-Alicia-
Demamku belum juga turun. Bibi Roewi sesekali masuk kamar, mengompres, menyuapiku makan, dan membantuku minum obat. Setelah itu kembali pergi atas permintaanku. Dokter Reed baru saja pulang. Dia bilang kalau keadaanku sangat memprihatinkan. Aku butuh pemeriksaan lebih lanjut.
Dia salah. Aku tidak butuh dokter, aku tidak butuh perawatan rumah sakit, dan aku tidak butuh obat. Aku tidak butuh itu semua.
Gena juga baru saja pulang. Dia begitu lelah. Aku sangat memaklumi keadaannya. Dia sendiri juga sedang parah. Baru saja kehilangan orang yang dia anggap sahabat, Rebecca. Diduakan oleh Xander. Belum lagi menyelesaikan tugasnya sebagai jurnalis majalah sekolah yang membutuhkan profesionalisme. Kalau aku jadi dia, tidak tahu harus bagaimana. Atau mungkin, aku sudah gila.
Aku berdiri, menyeret kursi ke tepi jendela dan duduk di sana. Tanganku mendorong jendela lebar-lebar. Angin malam masuk dan menusuk-nusuk kulit. Aku merapatkan sweater yang melapisi piyama panjangku dan menatap suasana jalanan depan rumah di malam hari. Lampu-lampu terang dari mobil-mobil yang lalu lalang, tidak berhenti sejak tadi.
Aku melamun. Pikiranku melayang ke kejadian enam bulan lalu. Saat Ayah mengajakku naik Kapal Pesiar Poseidon selama dua minggu. Liburan panjang musim panas. Rekreasi sekaligus perjalanan bisnis yang menyenangkan bagi ayah dan bagiku pada awalnya, tapi tidak setelah itu.
# #
Aku tiba di buritan kapal. Pemandangan laut biru dengan ikan-ikan yang melompat, burung-burung camar serta pelikan beterbangan, membuatku terhibur. Cukup menghilangkan rasa kesal di hati karena ayah lebih memilih sarapan bersama teman bisnis daripada putrinya sendiri. Alicia yang kembali ditinggalkan oleh ayahnya.
Di sekitarku pun banyak remaja dan orang dewasa yang berpakaian minim. Apa mereka baru saja dari kolam renang? Aku menoleh kesana-kemari. Benar saja, tak jauh di depan sana terlihat orang-orang yang sedang berendam. Ada juga yang berjemur di sun deck. Sepertinya aku harus lebih sering menjelajahi kapal ini. Liburan masih panjang dan rugi bila hanya bermalas-malasan di kamar.
Aku kembali menatap lurus ke laut. Pemandangan indah dan langit yang cerah. Tampak burung-burung pelikan mengawasi lautan, tempat di mana ikan berlompatan. Sesekali terbang merendah untuk menangkap mangsa dengan paruh berkantungnya. Aku refleks bertepuk tangan saat menyaksikan kejadian alam itu. Jarang-jarang bisa melihat langsung yang seperti ini.
Aku semakin terpana dan menyamankan posisi sambil melipat kedua tangan pada pegangan besi di sepanjang tepi buritan. Melihat lebih jelas, apa yang selanjutnya dilakukan pelikan lain melihat temannya berhasil menangkap ikan tadi, tapi...
Brum! Brum! Brum!
Beberapa motor boat yang melintas di sebelah kapal pesiar, menggagalkan kegiatan burung-burung pelikan.
Siapa mereka? Mengganggu kesenangan saja! Aku melihat ke arah motor-motor boat itu. Di salah satunya-tepat di bagian belakang- terpasang tali dan seorang pemuda berdiri di atas wakeboard sambil berpegangan pada tali itu. Sementara motor boat lainnya sudah menjauh, bergerak memutari kapal. Mereka berkejaran di tengah laut.
"Rasakan ini, Tristan!" Teriak si pengemudi motor boat pada kawannya yang berselancar di belakang.
Si peselancar yang memakai life jacket, terpelanting kesana kemari mengikuti arus yang dibuat motor boat. Tangannya kuat memegang tali. Kakinya tetap berdiri mantap di atas wakeboard. Orang-orang di sekitarku berkumpul di sepanjang tepian buritan untuk melihat aksi mereka.
"Hanya itu kemampuanmu, Jared!?" Teriak peselancar sambil meliukkan badannya lihai menghindari cipratan air. Dia bertelanjang dada di balik life jacket-nya sehingga aku bisa lihat lengan atasnya tertutup tato sayap.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAVELOGUE
ChickLitAku Alicia. Seorang gadis yang memilih untuk tak terlibat akan apapun. Namun, kenyataan berkata sebaliknya. Mengapa aku bisa seperti ini? Kalian tak akan mengerti sebelum mengetahui kisahku. (Alicia, 17 tahun) Aku Jared. Pemuda yang semula begitu...
