Orion, jika aku mengatakan padamu bahwa ada hantu di dalam lemarimu, apakah kamu akan percaya?
↪ Ternyata dia memang masih ada di dunia ini, seseorang yang saya bunuh.
Avery, jika aku mengatakan padamu bahwa ada hantu di dalam lemarimu, apakah kamu...
Avery sedang duduk di halte kampus saat itu, menunggu angkutan umum dengan rute yang melewati rumahnya, ketika tiba-tiba saja dia mendengar sapaan seseorang.
"Eh, Nara?" sapanya, setengah terkejut bertemu dengan teman satu angkatannya.
Padahal dia sengaja memilih waktu untuk mengurus surat cuti di sore hari menjelang akhir pekan, agar dia tidak perlu bertemu dengan siapapun yang mungkin dikenalnya.
Avery menyinggungkan senyumnya pada gadis yang anggun dengan one-piece dress berwarna merah marun yang dibalut oleh kardigan, membuat Avery ingin membenamkan dirinya sendiri di dalam jaket hitam kebesaran yang dikenakannya. "Baru pulang kuliah?"
"Nggak dong, aku udah lulus," kata Nara, wajahnya tampak berbinar ketika membahas kelulusan. Menjelaskan pakaian cantik yang dia kenakan. "Tadi aku baru mengumpulkan persyaratan yudisium."
Avery terpana, tidak menyangka bahwa teman kuliahnya akan lulus secepat ini, kemudian teringat bahwa dia sendiri saat itu mengambil cuti di semester-semester akhir.
"Benarkah?! Aku tidak menyangka akan tersalip oleh rivalku sendiri," canda Avery, membuat keduanya terkekeh ringan.
Mereka berdua sering disebut rival karena kemampuan Nara dan dirinya termasuk salah satu yang terbaik di angkatannya, meskipun pada akhirnya Nara lebih tertarik dengan aliran realisme-nya dan Avery yang lebih menyukai surealisme.
Avery tidak bisa untuk tidak ikut berbahagia pada pencapaian teman kelasnya.
Seandainya tidak cuti, mereka hari ini pasti sedang mengurus kelulusan bersama.
"Kamu juga harus menyusulku untuk lulus secepatnya," kata Nara dengan riang.
Entahlah, sepertinya aku tidak lanjut kuliah.
"Secepatnya," ujar Avery dengan nada yakin, tidak ingin merusak suasana, meskipun hatinya meronta karena dia sekarang menjadi semakin tertekan.
Kapan punya jodoh, kapan lulus. Kenapa orang-orang di sekitarnya bisa mengungkit topik sensitif dengan seringan itu.
Bisa-bisa tubuhnya semakin pendek karena terlalu banyak tertekan.
"Ah, iya, mumpung kita bertemu." Nara mengaduk slingbag miliknya, mencari-cari sesuatu, kemudian memberikannya pada Avery. "Untukmu."
"Pameran lukisanmu?" Avery memastikan setelah membaca dengan hati-hati sebuah undangan yang tampak mewah dengan desain minimalis.
"Keluarga, lebih tepatnya," koreksi Nara. Dia memang terlahir di tengah-tengah keluarga seniman, orangtuanya memiliki galeri seni yang cukup dikenal. "Meskipun lukisanku belum bisa disebut mahakarya, tapi aku harap kamu datang."
"Tentu saja, akan aku usahakan," katanya jujur, kemudian dengan cepat berpamitan pada Nara karena bus kota yang ditunggunya sudah datang.
Di dalam bus, Avery menatap muram undangan yang ada di tangannya, berjanji tidak ingin menyalahkan siapapun atas kehidupannya, dia menjejalkan benda itu pada bagian saku jaketnya yang paling dalam.
Tidak ada waktu untuk memikirkan perasaannya sendiri.
***
Sudah satu tahun lebih semenjak kakaknya terbaring koma setelah kecelakaan, kini rumah sakit seakan menjadi rumah keduanya, atau bahkan rumah pertama dan utama, mengingat mamanya sama sekali tidak ingin meninggalkan Violet barang sehari.
Bau pembersih ruangan yang menyengat hidung, dinding putih yang menyesakkan, dan bisingnya suara monitor detak jantung sudah menjadi santapan sehari-hari Avery.
"Tagihan bulanan rumah sakit sudah keluar."
Lestari memberikan slip berlogokan rumah sakit tempatnya berada saat ini. Bahasan mengenai pembayaran rumah sakit tidak pernah luput dari percakapan mereka berdua, seakan itu adalah bahasan sehari-hari yang normal diantara keluarga.
Avery mengulum bibirnya melihat tagihan yang semakin lama semakin membengkak, dia tidak terkejut. Penanganan bagi seseorang yang koma untuk waktu yang lama juga tidak sesederhana itu, begitu pula dengan obat-obatan yang diberikan.
Lagi-lagi dia harus mengikis tabungan pribadinya.
"Kamu sudah punya uang untuk membayarnya?"
Avery mengangguk. "Aku akan membayarnya akhir bulan nanti, setelah mendapat gaji."
"Baguslah."
Lestari kembali sibuk membersihkan anak sulungnya dengan waslap yang telah dibasahi air, kegiatan itu dilakukannya hampir setiap hari, menjaga agar Violet tetap bisa tetap terhidrasi dan bersih ketika dia bangun nanti, terkadang dia juga lah yang menggunting kuku dan rambut anaknya.
Ruangan kembali terasa hening, hanya terdengar suara monitor dengan nada statis.
Sudah. Hanya seperti itu. Selama ini, tidak pernah ada hal lain yang bisa mereka bicarakan. Jika dipikir-pikir, di mata mamanya mungkin dia hanya sebatas mesin pencetak uang yang ditugaskan untuk menyelamatkan anak tunggalnya.
Detik demi detik berjalan dengan begitu lambat, rasanya selalu seperti ini setiap kali Avery mampir di rumah sakit, selain itu masih ada dua jam lagi sebelum salah satu pekerjaan sambilannya di restoran dimulai.
Dia mengetuk-etuk pelan sepatu converse yang putihnya sudah mulai lusuh itu di atas lantai, juga memilin rok linen yang dikenakannya dengan kikuk.
"Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Avery, ingin cepat-cepat membebaskan diri dari rasa canggung diantara keduanya.
Hubungan antar mereka berdua memang tidak bisa dibilang dekat sejak dulu. Dan akan tetap seperti itu jika Violet tidak terbaring koma.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin Mama bicarakan."
Tidak seperti biasanya, Lestari menahan Avery untuk pulang. Dan entah mengapa hal itu membuat perasaan Avery tidak enak.
. . .
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.