Sebenarnya, Dhafira masih tak menyangka jika di usianya yang baru saja menginjak 21 tahun ini, statusnya telah berubah menjadi istri dari laki-laki yang belum ia kenal, atas perjodohan yang dilakukan oleh sang ayah. Laki-laki itu bernama Akdas Yazid...
Ini tim komen pada ke mana ya? 🙂 Jangan pada ngilang atuhh. Berhubung aku ga sabar banget pengin update, jadi ya udahlah ya. Ditunggu 1.5k votes + 2k komennya di bab ini yaw😘
Spam emot ❤️❤️❤️ dulu sini!
Btw pada curigain Prita teroooos ya🤭 Kenapa hayo? Prita kan baik😗❤️
Sebelum baca, jangan lupa follow aku di sini Agustus29 Instagram : Agustus29_ Tiktok : Agustus29_ KBM APP : Agustus29 Dreame / Innovel : Agustus29
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tetapi Dhafira masih terlelap nyaman di balik selimutnya. Akdas yang melihatnya menggeleng heran. Perempuan itu benar-benar tukang tidur. Padahal semalam Dhafira tidur jam sembilan, tetapi justru dialah yang bangun pertama kali. Walau Akdas baru tidur pukul dua dini hari.
Setelah Akdas berganti pakaian pun, Dhafira masih terlelap. Pria itu memanggil Dhafira untuk segera bangun sambil membuka pintu balkon, hingga embusan angin dari luar pun menyapa kamar mereka. Namun alih-alih terbangun, Dhafira justru semakin mengeratkan selimutnya sambil berbaring memunggungi pintu.
"Ibu kamu tukang tidur," ujarnya seraya memungut boneka jelek yang baru saja Dhafira jatuhkan saat mengubah posisi tidurnya.
Seperti biasa, Dhafira dan boneka jeleknya seakan tidak akan pernah bisa dipisahkan. Setiap malam perempuan selalu mendekapnya, dan boneka jelek itu seolah sangat nyaman dipeluk si pemilik. Meski nyaris setiap malam boneka itu akan tergeletak di lantai begitu saja, dan sepertinya Dhafira sama sekali tak pernah menyadari itu. Poor boneka jelek.
Akdas berjalan mendekat. Menyentuh lengan istrinya dengan boneka jelek yang dipegangnya sebagai perantara beberapa kali, berharap gadis itu akan bangun. "Bangun, Dhafira," panggilnya.
Dhafira hanya mengernyit dan menyingkirkan sesuatu yang menyentuh lengannya tersebut, masih dengan mata terpejam.
"Dhafira." Akdas kembali memanggilnya.
Beruntung, kali ini Dhafira langsung membuka matanya sambil menyipit. Lalu memundurkan tubuhnya saat melihat Akdas yang menjulang tinggi di depannya. "M—mas? Ngapain?"