"What's in the vault?? What's inside that damn vault, Johan? Answer me!!"
"It's nothing, my Dear... Sudahlah sayang, nanti Okan dengar."
"Jangan alihkan pembicaraan! Gara-gara brankas sialan itu, Kak Kirei seperti orang kesurupan! Sudah kubilang, jangan keluar dari pekerjaanmu, Johan. Seluruh keluargamu curiga dengan kekayaan yang kita punya. Apalagi setelah kau melakukan hal gila itu, that damn two billion charity!"
"I'm sorry, Mona. Tolonglah bantu aku kali ini saja..."
"Aku tidak mau membahayakan nyawa Okan dan Aura. Mereka harus ikut."
"Aku punya rencana lain. Okan akan kita tinggalkan di sini dan Aura akan kita titipkan pada Ira di Osaka. Aku jamin Aura aman bersama Ira. Sekarang bantu aku menutup brankas ini dengan semen. Setelah itu kita amankan koin portal yang tersisa. Bekerjasamalah denganku, kali ini aku memohon."
"Johan, aku tidak pernah menyesal menikah dengan ilmuwan gila sepertimu, tapi aku tidak pernah menyangka keluarga yang kita bangun akan terancam bahaya sebesar ini."
"Tenanglah, Mona. Setelah semua ini usai, kita akan berkumpul kembali. Aku berjanji."
***
Jam tiga pagi. Okan terbangun. Sesuatu yang selama ini disangkanya sebagai mimpi, malam ini menjadi gambaran jelas. Suatu ingatan dari masa lalu. Saat terjadi pertengkaran ayah dan ibu Okan di ruang bawah tanah, ia berdiri di pintu dan menyaksikan semuanya. Hanya saja waktu itu ia belum mengerti.
Ia kemudian bangkit dari kasurnya. Terhuyung-huyung menuju ke ruang tamu.
Okan menuju dapur dan meneguk segelas air dingin dari kulkas. Okan berpikir keras. Kenangan itu membuatnya penasaran dengan isi brankas di ruang bawah tanah.
"Sudah saatnya aku tahu apa isi brankas ini. Aku bukan anak kecil lagi," pikirnya.
Okan mengambil palu godam seberat lima kilogram dari lemari perkakas. Adrenalinnya meningkat, keberaniannya terpacu. Ia menuruni tangga ruang bawah tanah dengan cepat. Kemudian menaruh palu godam di lantai dan dengan sekuat tenaga menggeser rak sepatu besar yang berada tepat di depan tembok yang tidak disemen dengan rapi. Dengan sekali ayun, Okan merobohkan lapisan semen yang melindungi brankas itu. Yakin hantaman itu akan membangunkan tetangga, ia bergegas menuju ke ruang depan, membuka tirai sedikit dan mengintip keluar kalau-kalau ada orang yang mendekati rumahnya. Ia berdiri di sana sepuluh menit hingga dirasanya aman.
"Oke, sekarang apa? Aku tidak punya kuncinya, dan brankas baja tebal itu tidak mungkin dihancurkan dengan palu godam."
Ia memperhatikan brankas itu dengan saksama. Brankas itu diamankan dengan lempengan-lempengan besi yang dilas ke sisi-sisinya dan terhubung ke dinding. Mustahil menariknya keluar. Di bagian depan terdapat satu tombol kecil, satu sensor biometrik sidik jari, dua lampu indikator, handle pintu, dan emblem logo brankas. Sementara pada bagian atas Okan melihat empat lubang kecil mirip speaker telepon genggam.
Jari-jari Okan mulai berselancar di internet, mencari cara mudah membongkar brankas itu. Ia tak menemukan cara membuka brankas dengan kunci biometrik. Ia mencoba sidik jarinya, namun gagal. Ia lalu memberanikan diri membukanya secara paksa dengan pisau, obeng, linggis, bahkan palu godam. Hasilnya nihil.
Keringatnya mengucur deras dan alergi debunya mulai kambuh.
Dalam kondisi kelelahan dan kebingungan ia menatap empat lubang aneh pada brankas. Ia mengorek lubang itu, dan menusuknya dengan pisau. Tetapi sayangnya tidak muat.
Ia berpikir sejenak. Sebuah ide melintas di kepalanya. Garpu. Dengan segera Okan mengambil garpu dari dapur, menyesuaikan bentuk ujungnya mengikuti jarak antar lubang, dan menusuknya. Okan terdiam dan menunggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINDROOM [TAMAT]
Science Fiction[PEMENANG WATTYS 2017] BUKU PERTAMA MIND TRILOGY Okan, guru Seni Rupa SMA yang hobi menabung koin ke dalam lubang yang berada di dalam dinding, menemukan salah satu dari koin koleksinya adalah kunci masuk ke dalam mindroom, ruang yang bisa dikendali...
![MINDROOM [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/33494085-64-k233318.jpg)