Kilas masa lalu

150 21 2
                                    

Setelah 3 hari di rawat akhirnya Alana dapat kembali kerumah. Selama tiga hari pula interaksi hubungan Alana dan kedua orang tuanya sama seperti sebelumnya. Masih terjadi perang dingin, entahlah mungkin Alana masih kecewa dengan kedua orang tuanya. Ralat. Bukan kedua orang tuanya saja tapi semua orang, semua yang menyembunyikan segalanya dari Alana.

Alana tipekal orang yang keras kepala dan ambis akan sesuatu. Kalau dia ingin ini berarti harus ini tidak boleh itu. Ambis, Alana ambis bukan dalam pelajaran. Kalau sudah menyangkut pelajaran Alana nyerah deh males banget pokoknya tapi ya otaknya ga bodoh-bodoh amat aga pinter-pinter juga. Tapi masih pinteran Ken yang jelas.

Di kamar. Alana duduk di depan meja rias. Ia memperhatikan wajahnya memandangi dengan lekat wajahnya sendiri. Alana berfikir apakah kembaranya nanti mirip dengan dirinya atau tidak? Apakah ada wajah modelan seperti Alana namun versi cowok nya.

"Kira-kira wajah gue sama Kakak gue mirip ga ya?" tanya Alana pada dirinya di cermin.

"Mirip deh kayaknya mah, kan kita kembar ya jelas pasti mirip" lagi Alana berbicara sendiri pada cermin.

Alana tiba-tiba memukul kepalanya sendiri sedikit lebih keras. 'Duk..duk..'

"Duh sakit!"keluh Alana. Bagaimana tidak sakit? Kalau Alana memukul palanya dengan remot AC. Kalau tidak ingin sakit pakai saja balon.

Alana memukul kepalanya supaya dia bisa mendapatkan ingatanya kembali. Konon katanya kalau orang yang terkena Amnesia alias lupa ingatan, mereka akan mengingat kembali jika kepalanya terpukul atau terbentur sesuatu lagi.

"Kok gue ga bisa balikin ingetan gue sih!"kesal Alana. Sudah sakit-sakit kepalanya ia pukul pakai temot AC eh malah tidak ada ingatan yang muncul.

♤♤♤♤♤

"Keyyyy! Kamu hati-hati dong!" Omel Bocah laki-laki itu kepada bocah perempuan yabg sedang duduk di aspal karena terjatuh dari sepedah.

Bocah perempuan tersebut menangis menutup matanya dengan telapak tangan. Kakinya sakit karena goresan ketika dia jatuh ke aspal.

"Sakitttt Kakkk hikss..." adu Bocah perempuan itu.

"Makanya kalo disuruh pelan-pelan tuh dengerin jangan ngeyel" lagi Bocah laki-laki itu mengomeli Bocah perempuan itu.

"Ihhh Kakak kok gituuu aku lagi kesakitan malah di omelin."

"Rasain biar kapok."

"Huaaaa Mamaaaa Kakak Jahattt" Bocah perempuan itu malah semakin kencang menangis.

Seketika Bocah laki-laki itu panik kala tangisanya bertambah kencang. "E-eh jangan nangiss" Bocah laki-laki itu memeluk Bocah perempuan itu dan mengelus halus kepalanya.

"Habisnyaa Kakak bukanya tolongin aku malah ngomelin aku hiks...hiks."

"Iya-iya maaf deh...nanti Kakak beliin es krim deh, tapi jangan nangis lagi oke."

"Bener yaaa beliin aku es krim nanti.."

"Iyaaa honeyy."

"Promise?" Bocah perempuan itu mengangkat jari kelingkingnya.

Bocah laki-laki itu mengaitkan kelingking mereka "Promise.."

KENALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang