Sepotong Bahagia untuk Alma

300 202 120
                                        

Alma

Ya, itu panggilannya. Nama kecil yang terdengar sederhana, tetapi hidupnya tidak pernah benar-benar sederhana.

Ayahnya adalah seorang penjudi dan pemabuk berat. Setiap pulang manggung, tubuh pria itu selalu dipenuhi bau alkohol dengan langkah yang sempoyongan. Hampir setiap malam, Alma kecil harus mendengar suara pertengkaran kedua orang tuanya memenuhi rumah sempit itu. Padahal, ibunya juga tidak selalu berada di rumah. Wanita itu sering pergi merantau demi mencari uang untuk kebutuhan mereka.

Kini usia Alma sudah menginjak lima tahun. Setelah sekian lama, ibunya akhirnya pulang karena ingin merayakan ulang tahunnya di rumah sang nenek.

"Alma, ayo siap-siap, Nak. Kita mau pergi ke rumah Nenek," ujar ibunya lembut sambil memasukkan beberapa pakaian kecil milik Alma ke dalam tas lusuh di sampingnya.

Belum sempat Alma menjawab, suara berat ayahnya lebih dulu terdengar.

"Eh, kamu itu kalau ditanya nggak pernah dengar, ya? Ngapain buang-buang waktu ngajak Alma ke rumah neneknya segala? Ulang tahun juga bisa dirayain di rumah."

Ibunya langsung menoleh. "Mas, aku ngajak Alma ke rumah Ibu juga jarang banget, kok."

"Tapi rumah Ibu jauh, Dahlia..." balas ayahnya dengan nada tidak suka.

"Cuma sesekali aja. Lagian, kamu juga sering ninggalin Alma sendirian di rumah, kan?"

"Aku kerja."

"Ah, sudahlah. Aku tetap mau bawa Alma."

Perdebatan itu kembali terdengar. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar berubah di rumah itu.

Sementara kedua orang tuanya saling beradu suara, Alma kecil hanya duduk diam di sudut ruangan sambil memakan es krim pemberian ibunya. Tatapan polosnya sesekali berpindah pada ayah dan ibunya yang terus bertengkar.

Pemandangan seperti itu sudah terlalu sering ia lihat setiap kali sang ibu pulang ke rumah.

Rumah nenek Alma memang berada jauh di luar kota, tidak terlalu jauh dari tempat ibunya bekerja selama merantau. Karena itulah ayahnya selalu tidak suka jika Dahlia membawa Alma ke sana. Pria itu takut Alma akan merasa lebih nyaman tinggal bersama keluarga ibunya—bersama bibinya yang usianya masih muda dan jauh lebih perhatian padanya.

"Aku tetap pergi, ya, Mas. Mobil rentalnya juga sudah aku pesan," ucap Dahlia pelan, tetapi tegas.

Ayah Alma hanya diam. Wajahnya tampak acuh seolah tidak peduli, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah istri dan anaknya. Sementara itu, Dahlia menghela napas pelan sebelum berjalan mendekati Alma. Wanita itu lalu menggendong putrinya dengan hati-hati. Alma yang masih kecil hanya memeluk leher ibunya erat sambil menatap ayahnya dari bahu sang ibu. Namun, pria itu tetap diam di tempatnya tak berniat mengantar mereka keluar rumah.

Rumah itu kembali terasa dingin.

Padahal hari itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi Alma kecil.

Alma dan ibunya berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Seorang sopir tampak menunggu di balik kemudi sejak beberapa menit lalu. Dahlia membuka pintu belakang mobil perlahan, lalu membantu Alma masuk dan duduk dengan nyaman di dalam.

Setelah memastikan putrinya baik-baik saja, Dahlia kembali turun dari mobil. Langkahnya mendekati sang suami yang masih berdiri di ambang pintu rumah dengan wajah datar.

"Aku pamit dulu, Mas. Assalamualaikum," ucap Dahlia pelan sembari menundukkan badan dan mencium tangan suaminya.

Pria itu hanya mengangguk singkat tanpa menatap istrinya.

ALMACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang