; sembilan - mimpi buruk

49 4 0
                                        

"Besok akan ada jadwal meeting, apakah Anda ingin menghadirinya sendiri?" tanya Wira.

Orion mengerutkan keningnya, tidak benar-benar mendengarkan. Pria itu masih sibuk membaca dan menandatangani berkas-berkas yang membutuhkan persetujuannya, dimana biasanya dia hanya bekerja dari balik tabletnya. Meskipun kini dia tetap harus bekerja juga dari balik tabletnya untuk mengurus perusahaan di Prancis.

Orion sadar sudah lama tidak bekerja secara langsung seperti ini di Hotel Adeliade, terakhir kali mungkin ketika dia baru keluar dari bangku kuliah. Hingga saat ini pun, duduk di balik ruang CEO masih mengingatkannya pada masa ketika sang papa masih hidup, padahal dia belum genap sepuluh tahun saat itu.

Berhubung dia akan berada di Indonesia untuk beberapa waktu, tidak ada salahnya untuk pergi kerja dan menyibukkan diri di kantor, dibanding harus dihantui Kakeknya yang pasti akan mengajak Orion pergi memancing.

"Ya, tolong kirimkan bahan-bahan meeting-nya nanti malam," kata Orion, meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah dia menumpuk berkas terakhir yang telah diberikan persetujuan.

Wira mengangguk mantap, mengotak atik tablet miliknya sendiri untuk meneruskan jadwal kepada sekertaris Orion. "Baik, Sir." 

"Tidak ada lagi?" tanya Orion.

"Sudah, sepertinya hanya itu," ucapnya dengan yakin, seakan terbawa kebiasaan Orion, pria itu juga terbiasa untuk tidak berbasa-basi terlalu lama. "Kalau begitu saya pamit."

Wira kembali membawa seluruh berkas yang diangkutnya tadi setelah memastikan Orion benar-benar selesai mengeceknya.

"Ah, ngomong-ngomong," kata Orion, langsung menahan langkah Wira yang akan pergi. "Terimakasih. Berkat kamu saya sekarang jadi punya tempat tinggal sendiri," sarkasnya, menyindir perbuatan Wira yang seenaknya melaporkan perihal pembatalan pulangnya kepada kakek tanpa koordinasi.

"Sama-sama, Sir," balas Wira tanpa rasa berdosa, malah mengulas senyum dengan sopan. "Setidaknya anda jadi tidak perlu menginap di hotel," tambahnya dengan perhatian yang terdengar menyebalkan, tahu betul kalau Orion tidak pernah menginap di rumah kakeknya lagi meskipun selalu makan malam bersama.

"Kau ... pergilah." Orion mengurut kepala kemudian mengayunkan tangannya malas, mengusir asisten pribadinya yang semakin lama bekerja dengannya menjadi semakin menyebalkan itu.

Sesuai titah, kali ini Wira benar-benar pergi dari kantor Orion, takut membangunkan macan yang tertidur.

Orion sudah mengenakan jasnya, siap untuk pulang ketika dia mendengar sekertarisnya mengetuk dan membuka pintu. "Sir, Nona Clairé sedang menunggu di luar, apakah boleh saya izinkan masuk?"

"Sedang apa dia disini?" Orion menaikkan sebelah alisnya dan dengan mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Meskipun sudah waktunya pulang, dia mendadak mengurungkan niatnya untuk pulang dan kembali duduk di balik mejanya. "Suruh dia masuk."

"Kamu pulang saja tidak apa-apa," tambah Orion pada sekertarisnya sebelum dia kembali menutup pintu.

Clairé masuk ke dalam kantornya tidak lama setelah Orion memberinya izin. Dari suara heels dan juga off shoulder dress-nya yang terlihat berkelas, terlihat jelas bahwa gadis itu baru selesai syuting atau mengikuti sebuah acara di televisi. Dan yang paling penting, sama seperti kebanyakan aktris, parasnya yang menawan itu tidak memudar meskipun hari sudah berganti malam.

Gadis itu pasti sudah membuat kehebohan di kantornya jika datang di jam kerja, memancing berpasang-pasang mata untuk mengaguminya. Sayangnya itu bukan hal baru bagi Orion, jadi dia tidak banyak terpengaruh.

(ongoing) Be With YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang