.

205 174 137
                                        


Keesokan harinya, Alma bangun lebih awal dari biasanya.

Udara pagi masih terasa dingin ketika ia berjalan keluar kamar. Dari dapur sudah tercium aroma masakan buatan ibunya yang memenuhi rumah panggung itu. Sementara dari arah gudang terdengar suara berisik barang-barang yang sedang dipindahkan.

Dengan langkah kecil, Alma berjalan menuruni tangga menuju gudang di bawah rumah.

Ternyata di sana sudah ada neneknya bersama Irin dan Endang yang sibuk memilah barang-barang bekas ke dalam karung besar.

"Mau ke mana, Nek?" tanya Alma sambil menghampiri mereka.

"Mau ke tukang timbangan," jawab Irin cepat tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Mau ikut!" seru Alma antusias.

"Nggak boleh," sahut Endang dengan nada bercanda.

Wajah Alma langsung berubah cemberut. Ia lalu menatap neneknya penuh harap, seolah sedang memohon agar diizinkan ikut.

Melihat ekspresi polos cucunya, nenek Alma hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Iya deh, ikut aja."

Mata Alma langsung berbinar senang.

"Aku diizinin, weee!" serunya sambil menjulurkan lidah ke arah Endang.

"Eh, nggak boleh gitu," tegur Endang pura-pura galak.

Namun Alma malah tertawa kecil lalu bersembunyi di belakang neneknya.

Suasana pagi itu dipenuhi tawa sederhana mereka. Meski hidup serba kekurangan, rumah tua itu tetap terasa hangat dengan kebersamaan kecil yang jarang Alma dapatkan di tempat lain.














Author *Alda Maylanda*

ALMACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang