Setiap kata dari pena ini, memberikan rasa getir diseluruh kujur tubuh. Kata yang memiliki makna dalam nan tersentuh lembut pada hatinya.
Kecil demi kecil, pikirannya tersadar akan segala hal yang baru ia sadari dari buku ini. Rasanya, ia adalah manusia yang paling bodoh dan terlambat.Semua kalimat di buku memperjelas, bahwa dirinya sangat salah dan berdosa sebagai seorang wanita yang sebenarnya mahluk termulia.
Dia tersedak sendiri oleh tangisannya. Saking sunyinya tangisan siswi ini, tidak satu pun orang sekitar menyadari.
Perlahan, jatuh kepalanya ke dasar meja. Ia melemas sekaligus berkaca-kaca dibuatnya. "M-mah, Maafin aku.." bahunya bergertar, mulai menyadari akan dosa dan kelalaian yang telah dirinya perbuat sepanjang hidup.
Tiga hari sebelumnya.
Suara-suara bacaan surah yasin terus terdengar di dalam rumah besar, milik Jendral TNI Angkatan Darat. Keluarga besar, sanak saudara, tetangga, sahabat dan kerabat kerja pun, memenuhi rumah ini.
Disamping itu, suasana pengajian yang tengah berlangsung diiringi suara tangisan dari berbagai pihak. Terutama Satria sebagai suami dan Keisya anak sematawayangnya. Tentu saja, melihat keadaan ini, menjadi benturan hebat bagi dua orang tersebut. Diana, adalah seoarang ibu yang selalu memberikan kasing sayang di setiap waktu. Senyum panjang tak henti ia berikan di depan orang-orang terkasih. Apalagi, ketika ia sedang berjuang melawan penyakit diabetes yang dialami. Seolah, ia orang yang paling kuat dan bahagia. Tetapi sekarang, di detik ini, wanita baik itu sudah terbaring lemas tak bernyawa. Kain putih sudah membungkusnya dan matanya pun, tak bisa membuka lagi walau sekejab saja.
Satria dan Keisya, telah mendapatkan ujian yang mau tak mau, harus mereka terima. Sosok perempuan hebat di keluarganya, telah berpulang lebih dulu kepada Sang Maha Kuasa.
Malam semakin larut, para pelayat mulai mengundurkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Seorang ustad wilayah rumah ini, menghampiri Keisya karna ada sesuatu hal yang mesti ia sampaikan.
"Keisya, yang tegar ya. Melihat kondisi sekarang ini, saya mengharapkan kamu bisa jadi anak yang kuat. Dan juga.. Merubah diri yang lebih baik. Bila kamu tahu, Ibumu sekarang, akan menghadap pada Allah SWT. dan tentu diminta pertanggung jawabnya atas mendidik kamu selama ini. Kamu sayangkan sama ibumu?"
Angguk Keisya masih berekspresi sendu.
"Kalau begitu, saya sarankan mulailah menutup auratmu, perbaiki sikapmu dan jagalah nama baik keluargamu. Semua orang tua, lebih beruntung memiliki anak yang sholeh dan sholelah dibandingkan pintar dalam bersekolah saja. Sebab, semua itu, akan menyelamatkan mereka di akhirat nanti. Sayanginya Papah saat ini ya, kamu tinggal memiliki dia saja. Sudah, kamu jangan terus menangis. Coba tersenyum sedikit, in syaa Allah buat kamu lebih baik." Ustad memberikan senyum semangat.
Air matanya keluar lagi, dalam kadaan kepala masih terbaring di meja. Siswi ini benar-benar bersedih. Menyesak mengingat saran itu. Sebuah saran yang sangat mengena bagi pribadinya. "G-gue.. Gue salah selama ini."
🔔Kringg..!!
🔊Istirahat sudah selesai. Selanjutnya jam ketiga akan segera dimulai.
"Kemana sih tuh anak? Tiba-tiba ngilang gitu aja. Mana bel barusan bunyi. Lu dimana sih, Keis?!" Cristy celingak-celinguk di sepanjang lemari-lemari perpustakaan. Ia datang ke ruangan ini, hanya mencari sahabatnya yang tiba-tiba hilang di kelas ketika jam istrahat.
Berjalan perlahan, seketika menangkap jelas sosok siswi yang menaruh kepala di meja.
Cristy langsung mengerut. "Itu Keisya bukan, sih?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Insya Allah Sholihah ✅
Teen Fiction"Mengejar cinta? Bukan saatnya membuang waktu percuma. Gw akan terus mengejar Dia, Dia dan Dia Sang Maha Cinta." -Keisya Maharani Audya Ini, cerita seorang remaja biasa. Ketika sebuah cobaan datang, membuatnya tersadar akan posisinya. Segala upaya...