Galeri seni yang ditulis Nara dalam undangannya itu terletak di pesisir kota, tempat itu merupakan sebuah properti minimalis yang berdiri cantik di tengah-tengah lapangan rumput hijau yang luas, juga sungai yang mengalir di belakangnya.
Sekilas, galeri seni itu tampak seperti utopia, tempat yang menyegarkan untuk melepaskan diri dari padatnya ibukota.
Mengingat ini adalah hari dimana pameran diselenggarakan, banner dan karangan bunga berisikan ucapan selamat atas dibukanya galeri seni baru milik keluarga Nara dan juga selamat atas pameran tampak menenggelamkan eksterior bangunan yang terbuat dari batu alam berwarna gelap itu, membuatnya tampak meriah dan lebih berwarna.
"Aku serius, kamu tidak perlu sampai menemaniku," tutur Avery ketika baru saja turun dari mobil rubicon berwarna abu metalik milik Evan, melompat turun lebih tepatnya, karena mobil itu tinggi sekali. "Aku tidak suka berhutang budi."
Evanㅡatau bisa disebut satu-satunya teman semasa sekolah menengahnya yang tersisa ketika masih bersekolah swasta elitㅡtidak menghiraukan perkataan Avery dan malah berjalan bersisian dengannya setelah mengunci mobil dan memastikannya parkir dalam posisi baik. "Ayolah, jangan merasa tidak enak seperti itu."
"Kamu memangnya tidak sibuk?"
"Project film yang pernah kuceritakan di awal tahun itu baru saja selesai," kata Evan. "Jadi, yeah, aku sedang sangat free."
Evan adalah seorang sutradara muda. Dia sempat bersekolah di Australia dan menjadi asisten untuk film-film indie dan juga yang diangkat ke layar lebar, yang mana karirnya saat itu cukup baik, sehingga dia bisa berada di posisinya yang sekarang, meski Evan sempat berkata pada Avery bahwa dia belum sukses jika belum memenangkan penghargaan.
Hubungannya dengan Evan saat ini sebenarnya lebih bisa dijelaskan sebagai rekan kerja, mereka melakukan semacam simbiosis mutualisme, dimana Avery selalu diminta untuk menjadi rekannya saat menghadiri sebuah acara atau premiere filmㅡmengingat laki-laki itu terlalu idealis dan malas terjebak dalam hubungan lawan jenis yang tidak pentingㅡdan Avery tentu saja akan mendapatkan penghasilan yang terkadang cukup untuk menutupi beberapa kebutuhannya dan juga kebutuhan rumah sakit Violet.
Jadi, Avery tidak bisa mengatakan bahwa Evan yang menemaninya hari ini adalah hal yang wajar, karena pertemanan mereka tidak seperti itu.
"Kurasa kamu harus lebih banyak belajar menikmati waktu libur di rumah," timpal Avery, sedikit bergurau sembari berdiri diantara karangan-karangan bunga yang berada tepat di depan pintu masuk, sedang mengantri untuk melakukan beberapa pengecekan oleh security.
"Percayalah, rasanya selalu hampa setiap kali proses pembuatan film berakhir, seperti semua kesenanganmu juga ikut berakhir," keluh Evan. "Lalu aku teringat masih memiliki teman yang selalu bisa mengalihkan pikiranku." Kontras suaranya yang muram kemudian ceria terdengar sangat jelas.
Laki-laki itu memang datang ketika Avery baru saja menyelesaikan pekerjaannya di toko kue milik Frada, menawarkan tumpangan pulang ketika Avery sebenarnya bersiap untuk pergi ke pameran karena dia sudah berjanji pada teman kuliah yang tidak sengaja ditemuinya hampir sebulan yang lalu.
Awalnya Avery ingin mengabaikan pameran itu, tidak berniat menambahkan garam di atas dirinya yang terluka karena masih memimpikan hidup sebagai seorang seniman, tetapi gagasan pulang ke apartemen dan tidak melakukan apapun juga tidak menyenangkan. Dan Avery pikir keputusannya saat ini sudah tepat karena pada akhirnya dia tidak perlu repot-repot menjelaskan mengapa dia sekarang tinggal di apartemen super elit itu pada Evan. Rasanya dia belum siap mengumumkan pernikahan pura-puranya pada siapapun.
"Dan aku penasaran, karena tampaknya ada yang berbeda dari kamu dan auramu hari ini?" Evan terdengar antusias ketika mengutarakan pendapatnya pada penampilan Avery hari ini, yang bisa dibilang seperti sebuah keajaiban. "Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kamu memakai pakaian berwarna cerah. Mungkin ketika kamu baru masuk kuliah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
(ongoing) Be With You
RomanceOrion, jika aku mengatakan padamu bahwa ada hantu di dalam lemarimu, apakah kamu akan percaya? ↪ Ternyata dia memang masih ada di dunia ini, seseorang yang saya bunuh. Avery, jika aku mengatakan padamu bahwa ada hantu di dalam lemarimu, apakah kamu...
