18.00
19 Oktober 2015
Dua pria sedang duduk di ruang interogasi.
"Sam, kau yakin dengan semua ini?"
"Ya, aku sangat yakin. Cepatlah, sebelum Wina dan anaknya datang."
"Vincent tolong bawa kemari tali itu, kita harus mengikat kaki dan tangannya."
"Pastikan kalian merekam dan mengunggahnya dengan benar. Agar Okan terpancing. Dan Bram, terima kasih. Kau memang saudara terbaik," puji Sam.
"Juga ahli bedah plastik yang baik bukan?" Bram tersenyum.
"Ya, tidak kusangka pemalsuan kematianku berhasil. Bahkan sekolah bodoh itu menerimaku menjadi guru."
"Sam, oh maksudku Syamsul, ingat aku tetap tidak percaya penuh padamu. Tapi sungguh, aktingmu bagus sekali. Rasanya ambisimu tertuang jelas dalam kemahiranmu memerankan si guru sejarah."
"Ini demi kehancuran kelompok Rareja, dan demi mindroom yang tidak lama lagi akan kukuasai."
"Aku hanya peduli pada uang, Sam. Aku hanya peduli pada uang."
"Kau akan memperoleh semua uang yang kau inginkan, Bram."
***
19.00
19 Oktober 2015
Wina dan anaknya memasuki gedung.
"Apa Sam datang kali ini? Aku belum pernah bertemu dengannya. Melihat mukanya adalah hal pertama yang ingin kulakukan hari ini. Aneh jika aku tidak mengenal siapa yang mempekerjakanku," tanya Wina yang sedang mempersilakan anaknya duduk.
"Ia akan datang. Apalagi ini adalah momen yang paling penting baginya," Vincent mencoba menjelaskan.
Bram keluar dari ruang interogasi dengan senyum lebar.
"Hai Wina, anakmu bisa diandalkan?"
"Tentu, Bram."
"Apa dia masih butuh seorang ayah?" Bram memandangi anak itu.
"Jangan macam-macam, Bram."
"Ya, hantu suamimu akan membunuhku, begitu?"
Wina menunjuki muka Bram, membuat Bram terdiam sesaat lalu tersenyum lagi.
Wina memperhatikan pria dalam ruang interogasi. Membuatnya penasaran.
"Diakah teman dekat Okan yang Sam maksudkan di telepon?"
"Ya, si guru sejarah. Dan hari ini akan kubuat dia babak belur. Cukup meyakinkan Okan untuk keluar dari persembunyiannya yang nyaman. Cepat mulai perekamannya."
Bram masuk ke ruang interogasi dan mulai menanyai Syamsul. Ia berkali-kali menampar, memukuli, menendang Syamsul.
Bram sudah sering memukuli saudaranya sendiri sejak kecil, sebagai bentuk pelampiasan jika dimarahi ibunya. Dan Sam, adiknya, sudah terlalu kebal. Sam menganggap rasa sakit adalah teman. Ia tumbuh dewasa dengan didikan keras dari rasa sakit.
Di ruangan itu, hanya Wina dan Sultan yang tidak tahu identitas asli Sam.
***
19.47
19 Oktober 2015
Sultan baru saja selesai membayar makanannya saat Okan tiba di atap gedung. Dengan cekatan Okan perlahan menuruni pipa besi hingga sampai di depan pintu. Penglihatan malam diaktifkan. Matanya mengeluarkan sedikit cahaya merah dari pemancar inframerah di piranti penglihatan malamnya. Ia kemudian melihat masuk melalui celah pintu dan mengamati kondisi di dalam ruangan yang remang-remang.
"Mengapa mereka hanya bertiga? Bahkan sepertinya mereka tidak punya senjata. Aku harus bisa melumpuhkan mereka lalu membawa Syamsul pergi dari sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
MINDROOM [TAMAT]
Science Fiction[PEMENANG WATTYS 2017] BUKU PERTAMA MIND TRILOGY Okan, guru Seni Rupa SMA yang hobi menabung koin ke dalam lubang yang berada di dalam dinding, menemukan salah satu dari koin koleksinya adalah kunci masuk ke dalam mindroom, ruang yang bisa dikendali...
![MINDROOM [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/33494085-64-k233318.jpg)