[BELUM REVISI]
Bukan tentang cinta segitiga atau geng motor di sekolah. Tetapi tentang seorang gadis polos yang harus bersandiwara menjadi istri seorang pengusaha muda, sementara dirinya masih terduduk di bangku SMA.
Pertemuan awal yang mendadak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo kenapa sih?" tanya Belinda.
"Ha? Eng... gak, enggak apa kok," jawabnya terbata.
"Lo nyembunyiin sesuatu dari kami?" sambung Anita.
Mendengar kalimat tersebut Bella yang sedang menyeruput teh di tangannya langsung muncrat membasahi roknya. Dengan sigap Bella bangkit dari posisinya untuk mengambil tisu, tetapi karena kepanikannya membuat semangkuk bakso yang ada dihadapannya tumpah membasahi seragamnya.
"Maaf, gue enggak sengaja."
"Lo kenapa salting gitu sih dari tadi? Selow aja kali," ucap Belinda sembari menyantap mie ayam di atas mejanya.
"Maaf untuk apa? Lo juga yang tumpahin sendiri di seragam lo," lanjut Anita.
Bella hanya membalas tatapan kedua sahabatnya dengan memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Tidak lama setelah itu seseorang menutup tubuh Bella dengan seragamnya yang berukuran besar jika dibandingkan dengan tubuh Bella. Gadis itu langsung menoleh ke belakang, terdapat Raymond yang sedang mengenakan kaos putih.
Bella lantas melepas seragam tersebut, namun tindakannya langsung ditahan oleh Raymond.
"Pakek aja, gue masih ada seragam lain di loker," ucapnya.
"Enggak apa, gue ada bawa baju olahraga di loker," balas Bella.
"Setidaknya lo pakek untuk nutupi tubuh lo sampai loker, gue enggak mau dalaman lo dilihat sama orang lain," ucapnya kemudian melangkah pergi.
Bella merasa malu serta geli ketika mendengar kalimat 'gue enggak mau dalaman lo dilihat sama orang lain' dari mulut pria tersebut.
Akhirnya Bella memutuskan untuk ke loker sendirian, mengambil seragam olahraganya dan menuju toilet.
"Nyebelin banget," gumam gadis tersebut sembari melempar seragamnya yang kotor ke dalam loker.
"Ini dimakan," ucap Raymond kemudian pergi begitu saja. Setelah meninggalkan sekotak susu dan sebungkus sandwich di loker Bella, sebelum gadis itu menutup pintu lokernya.
Memang Raymond yang terbaik, selalu mengerti dan tahu apa yang Bella butuhkan. Hanya saja Bella merasa tidak enak selalu menerima perlakuan special dari Raymond.
Tidak ingin menyakiti perasaan lelaki itu lebih dalam dan memberinya harapan palsu, segala cara sudah Bella coba. Namun tetap saja tidak merubah sikap lelaki itu.
***
Pacar Palsu Gue uda siap.
Send!
Bella mengirim pesan singkat pada nomor yang tertera pada kartu nama yang diserahkan Leo semalam sore.
Setelah selesai mengemas beberapa barang miliknya, Bella menuruni anak tangga dari tempat tinggalnya menuju restoran milik ibunya sembari membawa koper pink miliknya.