Pelajaran Pertama Tentang Kehidupan

269 188 172
                                        

Keesokan harinya, Alma terbangun saat sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah dinding kayu kamar. Gadis kecil itu mengucek matanya pelan sebelum turun dari tempat tidur.

Saat berjalan keluar kamar, ternyata semua orang sudah berkumpul di dapur.

Rumah nenek Alma sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rumahnya di kampung. Sama-sama rumah panggung tua yang sudah tampak lusuh dimakan usia. Namun entah kenapa, suasananya terasa jauh lebih hangat.

Aroma masakan pagi memenuhi ruangan kecil itu, bercampur dengan suara obrolan dan tawa sederhana keluarga mereka.

"Eh, tuan putri udah bangun," ujar Endang sambil meletakkan beberapa piring di depan anggota keluarga lainnya.

Alma hanya tersenyum malu-malu sambil mengusap matanya yang masih berat karena kantuk.

"Sini, Nak," panggil Dahlia sambil melambaikan tangan ke arah putrinya.

Alma langsung berjalan menghampiri ibunya dengan langkah kecil, lalu duduk patuh di samping wanita itu.

Dahlia tersenyum tipis sebelum merapikan rambut Alma yang masih berantakan.

"Laper?" tanyanya lembut.

Alma mengangguk pelan sambil melihat berbagai lauk sederhana yang tersaji di atas meja makan kayu itu. Meski hanya masakan rumahan biasa, rasanya jauh lebih menyenangkan daripada makan sendirian di rumahnya sendiri. 

Dahlia langsung mengambil sebuah piring, lalu menyendokkan nasi untuk Alma dengan lauk sederhana yang sudah tersedia di meja.

Alma makan dengan tenang sambil sesekali mendengarkan obrolan para tantenya di dapur.

Setelah sarapan selesai, Alma berjalan kecil ke dekat jendela rumah. Tatapannya tertuju pada beberapa anak yang sedang bermain di halaman rumah tetangga. Suara tawa mereka terdengar begitu riang.

"Aunty! Aunty!" panggilnya tiba-tiba.

Irin yang sedang membereskan meja langsung menoleh. "Kenapa, Nak?" tanyanya.

Alma menunjuk ke arah luar rumah. "Aku boleh main sama mereka nggak?"

Irin mengikuti arah telunjuk Alma, lalu tersenyum kecil.

"Boleh dong."

Wajah Alma langsung berubah cerah.

"Tapi anterin aku, ya. Aku malu," pintanya sambil terkekeh kecil.

Melihat tingkah lucu keponakannya, Irin ikut tertawa.

"Iya... iya... ayo."

Mereka pun turun dari rumah panggung itu dan berjalan menuju rumah tetangga tempat beberapa anak sedang bermain.

Di sepanjang jalan kecil kampung itu, tangan Alma terus terayun mengikuti langkah Irin yang jauh lebih tinggi darinya.

"Eh, Aunty..." panggil Alma tiba-tiba.

"Hm?"

"Nenek sama Kakek mana? Kok udah cepet banget nggak ada?"

Irin menatap Alma sekilas sebelum menjawab pelan.

"Nenek kalau jam segini biasanya lagi mulung keliling kampung. Pulangnya kadang sore, atau kalau plastik yang dia dapat udah banyak."

Alma terdiam mendengarkan.

"Kalau Kakek narik becak. Tapi kalau lagi nggak dapat penumpang, biasanya kakek keliling cari orang yang mau jahit sandal atau sepatu."

Penjelasan itu membuat Alma menunduk pelan. Baru kali ini ia tahu kalau kakek dan neneknya bekerja sekeras itu.

ALMACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang