sampingnya. Tanpa malu memesan dua mangkuk bakso. Arta mencubit pinggangnya dengan cepat dia menghindar, memasukkan tangan Arta ke dalam saku jaket.
Dia juga menyuapi Arta beberapa bakso, tetapi Arta menolak dengan menggelengkan kepalanya pelan. Pemuda itu menyerah. Dua mangkuk bakso dihabiskan di tempat. Pemuda itu mengangkat tangannya, memesan es teh manis ke tukang jualan di samping gerobak bakso.
Arta mengeluarkan tangannya dengan paksa. Pemuda itu tak bergeming malah acuh tak acuh. Arta menendang kakinya dan langsung dikunci rapat. Kini satu tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. Es teh manis tersedia di atas meja.
"Minum dulu haus," cengirnya.
Arta roll eyes. Pemuda itu terkekeh geli melihat tingkahnya yang lucu. Dia butuh perhatian. Tangan dan kakinya terlepas dari jeratan. Arta melenggang pergi. Pemuda itu membayar semua makanan.
Pemuda itu mengejarnya. Kaum hawa menjerit histeris tanpa alasan. Arta sudah duduk di atas motor dengan ekspresi wajah datar. Pemuda itu meringis karena diabaikan.
Dia mencoleknya, tetapi Arta menepisnya dengan kasar. Pemuda itu menyerah menggodanya. Ia bersandar di spion motor sambil menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Daritadi kok diam ajah terus tadi juga ditawarin makan gak mau. Kenapa coba?" Arta membuang muka. Pemuda itu menghela napas. "Gue ada salah ya? Maaf deh."
Tidak ada suara lagi.
Arta menoleh, wajahnya mendung. "Banyak yang tebar pesona, risi liatnya."
Pemuda itu mendongak, terus menyeringai. Dia maju ke depan, mengurung Arta dalam dekapan.
"Gue kan cogans, pasti banyak yang suka dong. Ciye cemburu," ledeknya sembari mencolek dagunya.
Arta mendorongnya menjauh. Menyilangkan kedua tangannya. "Oh gitu, yaudah pergi ajah sono. Gak usah deket-deket gue lagi."
Arta mencebikkan bibirnya kesal. Pemuda itu mencubit pipinya gemas. "Jahat banget masa gue dibuang. Udah gak mau sama gue lagi nih? Serius? Ya yaudah deh. Gue pergi."
Pemuda itu berbalik tanpa menoleh ke belakang menghiraukan tatapan Arta yang sulit diartikan. Semua itu membuatnya semakin kesal secepet kilat meneriakinya dengan lantang. Tak peduli dengan sekitar.
"Dasar gak peka!"
Pemuda itu tersenyum lalu berbalik badan dan langsung memeluknya erat. "Yaudah pulang yuk. Nggak baik bertengkar di luar banyak nyamuk mengintai," bisiknya.
Arta menenggelamkan wajahnya karena malu. Pemuda itu mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Pipinya juga dipermainkan seperti biasa. Arta membiarkan tangan itu bebas.
Mereka pulang ke rumah rusun. Semenit kemudian, motornya sudah diparkirkan dekat pohon. Mereka berjalan sambil bergandeng tangan. Daerah itu selalu ramai orang.
"Eh dedek gemesh udah pulang, sini salim sama emak," sapa pria kurus dengan wajah yang enak dipandang.
Note:
Kota A dihuni banyak pria jadi-jadian harap maklum guys :v
Pemuda itu mencibir, "Dasar Mak Lampir."
Arta tertawa kecil. Pria itu–Mery–tetangga sebelah. Dia melempar sendal ke arah pemuda itu. Tapi sayang bayangannya sudah menghilang dari pandangan.
"Di sini seru," gumam Arta pelan.
"Suka?"
Arta mengangguk dan berkata, "Semua orang di sini pada ramah meski banyak orang anehnya."
Pemuda itu ikut senang mendengarnya. Dia menyuruh Arta berganti pakaian. Dengan patuh Arta berjalan ke lantai atas. Pemuda itu melepaskan jaketnya. Pintu terketuk membuatnya menoleh penasaran. Dia keluar rumah.
