Partikel-partikel putih mindroom perlahan membentuk sebuah ruangan kecil lengkap dengan berbagai perabotan yang tak biasa. Temboknya dibuat membulat, hampir tak ada sudut tajam pada bidang ciptaannya. Ia sudah menyelesaikan hampir semua bagian dan sedikit lagi Okan akan menyelesaikan pintu keluarnya.
"Selesai." Ia kelelahan karena terlalu lama berkonsentrasi. Luxon memberinya segelas air putih.
"Jadi, kau membuat mesin waktu dengan lokasi yang bisa diatur."
"Benar. Aku mengingatnya dari sebuah film. Ruangan ini punya dua pintu. Yang satu..."
"Aku tahu. Aku punya data film itu. Saranku kau perlu penyamaran, Okan. Mereka tampak berbahaya."
"Jelaskan penyamaran yang kau maksud." Okan mengerutkan dahinya. Merasa kalau Luxon sedang mencoba menjadi lebih pintar darinya.
"Buatlah pakaian dengan kemampuan khusus untuk menyamarkan tampilan luarmu."
"Apa seperti pakaian astronot?"
"Hanya saja desainnya lebih sederhana. Lebih tipis."
"Lalu, bagaimana aku dapat menggunakannya di luar mindroom? Aku akan kehilangan kendali atas ciptaan dalam mindroom yang kubawa ke luar bukan?"
"Tidak juga."
Luxon menunjukkan draft purwarupa teknologi pakaian kamuflase dari tim peneliti nanoteknologi di Universitas Matahari.
"Ini masih purwarupa. Tapi, setelah melihat mesin waktu buatanmu itu, membuat pakaian ini tentu bukan hal yang sulit bagi otakmu. Dengan memasukkan data tiga dimensi manusia pada sistem penyimpanan pakaian itu, kau bisa menyamar menjadi siapa saja."
"Baiklah akan kucoba. Ini keuntungan menjadi mahasiswa seni rupa. Imajinasi dan kreativitas visualmu terlatih setiap hari. Tapi dari mana kau dapatkan data tiga dimensi manusia?"
"Pembuat game memiliki perangkat lunak sculpting untuk menyempurnakan karakter tiga dimensi mereka. Aku juga bisa mendapatkan data detail wajah, warna rambut, dan ciri khusus lainnya dari foto kartu identitas dan profil media sosial. Tinggal disesuaikan dan benda ini siap digunakan."
"Mengesankan."
Okan mulai membuat pakaian kamuflase dari partikel mindroom, yakni pakaian berwarna putih dengan tambahan penyimpanan data berupa gelang tipis pada bagian tangannya. Partikel mindroom mengikuti imajinasinya yang kacau. Ia mengulanginya hingga tiga kali karena tidak puas dengan hasilnya.
"Sudah jadi, Luxon." Okan meraba dan mengusap pakaian kamuflase yang ia letakkan di atas meja.
"Sekarang kita masukkan datanya. Okan, aku juga butuh fungsi transfer data."
Okan membuat tangan Luxon memiliki fungsi transfer data untuk semua tipe konektivitas. Ia bahkan menambahkan opsi konektivitas nirkabel.
Luxon memandangi proses penciptaan dengan serius. "Kau ingin data orang Indonesia saja?"
"Tambahkan data semua manusia yang kau punya."
Luxon terlihat bingung. Namun, ia tetap melakukan perintah Okan.
"Baiklah. Data sudah selesai kutransfer. Sebaiknya kau meningkatkan kapasitas penyimpanan gelang itu. Kapasitasnya hanya 900 terabyte. Data tiga dimensi tadi sudah memakai hampir sembilan puluh persen dari total kapasitasnya."
"Ehm, apa nama satuan byte tertinggi?"
"Untuk saat ini exabyte," kata Luxon yakin.
Okan kembali berkonsentrasi. Ia membayangkan ratusan penyimpanan data berukuran nanoskopik memenuhi gelang data tersebut.
"Baiklah kurasa 10 exabyte sudah cukup. Untung saja baju ini memakai teknologi nano."
"Bagus. Tak perlu khawatir soal kapasitas lagi."
Okan masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya. Ia ingin memberikan sentuhan 'normal' pada hidupnya di dalam mindroom. Ia sadar terlalu bergantung pada mindroom akan membuatnya malas bergerak.
Okan memperhatikan lukisan grotesque kera hitam sedih yang belum selesai di kamarnya. Sebuah ide terlintas, dan ia segera keluar kamar.
"Luxon tambahkan data seluruh hewan vertebrata pada pakaian itu."
"Seluruhnya? Baiklah."
"Bisa kau buat semua data hewan itu memiliki opsi antropomorfis?"
"Jadi kau ingin membuat hewan dengan postur tubuh lebih mirip manusia?"
"Ya, aku tak tahu kapan membutuhkannya. Dalam hal-hal tententu, hewan-hewan punya kelebihan. Tapi aku tetap memilih berjalan dengan dua kaki."
"Baik. Ada lagi yang ingin ditambahkan?"
"Hmmm, tambahkan kemampuan penglihatan malam dan tambahkan opsi modifikasi ukuran tubuh."
"Segera."
Luxon telah menyelesaikan transfer data. Okan tak lupa menambahkan ruang khusus untuk menyimpan koin merahnya.
Ia segera memakai pakaian kamuflasenya dan memilih data melalui tampilan grafis menu pengaturan pada gelangnya. Ia memilih kera hitam Sulawesi dengan opsi antropomorfis dan modifikasi ukuran tubuh lebih besar.
Mula-mula pakaian itu mengubah wajah Okan menjadi seperti kera. Tubuhnya juga ikut berubah tetapi masih seperti kera tanpa bulu. Tangan Okan membesar dan menjadi lebih panjang. Kemudian rambut hitam kasar mulai bermunculan di permukaan pakaian kamuflase itu dan makin lama makin menebal.
Pakaian kamuflase berhasil mengubah penampilan Okan menjadi sesosok kera hitam dengan postur tegak setinggi 175 cm. Dilengkapi dengan kemampuan penglihatan malam yang belum diaktifkan.
Okan menatap wujudnya di cermin. Ia terkesima.
"Kera hitam, kau bukan lagi simbol kesedihanku. Tapi simbol perubahan hidupku."
Okan melangkah masuk ke dalam mesin waktu. Ia mengatur tanggal serta lokasi tempat Pak Syamsul berada di peta hologram dan menggeser lokasinya agar dia bisa tiba tepat di atap gedung. Ia tidak mau berhadapan langsung dengan para penjahat. Lalu, setelah selesai memasukkan data, Okan bersiap-siap di pintu keluar. Ia nampak tegang.
Pada layar monitor mesin itu muncul kalimat:
TIME TRAVEL SUCCEED
Okan merenung sesaat demi mengumpulkan keberanian. Ia menarik napas panjang lalu menekan tombol "EXIT".
"Luxon, aku segera kembali."
KAMU SEDANG MEMBACA
MINDROOM [TAMAT]
Science Fiction[PEMENANG WATTYS 2017] BUKU PERTAMA MIND TRILOGY Okan, guru Seni Rupa SMA yang hobi menabung koin ke dalam lubang yang berada di dalam dinding, menemukan salah satu dari koin koleksinya adalah kunci masuk ke dalam mindroom, ruang yang bisa dikendali...
![MINDROOM [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/33494085-64-k233318.jpg)