Chapter 22-END

10.4K 1.1K 136
                                        

Teriakan Renjun menggema, namun tak ada yang terusik kecuali Minhyung dan juga Lilith yang memang memegang kendali atas kesadaran semua orang di dalam kastil.

Manik Renjun menatap lurus kearah Jeno yang masih menatap kosong entah kemana. Melihat Jeno yang seperti itu membuat hati Renjun sedikit berdenyut sakit. Bagaimanapun juga, semua yang terjadi pada Jeno sampai saat ini adalah salahnya. Andai saja malam itu Renjun mengabaikan Jeno yang terluka parah, mungkin saja Jeno tak akan menderita lebih dari ini.

Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Renjun.

Lamunan Renjun terbuyar, matanya bergerak cepat meneliti setiap ruangan untuk mencari sumber suara yang anehnya familiar tersebut. Akan tetapi diruangan tersebut tak ada siapapun yang punya kesadaran penuh kecuali dirinya, Minhyung dan juga Lilith yang mulai menggertak geram.

Lilith tampak mendengus kesal, ia berputar hingga gaunnya berombak dan menghadap lelaki paruh baya di depan yang sepertinya juga bergerak tak sesuai dengan kemauannya sendiri.

"Lakukan!" Perintahnya.

Renjun mengerti apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Tanpa membuang waktu ia melesat cepat kearah mereka, dengan pedang terhunus tentunya. Akan tetapi sepertinya Renjun lupa jika masih ada Minhyung yang tak akan bermurah hati dengan membiarkannya mengacaukan segala rencananya.

Denting aduan pedang yang terdengar memekakkan menggema ke segala penjuru ruangan. Minhyung menyabetkan pedangnya, menangkis pedang Renjun hingga menyebabkan Renjun mundur beberapa meter. Kini fokus Renjun terbagi, antara mengalahkan Minhyung dan juga memastikan agar Jeno belum mendapatkan cap ditubuhnya.

Sialan. Umpat Renjun dalam hati. Ia kemudian bergerak kearah Minhyung dan menyerangnya secara membabi buta.

Meskipun serangannya cukup menyulitkan Minhyung, akan tetapi segala upayanya belum cukup untuk sekedar menyingkirkan lelaki itu.

"Menyerah saja," ujar Minhyung ditengah-tengah pertarungan.

Renjun tak menggubrisnya dan hanya berdecih pelan. Ia terus menerus menyabetkan pedangnya kearah lelaki itu.

Kemudian Renjun berpikir jika ia membuang-buang waktu. Ia lalu menarik sebuah kursi kosong dan melemparkannya kearah Minhyung, sementara lelaki itu menghindar dari lemparan kursinya ia berlari menuju altar dimana Lilith dan juga Jeno berdiri secara berdampingan.

Ketika tangan Renjun hampir menggapai tubuh Jeno, Minhyung kembali menyerangnya hingga tubuh Renjun terlempar menabrak pintu. Renjun terbatuk, sementara itu pedangnya terlepas dari genggaman dan terbuyar menjadi cahaya. Pandangan Renjun sedikit mengabur mengingat banyaknya energi yang ia keluarkan dalam perjalanan ketempat ini.

Samar-samar ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh lengannya, dan saat ia menunduk yang didapatinya adalah kelinci yang selama ini dipeliharanya. Dahi Renjun berkerut heran, jarak antara mansionnya dan kastil ini tak bisa dibilang dekat. Mustahil jika kelinci miliknya berjalan sejauh itu hanya untuk mengikutinya.

"Apa kabar? Renjun?"

Manik Renjun melebar bersamaan dengan sentuhan lembut dari sosok yang kini berdenyar halus dihadapannya. Ia tersenyum manis dan mengusap pipi Renjun yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

"Jaemin? Ta--tapi bagaimana?"

Renjun menunduk lagi, akan tetapi kelinci peliharaannya telah menghilang. Kemudian ia mendongak lagi menatap sosok Jaemin yang tak lebih hanya sebatas roh yang berdenyar lembut nan hangat.

"Mustahil..."

Baik Renjun dan juga Jaemin menoleh kearah Minhyung yang sepertinya sama-sama terkejut. Lalu Jaemin mengalihkan atensinya kearah Renjun lagi. "Waktuku tak banyak, kau harus menyelamatkan Jeno," ucap Jaemin.

Full Moon (End) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang