; tujuh - kerja sama

54 4 0
                                        

"Jadi ini yang disebut dikasih jantung minta hati? Mau dikasih tambahan gaji malah izin tiba-tiba."

Avery mengigit bibirnya mendengar gerutuan Frada, tidak boleh terkekeh pada pribahasa yang dia bolak-balik seenaknya itu meskipun ingin, untungnya Frada tidak bisa melihat wajahnya melalui sambungan telepon. "Maaf ..." katanya.

Ini adalah kali pertama Avery meminta izin dari tempatnya bekerja.

"Ada hal mendesak apa?" tanya Frada.

"Ada yang aku harus bicarakan dengan seseorang," ucap Avery, mengintip Orion dari balik dinding kaca yang memisahkan bagian dalam Rooftop Cafe di Hotel Adeliade dengan teras. Barusan dia memang meminta waktu untuk mengabari tempatnya bekerja. "Kau tahu, bisa dibilang teman lama."

Tidak salah kan, Orion memang teman lamanya.

Melalui sudut matanya, dia bisa melihat Orion saat ini sedang sibuk dengan tablet sembari menunggu Avery di salah satu meja. Asisten pribadi yang berjalan bersamanya tadi sudah diminta untuk memberi mereka waktu berdua. Dan berbicara mengenai penampilan, Orion masih terlihat berkarisma meskipun sudah menanggalkan jas khaki miliknya dan menyisakan kemeja putih.

"Mantan pacar?"

"Frada!"

Dia bisa mendengar Frada terkekeh lebar dari balik sambungan telepon.

"Memangnya sepenting itu ya?"

Avery mengulum bibirnya, dia sendiri tidak tahu hal penting apa yang ingin dibicarakan hingga membuat Orion menahannya beberapa saat lalu, padahal Avery sudah berkata bahwa dia masih punya pekerjaan yang harus diselesaikannya.

Walaupun begitu, dia kenal baik bahwa sejak kecil pun Orion bukan sejenis orang yang senang berbasa basi dan cenderung tidak suka membahas hal-hal pribadi jika tidak perlu.

"Maaf, Frada," kata Avery dengan nada tidak enak hati. "Tapi untuk yang satu ini aku benar-benar harus memenuhinya."

"Baiklah. Tapi kamu baik-baik saja kan?"

Sekilas, Frada terdengar khawatir dari sebrang sana. Avery berpikir bahwa mungkin Frada salah paham mendengar nada suaranya, atau karena kenyataan bahwa dirinya bukan seorang yang akan meminta izin secara dadakan seperti ini.

"Tentu." Avery cepat-cepat mengubah intonasinya dengan ceria. "Aku janji besok akan lebih awal dan mengerjakan pesanan-pesanan itu."

"Janji?"

"Janji."

***

Avery masuk kembali ke bagian dalam rooftop hotel setelah memutuskan sambungan teleponnya, lantas duduk di single sofa yang berada di depan Orion.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Kak," ucap Avery, merasa kembali canggung sehingga dia bahkan tidak bisa bersandar di sofa.

Orion dengan cepat mengalihkan pandangannya dari layar tablet ketika menyadari kehadiran Avery, meninggalkan pekerjaan yang dicicilnya selama menunggu gadis itu. Dalih membalas Avery, Orion malah mengerutkan kening dalam-dalam. "Kak?"

Avery ikut menautkan keningnya dengan bingung, tanpa sadar dia lagi-lagi sudah memilin rok hitamnya dengan jari jemarinya. Karena Orion saja tadi memanggilnya dengan sebutan 'Dek', dia jadi merasa berkewajiban untuk memanggilnya dengan panggilan yang setara.

"Lantas ... Pak?"

"Yang benar saja."

"Sir?"

"Kamu mau jadi asisten saya?"

"Mas ...?"

Orion mau tidak mau tertawa lepas. "Ayolah, cukup panggil Orion. Aneh sekali mendengar kamu sekarang jadi memanggil saya dengan embel-embel."

(ongoing) Be With YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang