; empat - ancaman

59 3 0
                                        

Kakek akan menjual Hotel Adeliade kalau kamu tidak pulang sekarang juga.

Satu kalimat yang dilontarkan Hamid Atmawijaya itu sukses membuat Orion meninggalkan seluruh pekerjaannya di Prancis dan pulang dengan cepat. Kakek benar-benar mengetahui celahnya secara tepat.

Alhasil, perjalanan sejauh kurang lebih dua puluh jam dari Prancis itu mau tidak mau ditempuhnya dengan penuh keterpaksaan. Perbedaan zona waktu dan perbedaan yang ekstrim dari musim dingin di Prancis menuju iklim tropis yang panas membuat tubuhnya harus beradaptasi dengan cepat, dan tidak ada yang menyenangkan dari jet lag.

"Sial," rutuknya.

Orion mengerahkan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya untuk merebahkan diri di atas kasur, dia tidak bisa berhenti memijat keningnya yang terasa kebas.

"Bang Yon kapan sampe?"

Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Orion menoleh ke arah pintu kamar, lantas menemukan Yoga sudah berdiri di sana, dengan pakaian kerjanya yang masih lengkap.

"Satu atau dua jam yang lalu," ucap Orion asal pada sepupu yang sudah dianggapnya adik sendiri. "Kamu nggak ngantor?"

"Kakek secara khusus meliburkan gue dari kantor biar bisa jemput anak rantaunya di bandara, tau-tau lo udah dijemput Celiné aja," ungkap Yoga sembari berdecak malas, tidak terima dirinya sama sekali tidak mendapat kabar dan dengan santai menunggu di bandara.

"Sori, lupa ngabarin." Aku Orion, benar-benar merasa bersalah.

"Seisi internet sekarang lagi rame bahas hubungan antara lo sama Celiné."

Keningnya kembali berdenyut ketika mendengar dirinya ikut terseret dalam berita karena popularitas Celiné. Memikirkan orang-orang mengorek dan berasumsi mengenai dirinya, membawa kembali masa lalu yang sudah ditekannya ke permukaan, membuatnya kembali menyesali keputusannya untuk pulang.

Orion sendiri terkejut ketika gadis itu sudah menunggunya di pintu kedatangan, menyapanya dengan akrab seakan dia memang sudah seharusnya menjadi orang yang menjemput Orion. Tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran gadis itu untuk mengantarnya pulang.

Padahal Orion tidak mengabari sama sekali tentang kepulangannya pada siapapun selain Kakeknya dan Yoga, terlebih, kepulangannya kali ini benar-benar mendadak.

Tidak ingin bahasan itu semakin jauh, Orion memutar otak untuk mengalihkan pembicaraan. "Gimana kabarnya calon penerus Atmawijaya?" tanya Orion, setengah bergurau.

"Nggak liat gue udah menua sepuluh tahun semenjak kakek pindah tanganin satu per satu tugasnya ke gue? Lupain aja jadi penerus, gue kayaknya bakal mati muda," cerocos Yoga tanpa henti, sejak dulu laki-laki itu memang bisa dengan mudah memuntahkan seluruh isi kepalanya. "Gara-gara Bang Yon, nih. Harusnya kan lo yang nerusin."

Orion terkekeh mendengar gerutuan Yoga. Orion memang sudah mengatakan secara resmi untuk tidak mau menjabat sebagai penerus Kakeknya saat itu, dia lebih memilih untuk menjalankan perusahaannya di Prancis. Alhasil, mau tidak mau Atmawijaya harus dilanjutkan oleh Yoga, jika ingin Group itu tetap dipegang oleh keluarga.

Setidaknya keputusan itu sudah sukses menyegel Yoga dari kelakuan buruknya, hingga dia tidak punya banyak tenaga untuk kembali nongkrong-nongkrong di bar atau mencari masalah dengan pihak kepolisian.

"Sepertinya kita berdua memang terlahir untuk menjadi budak Kakek."

Yoga tertawa lepas, masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa dengan santai. "Kakek ngancem Bang Yon pake apa kali ini?"

"Menjual Hotel Adelaide."

Pria tua itu tau seberapa besar makna Hotel Adeliade bagi Orion. Di dalam sana, seluruh sisa-sisa kenangan yang berharga baginya tersimpan, dan dia rela menyerahkan apapun termasuk saham perusahaannya di Prancis agar Hotel tetap berdiri.

(ongoing) Be With YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang