His sister

14.5K 1.9K 84
                                        

Tok

Tok

Tok

"Hyena-ya buka pintunya."

Jeno kembali mengetuk pintu rumahnya, sesekali dirinya mengusap kedua telapak tangan sekedar untuk sedikit menghangatkan dirinya.

Disaat dirinya akan mengetuk untuk yang kesekian kalinya, pintu dihadapannya berderit terbuka. Menampilkan sesosok gadis berusia belasan yang tampak terkejut akan kedatangannya.

"Kakak? Ini benar-benar kakak!?"

Jeno mengangguk sebagai respon dari pertanyaan yang sarat akan rasa tak percaya sang adik, membuat gadis itu langsung berhambur memeluknya erat.

"Kau kemana saja? Aku takut sekali kakak sudah beberapa hari tak pulang. Aku bahkan hampir menyerah mencarimu disetiap sudut kota."

Jeno tak segera menjawab, yang ia lakukan hanyalah mengusap surai hitam panjang sang adik.

Hingga kemudian sebuah aroma asing mengusik indera penciumannya. Membuat kepalanya seolah berputar dan membuat dirinya refleks mendorong mundur tubuh mungil adiknya.

"Kakak? Kenapa? Apa yang terjadi padamu?" Seru hyena dengan nada panik yang kentara.

Pasalnya kini jeno mengambil beberapa langkah mundur dengan tangan yang memegangi kepala.

Disaat hyena akan mendekatinya, jeno segera mengangkat satu tangan memberi isyarat agar ia tak melakukan hal tersebut.

"Aku tak apa, jangan mendekat padaku dulu."

Sejujurnya hyena ingin bertanya lebih pada sang kakak, namun ia harus mengurungkan niatnya tersebut melihat sepertinya ia benar-benar tak bisa mendekat pada jeno untuk saat ini.

"Ah, kakak lapar bukan? Aku baru saja memasak makan malam. Ayo segera masuk, udara di luar bisa jadi makin dingin."

Jeno mengangguk, ia kemudian melangkah masuk setelah hyena.

Begitu kedua kakinya menginjak lantai dapur dan ruang makan, indera penciumannya langsung menangkap aroma sup sayuran.

Harusnya ia menyukai aroma ini, tapi sekarang ia pun bahkan tak berselera untuk sekedar memikirkannya saja.

"Kak? Sedang melamunkan apa?"

Jeno terlonjak begitu bahunya di tepuk pelan oleh sang adik, ia menyunggingkan seulas senyum tipis lalu kemudian menggeleng pelan, "tidak ada ayo makan."

Jeno hanya memperhatikan sang adik yang menyiapkan segalanya dalam diam.

Dan tentang satu matanya yang berubah berwarna merah, ia melapisinya dengan sebuah softlens yang sempat dibelinya dalam perjalanan pulang.

Beruntung entah bagaimana di dalam saku jaket miliknya yang sedikit koyak akibat tikaman tempo lalu, terdapat sedikit uang yang dapat ia gunakan.

"Nah silahkan di makan, aku hanya bisa membuat ini dan itu pun hanya sedikit jadi kuharap kakak menikmatinya." Jeno ikut tersenyum kala gadis cantik itu tersenyum cerah.

Kini pandangannya teralih pada semangkuk sup dihadapannya. Dengan sedikit keraguan dirinya meraih sesendok sup dan memasukkannya ke dalam mulut.

Lidahnya seolah mati rasa, ia tak dapat merasakan rasa dari sup tersebut.

Terlebih lagi saat ini,

Perutnya seolah menolak makanan itu dan mendorongnya agar keluar kembali.

Jeno merasa bersalah.

Dirinya yang tiba-tiba berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua yang ia makan benar-benar hal yang paling di bencinya.

Full Moon (End) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang