18. Rival

1.2K 100 5
                                    

at Jaemin's Apartment

Jaemin melangkah memasuki area apartemennya dengan langkah gusar dan ia terlihat begitu kepikiran dengan apa yang Hana katakan.

"Bibi Kim, saya pulang-
Ngapain lo di sini?"

BUGH

Baru saja Jaemin bertanya untuk apa urusan Mark datang ke apartemennya namun satu tinjuan melayang tepat di pipi kanan Jaemin hingga ia tersungkur.

"HEI APA APAAN LO?!"

Belum sempat Mark menjawab, ia menarik Jaemin hingga bangun dan menyeret lengannya untuk keluar dari apartemen.

"Kemana aja lo?"

"Bukan urusan lo. Ngapain lo nanya nanya gue??"

"Ngapain gue nanya? Asal lo tau, cewe lo sakit hari ini., dan lo malah ninggalin dia?!"

Jaemin seketika terdiam dan memandang Mark dengan tatapan terkejut.

"Kaga tau kan lo? Ya iyalah, cowo bangsat kaya lo mana ngerti keadaan cewe. Bisanya mainin cewe doang"

"Anjing lo"

Saat Jaemin hendak menghajar Mark, namun Mark hanya tertawa mengejek sambil menantang Jaemin dengan memiringkan wajahnya.

"Ayo hajar gue, Jaem."

Untuk sejenak Jaemin berpikir untuk tidak membuat Mark membencinya. Ia butuh Mark untuk informasi perihal kakaknya, Hana. Tangan Jaemin masih mengepal kuat namun seolah tertahan oleh akal pikirannya. Jaemin pun melepas kepalan tangannya seraya bernafas gusar dan mengalihkan pandangannya dari Mark.

"Jangan lo pikir gue kaga hajar lo karena gue pengecut. Gue cuma kaga pengen hubungan pertemanan kita rusak"

Saat Jaemin hendak masuk kembali ke dalam apartemen, tangan Mark menahan lengan Jaemin.

"Lepasin gue" gertak Jaemin

"Gue juga kaga pengen ngerusak pertemanan kita. Gue cuma pengen kasih hal yang adil buat Nari. Gue harap lo kaga lupa, kalo gue pernah suka sama dia. Perlu lo inget satu hal Jaem. Kalo lo kaga bisa jagain dia, gue yang bakal jagain dia. Gantiin lo" ujar Mark dengan nada yang cukup dingin.

"Gue bisa jaga dia sebaik mungkin" ujar Jaemin sebelum ia melepas tangannya dari Mark.

"Oke, buktiin omongan lo bukan cuma omong kosong" ucap Mark saat Jaemin melenggang masuk kembali ke dalam apartemennya.

.
.
.
.

Jaemin terlihat memasuki kamar Nari dan ia menatap Nari dari ambang pintu. Di atas kasurnya, Nari berbaring dengan kedua mata terpejam dan kompres berada di dahinya. Bahkan bibir dari wanita itu tampak pucat.

"Tuan?"

Jaemin yang dipanggil oleh bibi Kim lantas tersentak dan menoleh. Matanya terlihat sedikit panik dan tangannya mengusap tengkuk seolah sedang merasa canggung karena ketahuan.

"Ah maaf bi, bibi mau masuk ke dalam?"

"Tidak. Harusnya bibi yang bertanya.. apa tuan tidak ingin masuk ke dalam untuk menemani nona Nari?" tanya bibi Kim seraya melirik sekilas ke dalam kamar dimana Nari terbaring.

"Tidak bi, biarkan saja dia beristirahat. Tolong rawat dia untuk sementara, saya masih banyak urusan." ucap Jaemin pada akhirnya dan melenggang begitu saja setelah berpamitan pada bibi Kim. Bibi Kim hanya menatap punggung Jaemin lalu menghela nafas berat sambil menggelengkan kepala perlahan.

"Padahal nona Nari membutuhkannya" batin bibi Kim lantas menutup pintu kamar Nari dan beliau memutuskan untuk menemani Nari yang tengah sakit.

.
.
.
.

THE SEXRET BOY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang