part -11 ~hantu jadi jadian

38 3 1
                                    

"kenapa kau takut hantu? "

"Karena hantu tidak bisa di pukul, kalo zombie bisa di pukul "

__--

Kenyataan adalah sebuah realita yang harus kita hadapi, apapun resiko nya, suka atau tidak nya, kenyataan harus di hadapi !

Jangan lari dari kenyataan! Jangan bersembunyi di balik ekspetasi! Kita harus hadapi yang namanya kenyataan dan realita.

Lari dari kenyataan, mungkin itulah yang terjadi kepada ullya, gadis kecil dengan takdir malangnya, dia mengira keluarga nya sudah tiada, tapi keluarga nya muncul kembali dengan membuat sebuah ledakan perasaan bersalah di hatinya.

Ketika mati lampu terjadi... Disisi Rania dan Ray....

__-

"Ray, cari senter ! Gue gak bisa liat nih !" Rania yang berada di rumah hantu yang sudah gelap, sekarang tambah gelap dengan tidak adanya 1 pun cahaya di rumah itu.

Rania meraba raba sebelahnya berharap bisa menemukan Ray.

"Rania, fungsi tersendiri handphone apa ?". Tanya Ray ketika tangan Rania berhasil memegang tangan Ray yang sedang mencari handphone nya di saku celananya.

"Ah ? Lo bener, hampir aja lupa ada senter di hp" Rania melepas tangan Ray dan merogoh saku celana pendek nya, berharap menemukan benda tipis dengan banyak kegunaan itu.

"Nah ketemu" dia bersorak senang, dan menghidupkan fitur senter di handphone.

Dia menyorot ke arah wajah Ray, sehingga Ray harus menutup mata dengan perubahan cahaya yang tiba tiba.

"Akh Rania, alihkan senter itu dari mata ku" Ray berbicara ketika Rania yang masih menyorot wajah nya.

"Ah hahahaha maaf " cicit Rania dan menyorot ke bawah, ke lantai yang sekarang di pijak nya.

"Sudah ku bilang kan Rania, seharusnya kau ikut dalam pelatihan "mata gelap" jika keadaan seperti ini terjadi lagi, dan kau tidak menemukan senter bagaimana ? Bukankah itu susah ?" Omel Ray kepada Rania yang menundukkan wajahnya ke bawah, dan menautkan jari jari tangannya.

"Maaf, lain kali aku akan ikut" ucap Rania patuh, dia tidak lagi menggunakan kata lo-gue, karena suasana nya di dominasi oleh Ray yang ingin marah.

"Ah sudahlah, baiklah mari kita keluar dari sini, Rania tolong senterin jalan keluarnya " ucap Ray, dia menarik tangan Rania ke arah pintu keluar, dan Rania bertugas untuk menyorot jalan yang akan mereka lalui.

Sebelum tiba tiba datang segerombolan orang yang mirip seperti hantu dengan pakaian putih.

"Aaaaaaa Ray! Ray !Ray!, disana disanaaa!!! Ad-ada hantu, ayo lari cepetan !! Ayo Ray !" Rania yang sebenarnya takut terhadap hantu itu kembali menarik tangan Ray agar berlari.

Ray hanya mengikuti Rania yang ingin membawanya, dia tidak tau ingin di bawa kemana, tapi di hanya mengikuti nya karena Rania menarik tangan Ray.

"Rania, bukan kah kau sedikit aneh ? Kenapa kau takut hantu ?" Tanya Ray yang masih setia berlari dengan Rania di depan nya.

Tiba tiba Ray merasakan air yang menetes tepat di kulit wajah nya sendiri, dia merasakan nya lagi Dan lagi, sehingga Rania yang masih terus berlari menghadapkan wajah nya kepada Ray.

Ray terkejut, sangat jarang melihat Rania menangis, bahkan jika kau memotong tangan atau kaki nya dia tidak akan menangis.

"Hiks aku takut kepada mereka itu, karena mereka tidak bisa ku tinju, hiks kalo zombie hiks mereka masih bisa hiks di tinju, hiks kalo hantu gak bisaaaa" dia berbicara dengan air mata yang masih menetes.

Lia 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang