---
Happy Reading❤
----
Masih hari pertama puasa, tapi Mark dan Jeje malah hampir telat sahur. Mereka baru bangun 15 menit sebelum waktu imsak. Itu pun terbangun karena Isam yang menangis. Akhir-akhir ini bayi gembul itu memang suka rewel karena giginya kembali tumbuh.
Mark masih terkantuk-kantuk dengan Isam dipangkuannya. Sementara itu istrinya sedang memanaskan makanan. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk menyelesaikan aktivitas menyiapkan makanan.
"Isam ayo dipangku mommy. Biar daddy makan dulu." kata Jeje setelah menyimpan piring berisi makanan di depan Mark. Tetapi anak itu tidak mau ikut dengan Jeje, bahkan kini Isam memeluk leher ayahnya dengan erat.
"Aku suapin aja ya Mas?"
Mark mengangguk saja, menerima suapan demi suapan dari sang istri. Tangan kanan dan kirinya menopang tubuh gemuk Isam.
Selama menyuapi Mark, Jeje juga menyendokkan makanan ke mulutnya sendiri. Kalau nanti-nanti keburu imsak.
Tepat ketika mereka berdua menandaskan air minum, suara imsak terdengar.
"Alhamdulillah tepat waktu." kata Mark.
"Ya udah sana Mas bawa Isam bobok lagi. Aku mau beresin ini dulu."
"Nggak nanti aja? Lagian ada Bi Mirna kan."
Jeje menggeleng, "Nggak perlu. Kasian Bi Mirna udah bersih-bersih rumah dan nyuci baju masih harus nyuci alat bekas makan kita."
"Mas ke kamar dulu ya."
"Iya, jangan tidur ya. Sebentar lagi subuh."
Tangan kanan Mark mengusap puncak kepala Jeje sebelum berlalu dari dapur.
----
Sementara di rumah Sehun, Lio dan Lia juga sudah siap di meja makan sejak pukul 3 pagi. Tahun ini keduanya belajar puasa loh😍
Dua anak itu tidak punya rasa kantuk. Kedua mata mereka berbinar ketika Sejeong meletakkan lauk pauk di meja makan. Bibir keduanya juga tidak berhenti mengoceh serta bertanya pada orang tuanya.
Sehun tertawa kecil melihat kedua anak bungsunya yang lucu. Ia lalu beralih menatap Jisung yang menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangan di atas meja. Bujang satu itu mengantuk karena tadi malam setelah tarawih ia harus menyelesaikan koreografi untuk event bula depan.
"Kids, pakai celemek makan kalian." ujar Sejeong. Lio dan Lia menurut. Dengan bantuan Sehun, keduanya sudah rapi siap makan.
Lio saja sudah menyodorkan piring pada Sejeong agar segera diisi dengan nasi dan lauk pauk.
"Abang Ji, bangun dulu sahur." kata Sehun.
Jisung menggeliat dan beranjak dari kursi untuk mencuci wajah atas saran sang ibu tentu saja.
"Lio sama Lia puasa sampai maghrib?" tanya Jisung.
"Iya dong." jawab keduanya.
Jisung terkekeh, "Beneran loh ya. Kalau hari ini bisa sampai maghrib, besok abang ajak kalian ngabuburit sama Kak Lucy."
"Beneran??"
Jisung mengangguk menanggapi pertanyaan kedua adiknya.
"Yeayy!! Mau ngabuburit!"
"Anakmu Pa, seneng banget." kata Sejeong.
"Iya anakku seneng banget dimanjain abangnya." Sehun terkekeh diakhir kalimatnya.
----
Rose terpaksa harus menyiram wajah ganteng suaminya agar terbangun dari tidur. Sudah sejak setengah jam yang lalu ia membangunkan Jaehyun, tapi bapak satu anak itu tetap bergelung dalam selimut hangatnya.
Lea juga sudah membangunkan dengan cara loncat-loncat ditubuh sang ayah. Tapi malah Lea yang tertarik ke bawah untuk dipeluk Jaehyun.
"Melek Papa!"
Rose sudah kembali mengomel ketika Jaehyun tetap saja tidur meskipun sudah berada di meja makan.
"Ngantuk sayang."
"Makan dulu, tidurnya di lanjut nanti."
"Hmmm."
Jaehyun akhirnya makan sementara Rose sibuk menyiapkan makanan untuk si kecil. Putrinya itu terbangun gara-gara mendengar suaranya yang membangunkan Jaehyun.
Memang kuping Jaehyun itu seperti tidak punya fungsi saja.
----
Jeno dan Jaemin memutuskan untuk sahur bersama karena rumah mereka yang berhadapan.
Minju dan Siyeon sedang menyiapkan makanan di dapur milik Nyonya Siyeon. Keduanya memang kadang suka masak bersama sih, jadi ya mereka iya-iya saja ketika para suami mengajak sahur bersama.
Sementara Diya dan Gavin tidur di kamar, Jeno dan Jaemin bermain game online di ponsel mereka masing-masing.
Siyeon dan Minju yang berada di lantai satu bisa mendengar suara para suami yang berada di lantai dua. Terdengar bahwa mereka sangat menikmati acara mabar.
"Asik bener itu si kembar."
Minju tertawa mendengar perkataan Siyeon. Dia mengangguk saja sembari meletakkan mangkok sayur ke atas meja.
"Aku panggil mereka dulu deh ya, Si."
"Gih sana. Keburu imsak ntar."
----
Jeje tiba-tiba panik ketika teleponnya pada Ghina tidak bisa terhubung. Dia juga sudah menelepon rumah, bertanya pada Bi Mirna apakah Ghina dan Isam sudah pulang dari taman kompleks atau belum.
Bi Mirna menjawab belum, padahal sudah hampir 3 jam sejak mereka pergi. Toh ini sudah siang, tidak mungkin mereka berjalan-jalan di bawah terik matahari seperti ini.
Jeje jadi tidak fokus pada pekerjaannya. Ia meminta izin untuk pulang dahulu. Dengan segera ia memesan ojol dan pergi ke taman kompleks.
Tapi yang ia dapatkan taman kecil kompleks itu kosong. Benar-benar kosong tidak orang.
Ia terduduk, panik menyerang dirinya. Tangannya bergetar ketika menelepon sang suami.
Ia mengatakan dengan terbata situasi apa yang tengah ia alami. Termasuk menceritakan nomor yang tidak ia kenal mengirimkan pesan padanya bahwa saat ini nyawa Isam terancam.
----
Up dikit dulu sebelum Hiatus✌
---
Oh ya, met puasa bestie❤
KAMU SEDANG MEMBACA
[2] Voyage ; Mark Lee
Fanfiction[SELESAI + BONUS PART] Perjalanan pasangan Mark-Jeje kesayangan kita pasca menikah. > Baca Keluarga Papa Sehun dulu sebelum membaca ini😉 start: 9 Maret 2021 finish: 8 Mei 2021 ©ayeahlee
![[2] Voyage ; Mark Lee](https://img.wattpad.com/cover/261546996-64-k224667.jpg)