Ditatapnya lama orang yang berdiri di depan. Pemuda itu bersender di pintu kayu menyilangkan kedua tangannya.
"Mau apa lo ke sini?"
Orang di depannya mematung.
***
Arta turun ke bawah dan tak menemukan sosoknya hanya jaket hitam yang bersandar manis di kursi. Arta juga melihat pintu terbuka. Kakinya melangkah maju, samar-samar mendengar suara orang mengobrol.
Arta mengintip dari balik pintu.
Diam tak berekspresi.
***
"Yo ayo semuanya kumpul. Malam ini akan ada layar tancep kuy pada ikutan," seru pria gondrong di atas gardu sambil membawa pengeras suara sebagai alat.
Arta dan pemuda itu terdiam. Suasana di sekitar menjadi hening. Usai obrolan singkatnya dengan orang lain. Raut wajah pemuda itu berubah menjadi datar. Arta tak berani bertanya-tanya lagian bukan urusannya juga.
Arta mendengarnya menghela napas berat membuatnya penasaran. Pemuda itu menoleh, menatap Arta diam kemudian, bersuara.
"Gak berniat pulang gitu."
"Ngusir?" tanya Arta balik dengan tatapan datar tak suka mendengar perkataannya.
"Bukan gitu. Emang lo gak kangen rumah? Ayah Bunda lo pasti nyariin anaknya dua harian gak pulang," jelasnya.
Arta menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia rindu akan tetapi, malas pulang. Pemuda itu mendekatinya, memainkan jari-jarinya di telapak tangan. Arta pun ikut terhanyut akan gerakan tangannya.
Pemuda itu berbisik, "Boleh cium gak?"
Arta membeku. Matanya berkedip beberapa kali. Dia menatap ragu pemuda di sebelahnya yang menatapnya dengan lembut.
Arta tak menjawab, melainkan tubuhnya bergerak sendiri. Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajah Arta. Dia menutup matanya perlahan. Sapuan lembut hinggap di bibirnya. Arta mencengkeram kaus pemuda itu dengan erat.
Hanya kecupan manis yang singgah tanpa hal lain. Pemuda itu menyudahi aksinya jika tidak mungkin dia tak 'kan bisa mengendalikan dirinya untuk menerkam mangsanya. Mereka menjaga jarak, pipinya diusap lembut. Arta membuka matanya, sorot mata tajam mengintimidasi.
Matanya bergerak gelisah. Apakah dia dalam bahaya sekarang? Tanpa sadar membangunkan hewan buas dalam diri pemuda tersebut. Tangannya masih santai bersender, pemuda itu menatapnya seolah-olah dia mangsa yang empuk.
Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai misterius. Pemuda itu semakin jatuh dalam pesona kucing kecilnya yang menggemaskan. Matanya menyapu nyalang.
"Ma-mau apa?" tanya Arta gugup.
"Makan enak," katanya serius.
Arta merasakan aura hitam mengelilinginya tanpa sadar sudah berada di dalam kamar–terbaring di atas kasur tanpa mengenakan pakaian. Arta menjadi linglung lantas menarik selimut, menyembunyikan wajahnya.
Kriet!
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosoknya yang rupawan. Rambutnya basah mengenai wajah serta rahangnya yang sempurna. Arta tak berkedip saat memandangnya. Tatapan mereka bertemu dan Arta pun tak tahu harus berkata apa. Dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi barusan.
Apakah mereka ...?
......
TBC
Yalord gemess banget aku nulis part ini awokawok. Uwu Arta tsundere sekali malu-malu kecapung, sedangkan yang satunya malu-maluin 😃
Numpang lewat ~
KAMU SEDANG MEMBACA
Artamevia [END]
Fiksi Remaja[FOLLOW SEBELUM MEMBACA!] Caesar Arta Viandra ialah sosok pemuda yang acuh tak acuh akan sekitar. Namun, sejak mengenalnya hidup lelaki bermata biru saphir lebih berwarna serta sifat cueknya, berubah haluan menjadi manja hanya kepadanya seorang. Ap...
![Artamevia [END]](https://img.wattpad.com/cover/251319604-64-k807330.jpg)