Part 18 Selamat Datang

11.3K 1.6K 106
                                        

"Mana Okan?"

"Oh, tadi sedang bicara dengan Agnus. Tampaknya cukup serius. Tapi aku tak berlama-lama memperhatikan mereka. Aku lapar." Vincent menggosok sendoknya dengan pakaiannya.

"Apa kau mendengar sedikit isi pembicaraan mereka tadi, Vincent?"

"Maaf aku berdiri cukup jauh dari mereka. Dan, Oh Tuhan, coconut custard ini sangat enak!"

"Hei, Vincent, Renata, cukup ngobrolnya. Habiskan dulu makanan kalian," bentak Alina.

Pintu terbuka. Okan berjalan masuk.

"Jangan katakan kalian menghabiskan bagianku."

"Sudah kusimpankan sepiring untukmu, Okan." Luxon menyodorkan piring kepada Okan.

"Terima kasih, Luxon. Kau baik sekali."

Okan memandang Luxon dengan berbeda kali ini. Ledakan perasaan dalam dirinya membuatnya kikuk. Ia mengambil tempat duduk di samping Luxon. Ia mulai gemetar.

"Ada apa, Okan? Kau terlihat kurang sehat."

"Tidak. Tadi aku terlalu bersemangat saat bertemu Agnus. Ia menceritakan hal yang membuat jantungku ingin melompat keluar."

"Apa itu kiasan?"

"Ya tentu saja, Luxon. Hanya kiasan."
Sial. Aku tak dapat menahan perasaanku.

"Ya kuharap jantungmu baik-baik saja, Okan."

"Oh, hampir lupa. Renata, Agnus menunggumu di lab. Katanya dia punya kejutan untukmu."

"Okan, cepat kunyah makananmu. Aku harus segera mencuci piring-piring ini," kata Alina.

"Iya, iya, sabar."

Luxon tersenyum. Ia merasakan hal yang aneh terhadap Okan sejak terbangun dari simulasi mindroom. Seakan-akan dia sudah lama mengenalnya.

***

"Anda kidal, Tuan Agnus?" Renata muncul di pintu lab.

"Oh, Renata kau membuatku kaget. Ya, aku kidal."

"Maaf. Kata Okan kau memanggilku. Ada apa?"

"Marina Zeitarnik."

"Apa itu?"

"Marina Zeitarnik. Profil tubuh dan pikiranmu."

"Nama yang sedikit aneh. Siapa dia?"

"Guru besar psikologi Eropa. Dia pernah bekerja bersama Profesor Okan dan timnya. Mereka menyalin pikiran dan profil tubuhnya. Ada satu hal yang spesial dari Marina Zeitarnik, dia punya dua kepribadian."

"Keren. Lalu apa pengaruhnya untukku?"

"Rahayu adalah kepribadianmu yang kedua. Ia sedang tidur panjang."

"Lalu bagaimana sewaktu di dalam simulasi? Aku bersamanya di dalam mindroom. Kami dua orang yang terpisah."

"Itu ilusi yang aku buat. Tapi aku menemukan cara untuk memisahkan kalian berdua di dunia nyata."

"Mari kita lakukan segera!"

"Apa kau memahami maksud perkataanku, Renata?"

"Ya. Sangat paham. Kau dapat memisahkan pikiran kami dan lab ini sanggup menciptakan tubuh baru. Tunggu apa lagi? Ayo kita buat Rahayu sekarang. Aku sangat merindukan adikku."

"Crea, sepertinya kau harus bersaing dengan Renata untuk posisi asisten laboratorium ini. Ia sangat cerdas."

"Hai, Renata." Crea melambaikan tangannya pada Renata.

MINDROOM [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang