5| Name Tag

142 35 4
                                        

Diwaktu-waktu malam kini, sang penghuni kamar tengah diam berdiri di jendelanya.

"Memangnya kamu udah ada niatan buat pakai hijab?"

"Ah?" naik alis Keisya. "eee.. Belum tahu hehe. Saya.. Masih banyak yang belum saya pahami di agama saya sendiri."

"Gak papa. Setiap orang pasti punya masanya. Masa dimana mereka lahir.. Masa diman mereka baru mengenal.. dan masa dimana mereka untuk berubah. Yang penting, jangan putus asa. Jangan peduliin kata-kata orang lain. Terus kejar, selagi itu hal yang baik. Apalagi, berniat untuk merubah sikap menjadi lebih baik, itu udah luar biasa dimata Allah. Allah selalu melihatnya adalah hati. Hati yang tulus dari seorang hamba."

Keluar hembusan panjang darinya, setelah teringat ucapan itu kembali. Ia cukup kaget oleh pertanyaan tadi, yang mengatakan apakah sudah ada niatan berhijab? Sungguh membuatnya terpojok dan tersindir. Bukan pertanyaannya yang salah, namun, dirinya saja yang merasa sangat malu dengan wanita bercadar tadi.  Ia dan wanita itu sangatlah jauh. Jauh dalam ketaatan beragama. Menjawab pertanyaan itu pun, mungkin Keisya hanya menggelengkan kepala. Ia benar-benar belum siap tuk menutupi tubuhnya ini dengan baik. Ia belum biasa dengan itu.

Lalu, Keisya memandang lamun ke jendela kamar yang menampakkan langit berbintang.

Gw lebih baik belajar dulu. Gw cari tahu dulu sebelum melakukan.

Mah, Keisya akan wujudkan keinginan mamah. Keisya akan berubah, tapi.. pelan-pelan dan butuh waktu.

Keisya mengusap wajah.

Hah, ini gak mudah.






°°°
Tepat jam delapan malam ini, Johan serta Santy baru tiba di istananya. Seperti biasa, pembantu rumah menyambut dengan penuh keramahan. Dilihat, ketika masuk ke dalam rumah, Santy sudah menenteng bungkusan makanan di tangannya.

Pasangan tersebut istirahat sejenak lebih dulu di ruang kerluarga, sebelum mereka naik ke kamar.

Santy menaruh kotak besar berisi pizza di meja. "Ayoo kita makan-makan.." tangannya mengekuarkan segala belanjaan   makanan dan minuman.

"Oh ya, masa kita berdua aja. Langit mana, ya?" ucap Johan baru tersadar oleh itu.

"Oh iyaya, mana dia. Mbok, Langit ada dimana? Dia sudah pulangkan?"

Mbok Yuyun langsung berjalan menghampiri Santy. "E, ada Bu. Den Langit sedang di kamarnya."

"Yaudah, coba panggilkan suruh ke sini, ya."

Angguk patuh Mbok Yuyun. "Baik, bu."

Duduk di sofa, Johan melepaskan jaz kerjanya dan tinggal sebuah kemeja putih yang ia pakai. "Setiap hari begini. Rasanya cape juga."

"Namanya juga pekerja, pasti cape dong, Pah."

Lalu, suara langkahan kaki terdengar dan membuat dua orang itu menengok sendiri.

"Hai, anak mamah." tersenyum Santy melihat sosok putranya sedang berjalan mendekat. "tadi lagi apa kamu dikamar?"

Langit duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya. "Main game."

"Emm.." angguk-angguk Santy, sudah paham kebiasaan putranya. "terus sekolah gimana? Mamah denger kemarin abis ulangan harian. Gak ada nilai jelekkan..? Kamu harus terus belajar, loh." Santy tidak mau dengar jika Langit menyewakannya oleh sebuah nilai.

"Mamah Papah gimana kerjanya? Kapan inget waktu sama anaknya? Mamah Papah cuman bisanya nyuruh Langit belajar dan belajar, sedangkan Mamah Papah gak pernah bantu dan beri perhatian ke Langit."  cowok itu langsung bangkit. Ia memutuskan pergi ke kamar.

Insya Allah Sholihah ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang